Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Berita / Aceh / Hendra Budian: Kopi Gayo Masih Kualitas Terbaik Internasional

Hendra Budian: Kopi Gayo Masih Kualitas Terbaik Internasional

Jum`at, 11 Oktober 2019 22:42 WIB

Font: Ukuran: - +

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh – Wakil rakyat dari wilayah tengah Aceh, Hendra Budian, yang juga calon pimpinan DPRA, tidak mau rakyat tempat dia dipilih menderita karena persoalan kopi.

Menurut Hendra Budian, Jumat malam (11/10/2019) dalam keteranganya kepada Dialeksi.com, dia berharap kepada semua pihak tidak membesar besarkan isu yang dilontarkan seorang eksportir kopi di Gayo.

“Kopi Gayo itu masih menjadi kopi terbaik dengan kualitas dunia. Internasional mengakui kopi Gayo itu terbaik,” sebut Hendra.

Menurut Hendra, statemen Rahmah, pengekspor kopi PT Ketiara, sampai saat ini belum ada hasil uji laboratorium tentang pernyataanya yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kopepi Ketiara ini dalam keteranganya kepada media menyebutkan, kopi yang dikirimnya ke buyer di Eropa ditolak, karena mengandung zat kimia berbahaya. Pihak buyer Eropa membatalkan kontrak pembelian kopi.

“Pertanyaan pribadi saya, apakah kopi yang ditolak itu merupakan keseluruhan kopi Gayo atau hanya kopi dari Ketiara? Sebab sampai saat ini belum ada hasil uji laboratorium tentang hal itu yang bisa dipertanggungjawabkan,” tanya Hendra.

“Harapan saya, sebaiknya investigasi dulu kepada Buyer dan pihak- pihak terkait. Sebab bisa berimbas ke seluruh petani Gayo di tiga kabupaten yang berjumlah 75.000 kepala keluarga,” sebut anggota DPRA dari Golkar ini.

“Saya khawatir jika berita ini akan meluas ke mancanegara maka pihak buyer akan mengambil kesempatan untuk menurunkan harga, bahkan tidak membeli kopi dari Gayo. Untuk itu kepada semua pihak jangan dulu terlalu membesar besarkan isue tersebut,” pintanya.

Sebagai illustrasi, sebut Hendra, jika pembeli mengambil kesempatan menurunkan harga Rp 15.000/kilogram dari estimasi jumlah produksi kopi di tiga kabupaten 70.000.000 kilogram pertahun,maka kerugian ditingkat petani mencapai lebih kurang Rp 1 triliun.

“ Persoalan seperti ini tidak terjadi lagi dikemudian hari. Pemerintah harus mengatur regulasi tata niaga kopi. Jangan sampai persaingan bisnis kopi, berimbas buruk pada kepercayaan mancanegara yang selama ini telah mengakui kualitas kopi Gayo,” kata mantan aktifis ini.

Menurutnya, hal itu selain merugikan petani, juga merugikan negara. Koperasi- koperasi yang bekerja sama dengan buyer juga harus terbuka menyangkut soal premium fee, demi menjaga agar kopi tetap organik. (baga)

baca juga berita kopi Gayo masih Terbaik Dunia tidak Ada Masalah dengan Buyer


Editor :
Redaksi

Komentar Anda