DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, kebutuhan pengungsi banjir di Aceh kian mendesak.
Selain kebutuhan pangan dan kesehatan, perlengkapan ibadah menjadi hal yang sangat dibutuhkan oleh para pengungsi agar dapat menjalankan ibadah dengan layak di tengah keterbatasan.
Pendiri Rangkang Pustaka, Muhammad Ichsan Abda, mengatakan bahwa kondisi di lokasi pengungsian masih jauh dari kata ideal, terutama menjelang Ramadan yang identik dengan peningkatan aktivitas ibadah umat Muslim.
“Menjelang Ramadan, kebutuhan paling mendesak di pengungsian bukan hanya soal makan dan minum, tetapi juga sejadah, Al-Qur’an, perlengkapan salat, hingga kitab kuning. Ini penting agar para pengungsi tetap bisa menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk,” ujar Ichsan Abda saat dimintai tanggapan oleh media dialeksis.com, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menjelaskan, banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Utara memaksa warga meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Banyak di antara pengungsi yang tidak sempat menyelamatkan perlengkapan ibadah karena kondisi banjir yang datang secara tiba-tiba.
Selain perlengkapan ibadah, Ichsan juga menyoroti kebutuhan mendesak lainnya, yakni alat komunikasi dan perangkat elektronik seperti handy talky (HT). Menurutnya, alat tersebut sangat penting untuk koordinasi antarrelawan dan komunikasi darurat di lokasi pengungsian.
“HT atau alat elektronik sangat dibutuhkan, terutama untuk memperlancar komunikasi di lapangan. Di beberapa titik, jaringan seluler tidak stabil, sehingga alat komunikasi alternatif menjadi krusial,” jelasnya.
Sebagai bentuk kepedulian, tim relawan Rangkang Pustaka telah turun langsung ke lokasi bencana dan berpartisipasi dalam upaya pemulihan bagi para pengungsi. Ichsan menyebutkan, pihaknya meninjau langsung kondisi pengungsi di Dusun Lhok Pungki, Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
“Kami melihat langsung bagaimana warga bertahan di pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas. Kehadiran relawan diharapkan bisa sedikit meringankan beban mereka, baik secara fisik maupun batin,” katanya.
Menurut Ichsan, pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan fisik, tetapi juga pemulihan mental dan spiritual para korban. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan ibadah dinilai menjadi bagian penting dalam proses pemulihan tersebut.
Ia pun mengajak berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga kemanusiaan, komunitas, maupun masyarakat luas, untuk ikut berpartisipasi membantu para pengungsi, khususnya dalam penyediaan perlengkapan ibadah menjelang Ramadan.
“Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh ketenangan dan kekhusyukan. Jangan sampai saudara-saudara kita di pengungsian menjalani Ramadan tanpa fasilitas ibadah yang layak,” tutup Muhammad Ichsan Abda.