Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Dorong Jiwa Wirausaha, Disdik Aceh Ajak Siswa SMK Berani Jualan di Car Free Day

Dorong Jiwa Wirausaha, Disdik Aceh Ajak Siswa SMK Berani Jualan di Car Free Day

Minggu, 26 April 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin sedang menjajakan produk hasik buatan siswa SMK kepada pengunjung di Car Free Day, Banda Aceh. [Foto:  Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinas Pendidikan Aceh terus mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan di kalangan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui cara yang tidak biasa.

Selama empat minggu terakhir, para siswa diajak turun langsung ke ruang publik untuk memasarkan produk mereka di kegiatan Car Free Day di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan program ini dirancang agar siswa tidak hanya mahir dalam memproduksi barang, tetapi juga memiliki keberanian dan kemampuan menjualnya ke masyarakat.

“Sudah empat minggu kami mengajak SMK, terutama di Banda Aceh dan Aceh Besar, untuk berjualan di Car Free Day. Ini dalam rangka mendorong jiwa kewirausahaan anak-anak, jadi bukan hanya mampu berproduksi tapi juga bisa menjadi bisnis,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Minggu (26/4/2026).

Menariknya, Murthalamuddin mengaku ikut terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Ia bahkan turun menjadi “sales” dan mempromosikan produk siswa melalui siaran langsung di media sosial.

“Saya langsung menjadi salah satu sales-nya dan live di media sosial. Jadi kita dorong ini bukan hanya ajang produksi, tapi juga keberanian menjual produk yang mereka hasilkan,” katanya.

Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan konsumen menjadi pembelajaran penting bagi siswa. Mereka dilatih memahami selera pasar, cara menawarkan produk, hingga membangun kepercayaan pembeli -- hal yang sering kali tidak didapatkan di ruang kelas.

Lebih jauh, program ini juga diarahkan untuk mengangkat potensi lokal Aceh. Produk yang dijual siswa didominasi oleh olahan berbasis bahan baku daerah, seperti makanan olahan ikan dan hasil pertanian lokal.

“Khususnya bahan pangan dan souvenir, kita harapkan memberi nilai tambah pada produk lokal. Misalnya kue berbasis produk lokal seperti nugget ikan, bakso ikan, dimsum ikan, juga olahan berbasis pisang,” jelasnya.

Tak hanya makanan, kreativitas siswa juga terlihat dari produk kerajinan tangan. Salah satu yang menonjol adalah souvenir berbahan dasar batok kelapa yang diolah menjadi barang bernilai jual tinggi.

Murthalamuddin menegaskan bahwa pendekatan ini penting untuk membangun perspektif baru bagi siswa tentang kekayaan sumber daya lokal yang dimiliki Aceh. Ia ingin para pelajar menyadari bahwa potensi ekonomi tidak selalu harus bergantung pada bahan baku impor.

“Intinya kita ingin memberi perspektif kepada siswa bahwa ada kekayaan lokal yang bisa mereka beri nilai tambah. Kita juga mendorong agar menghindari penggunaan bahan berbasis gandum karena itu impor,” tegasnya.

Dengan program ini, Dinas Pendidikan Aceh berharap akan lahir generasi muda yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Jiwa kewirausahaan yang ditanamkan sejak bangku sekolah diyakini menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

“Kita harapkan ke depan mereka benar-benar tumbuh menjadi wirausahawan muda yang kreatif dan mandiri,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI