Beranda / Berita / Aceh / Lion Air Kaji Larangan Terbang di Aceh saat Idul Adha

Lion Air Kaji Larangan Terbang di Aceh saat Idul Adha

Jum`at, 09 Agustus 2019 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi pesawat Lion Air di Bandara SIM, Aceh Besar. [FOTO: IST]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Lion Air Group akan mengkaji perubahan jadwal penerbangan dari dan menuju Aceh saat perayaan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Minggu (11/8/2019) mendatang.  

Kajian perubahan jadwal dilakukan untuk memenuhi larangan terbang dari dan menuju Bandar Udara Sultan Iskandar Muda yang diterbitkan oleh Bupati Aceh Besar Mawardi Ali.

Sebelumnya, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali mengeluarkan larangan terbang dari dan menuju kota tersebut pada hari Idul Adha. Larangan ini dikeluarkan untuk mentaati peraturan dan UU Syariat Islam yang berlaku di Aceh.

Tujuan lain, agar seluruh komunitas bandara dan kru pesawat dapat melaksanakan shalat Idul Adha di bandara atau di tempat masing-masing.

Menanggapi hal itu, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan perusahaan akan menaati aturan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah setempat.

Untuk itu, maskapai akan mengkaji perubahan jadwal agar tidak ada penerbangan yang berlangsung pada pukul 00.00 sampai 12.00 saat Idul Adha sesuai larangan Bupati Aceh Besar.

Meski demikian, kata Danang seperti dilansir CNN Indonesia, Jumat (9/8/2019), perubahan jadwal sejatinya bukan hal yang mudah. Pasalnya, maskapai tidak sekadar mengubah jadwal penerbangan langsung (direct flight), tetapi juga penerbangan transit.

Padahal, perubahan jadwal penerbangan transit akan mempengaruhi jadwal penerbangan ke kota-kota lain. Untuk itu, maskapai perlu waktu untuk memastikan perubahan jadwal tidak saling bertabrakan.

"Kami masih mempertimbangkan dan analisa dalam rangka meminimalisasi (potensi jadwal bertabrakan), karena di Aceh juga ada pesawat kami yang bermalam," ujar Danang saat berbincang dengan awak media di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Untuk mengubah jadwal penerbangan, maskapai seharusnya melakukan sinkronisasi reservasi bagi penumpang penerbangan transit lebih dulu. Bila jadwal memungkinkan, maskapai akan melakukan penjadwalan ulang (reschedule).

Bila tidak memungkinan, maskapai akan memberikan pengembalian dana (refund). "Kalau reschedule kami berikan alternatif kalau masih ada ketersediaan seat," ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan perubahan jadwal penerbangan sebenarnya bisa saja dilakukan. Sebab, maskapai sudah pernah melakukan penyesuaian jadwal ketika berlangsungnya Hari Raya Nyepi di Bali.

Ketika nyepi, berbagai aktivitas kebandaraan dan penerbangan bahkan terhenti total untuk kurun waktu satu hari penuh.

"Sebenarnya kami sudah ada pengalaman di Bali. Jadi nanti kalau Aceh jadi kami cari bagaimana solusinya, seharusnya bisa karena cuma setengah hari," katanya.

Saat ini, Lion Air setidaknya memiliki beberapa rute penerbangan langsung dari dan menuju Bandar Udara Sultan Iskandar Muda. Pertama, rute penerbangan Banda Aceh-Medan sebanyak dua kali per hari.

Kedua, Medan-Banda Aceh dua penerbangan per hari. Ketiga, Jakarta-Banda Aceh dua kali. Keempat. Keempat, Aceh-Penang sebanyak satu kali per hari dengan menggunakan Malindo Air.

"Untuk Malindo, kami pakai ATR (pesawat propeller). Kalau Batik dan Lion Air menggunakan jet," tuturnya.(red/CNNIndonesia)

Keyword:


Editor :
Makmur Emnur

riset-JSI
Komentar Anda