DIALEKSIS.COM | Kolom - Di Aceh, cinta tak pernah sekadar urusan hati. Ia adalah medan tafsir, ruang sandi, dan kadang, pintu jebakan.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Di balik kecanggihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini mampu menulis, menganalisis, hingga mengambil keputusan kompleks, ada satu komponen yang kerap luput dari sorotan publik: server. Mesin-mesin sunyi yang bekerja tanpa henti ini sesungguhnya adalah jantung peradaban digital modern. Tanpa server, AI hanyalah konsep di atas kertas--cerdas di teori, lumpuh di praktik.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Kekhawatiran yang disampaikan Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, dalam rapat koordinasi pemulihan pascabencana (10/1/2026) bukanlah sekadar retorika politik. Pernyataan beliau mengenai risiko aksi "ping-pong" birokrasi adalah sebuah alarm dini. Wagub merekam kegelisahan daerah: mampukah Satgas yang bersifat lintas kementerian bekerja seefektif Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias di masa lalu?
Musibah telah mencatat sejarah. Ada pahlawan yang terlahir dari tuntutan keadaan. Ada pengkhianat yang memanfaatkan kesempatan. Ada manusia munafik, seolah berbuat dan ingin ditabalkan sebagai pahlawan.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Pengibaran Bendera Aceh pada 25 Desember 2025 di Lhokseumawe kembali membuka satu pertanyaan mendasar sejauh mana negara khususnya aparat keamanannya benar-benar memahami makna perdamaian di Aceh? Peristiwa ini bukan sekadar soal simbol, melainkan ujian atas kedewasaan negara dalam membaca sejarah dan mengelola keberagaman identitas politik ke-Aceh-an di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Ia sudah mengakhiri perjalanannya di Sumatra, dari pelosok Tapanuli hingga pelosok Aceh. Berakhir setelah sebulan mencurahkan pikiran, waktu, tenaga, dan biaya. Dia sudah bikin Sumatra menangis.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat setempat. Namun, dalam banyak diskursus kebijakan publik, banjir masih sering dipahami sebagai peristiwa alamiah semata yang berada di luar kendali manusia.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Dari sudut pandang feminisme radikal, bencana alam bukan sekadar peristiwa ekologis atau kejadian alamiah yang berdiri sendiri, melainkan merupakan ruang sosial-politik yang memperlihatkan bagaimana relasi kuasa patriarkal bekerja secara nyata, terutama dalam kondisi krisis.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Banjir yang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatera tidak dapat lagi dipahami sebagai peristiwa alam semata. Intensitas banjir yang terus berulang justru menunjukkan adanya persoalan struktural yang dibiarkan berlangsung dalam waktu lama.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Banjir yang melanda wilayah Sumatra, khususnya Aceh pada tahun 2025, menjadi salah satu peristiwa bencana yang berdampak besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. Banjir tersebut menyebabkan kerusakan rumah warga, terganggunya akses pendidikan dan kesehatan, serta terhambatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Perspektif gender dalam kebencanaan membantu kita memahami bahwa kerentanan perempuan bukan hanya sekedar disebabkan oleh bencana alam itu sendiri, tetapi juga oleh kebijakan dan sistem penanggulangan bencana yang belum sepenuhnya mempertimbangkan perbedaan kebutuhan dan pengalaman antara laki-laki dan perempuan.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Pasca penugasan ke Aceh beberapa waktu lalu dalam rangka koordinasi persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, Suprayoga Hadi menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus perhatian serius terhadap kondisi Aceh.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Banjir yang berulang di Pulau Sumatera khususnya di wilayah Aceh dan Sumatera Utara seringkali dipahami secara sempit sebagai fenomena alam akibat curah hujan tinggi atau pola musim tropis yang ekstrim. Cara pandang ini melihat banjir terutama dari sisi teknis dan kondisi alam, sehingga banjir kerap dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari.
DIALEKSIS.COM | Opini - Banjir yang melanda Sumatera dan Aceh beberapa waktu terakhir bukan sekadar masalah alam. Meski faktor seperti curah hujan tinggi, luapan sungai, dan kerusakan lingkungan berperan besar, bencana ini juga menyingkap ketimpangan sosial yang selama ini terselubung. Terutama, perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka harus menghadapi beban ganda: menjaga keselamatan keluarga, mengurus rumah tangga, sekaligus berusaha melindungi harta benda dari genangan air.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Sepasukan tentara Brigade AA berangkat dari markasnya untuk melaksanakan misi yang tak biasa. Mereka diperintahkan komandannya menggerebek rumah seorang ulama yang sudah agak tua. Waktu matahari belum lama terbit, sekitar jam tujuh pagi, pasukan tiba di tempat misi akan dilaksanakan. Mereka segera mengepung rumah Daud Beureueh di Desa Beureueh lalu masuk dan mengubrak-abrik seisi rumah.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Murthalamuddin, S.Pd., M.S.P. mungkin bukan sosok yang dikenal luas sebelum banjir bandang dan longsor melanda Aceh pada akhir 2025. Namun, dalam perannya sebagai Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh 2025, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh ini justru mencuri perhatian publik. Gaya komunikasinya yang blak-blakan, terus terang, dan berani membela para korban bencana telah membuat namanya diperbincangkan banyak orang.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Banda Aceh sedang tidak baik-baik saja. Banjir bandang dan tanah longsor yang menyapu banyak wilayah di Aceh juga ikut berdampak ke ibukota provinsi paling barat NKRI. Bencana akhir November lalu juga menghantam Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Lima belas hari adalah waktu yang sangat lama dalam kalender kehidupan modern. Bagi sebuah rumah sakit, itu bisa berarti hidup dan mati. Bagi industri, itu adalah kebangkrutan. Namun bagi warga Aceh yang saat ini terkepung banjir dan longsor, tiga belas hari tanpa listrik bukan sekadar ketidaknyamanan; ini adalah pencabutan paksa atas hak asasi dasar manusia.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Di tengah kabar duka dan lumpur pekat yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Aceh akibat banjir bandang dan tanah longsor, dua pekan silam, satu kata terus terngiang. Kata itu seolah mantra suci dalam penanganan bencana: 'Koordinasi'.
Ah, koordinasi. Kata yang begitu mudah diucapkan para pejabat di ruang ber-AC saat konferensi pers. Kata yang selalu menghiasi narasi sukses penanggulangan bencana -- tapi maaf -- baru sebatas di atas kertas.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Sanak keluarga mereka direnggut alam. Harta benda dan sumber penghidupan luluh lantak dibawa air berlumpur material. Air mata mereka sudah kering. Lelah, letih beragam perasaan tidak mampu lagi mereka ungkapkan. Antara hidup dan mati bagaikan setipis kulit bawang.