DIALEKSIS.COM | Meulaboh - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat terus meluas. Dalam lima hari, luas lahan yang terbakar bertambah dari sekitar lima hektare menjadi 13 hektare dan tersebar di lima kecamatan.
Kebakaran melanda kawasan Samatiga, Johan Pahlawan, Bubon, Kaway XVI, dan Woyla. Sebagian titik api berada di tengah hutan dan kawasan lahan gambut yang sulit dijangkau petugas.
Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat menghadapi kendala akses jalan serta keterbatasan sumber air di sekitar lokasi. Kondisi tersebut menyebabkan proses pemadaman tidak mudah dilakukan, sementara api terus merambat di bawah permukaan lahan gambut.
Perkembangan karhutla sepanjang Sabtu (5/9/2026) menunjukkan peningkatan cukup cepat. Pada siang hari, BPBD masih mencatat luas lahan terbakar sekitar 11,5 hektare di empat kecamatan. Menjelang malam, luas kebakaran dilaporkan telah mencapai 13 hektare dan menjangkau lima kecamatan.
Data sebelumnya menunjukkan kebakaran terjadi di Gampong Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, seluas tiga hektare; Gampong Mesjid Baro, Kecamatan Samatiga, lima hektare; Gampong Simpang, Kecamatan Kaway XVI, dua hektare; serta Gampong Aron Tunong, Kecamatan Woyla, sekitar 1,5 hektare.
Meluasnya kebakaran mulai memengaruhi kualitas udara dan mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Dalam lima hari terakhir, tercatat 34 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di wilayah yang terdampak kabut asap.
Sebagai langkah pencegahan, petugas Dinas Kesehatan Aceh Barat bersama Puskesmas Samatiga membagikan ratusan masker kepada pelajar MTsN 1 Aceh Barat di Gampong Blang Bale, Kecamatan Samatiga.
Pelajar diminta memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diimbau mengurangi kegiatan di ruang terbuka ketika kabut asap semakin pekat serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk, sesak napas, atau iritasi pada mata dan tenggorokan.
Ancaman kabut asap turut mendorong Dinas Pendidikan Aceh Barat menyiapkan langkah mitigasi bagi sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Aceh Barat, Irwan, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memantau perkembangan kualitas udara.
Menurut dia, keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi prioritas, khususnya bagi sekolah yang berada dekat dengan lokasi kebakaran.
Pemantauan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk menyesuaikan jam belajar atau meliburkan siswa apabila kualitas udara semakin memburuk. Kebijakan antisipasi mencakup satuan pendidikan tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama.
Meski opsi libur mulai dipertimbangkan, kegiatan belajar mengajar di Aceh Barat hingga Sabtu masih berlangsung normal.
“Kami akan terus mengevaluasi perkembangan di lapangan sebelum mengambil keputusan resmi,” kata Irwan.
Karhutla yang terus meluas kini bukan lagi semata persoalan pemadaman. Kabut asap telah membawa ancaman kesehatan sekaligus berpotensi mengganggu aktivitas pendidikan. Pemerintah daerah dituntut bergerak cepat agar perluasan api dapat dikendalikan dan paparan asap terhadap masyarakat tidak semakin berat.

