DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, potensi perbedaan penetapan 1 Syawal kembali menjadi perhatian masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Malik Musa, mengajak umat Islam untuk menyikapi perbedaan dengan bijak dan tidak menjadikannya sebagai sumber perpecahan.
Menurut Malik Musa, perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriah merupakan hal yang sudah lama terjadi dalam khazanah Islam.
Muhammadiyah sendiri menetapkan penentuan awal bulan menggunakan metode hisab, sementara pemerintah bersama Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyat hilal melalui Sidang Isbat.
“Perbedaan ini tidak perlu terlalu ditekankan apalagi diperdebatkan. Islam itu agama yang memudahkan, bukan agama yang mempersulit,” kata Malik Musa kepada wartawan dialeksis.com, Kamis (19/3/2026).
Ia menjelaskan, Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan organisasi tersebut secara konsisten.
Sementara itu, pemerintah bersama Nahdlatul Ulama masih menunggu hasil Sidang Isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026. Berdasarkan prediksi astronomi dari lembaga seperti BMKG dan BRIN, terdapat kemungkinan hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, sehingga berpotensi membuat penetapan Idul Fitri versi pemerintah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Meski demikian, Malik Musa menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak seharusnya memicu perdebatan yang merusak persaudaraan umat Islam.
“Jangan saling mengklaim paling benar. Surga itu tidak ada jaminan bagi siapa pun. Yang penting kita ikhlas dalam beribadah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sesama Muslim adalah saudara. Karena itu, menurutnya, sangat tidak pantas jika perbedaan metode penentuan hari raya justru berujung pada saling menyalahkan.
“Risikonya kita sesama Muslim jadi bertengkar. Padahal kita ini saudara. Jangan sampai karena perbedaan seperti ini kita malah terpecah,” kata Malik Musa.
Lebih lanjut, ia menilai perbedaan pandangan dalam Islam justru merupakan bagian dari rahmat yang menunjukkan keluasan pemahaman dalam agama.
“Perbedaan itu rahmat. Kenapa kita harus bertengkar hanya karena cara menentukan hari raya berbeda?” ujarnya.
Malik Musa juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin melihat umat terpecah.
“Kalau kita bertengkar, itu justru membuat pihak lain senang melihat umat Islam terpecah. Karena itu mari kita jaga persaudaraan,” katanya.
Ia pun berharap masyarakat Aceh dapat menyikapi potensi perbedaan Idul Fitri dengan penuh kedewasaan, serta tetap menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan metode yang digunakan.
“Silakan menjalankan keyakinan masing-masing dengan tetap saling menghormati. Yang terpenting adalah menjaga persaudaraan dan persatuan umat,” pungkas Malik Musa. [nh]