Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / 6 Bulan Pascabencana, Pelajar di Linge Aceh Tengah Masih Belajar di Kantor Desa

6 Bulan Pascabencana, Pelajar di Linge Aceh Tengah Masih Belajar di Kantor Desa

Sabtu, 25 April 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Sudah enam bulan sejak bencana hidrometeorologi melanda wilayah terpencil Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, siswa masih belajar di kantor desa. [Foto: Dokumen Sertalia kepada media dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sudah enam bulan sejak bencana hidrometeorologi melanda wilayah terpencil Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Namun hingga kini, fasilitas pendidikan darurat bagi siswa dari tingkat TK hingga SMA belum juga tersedia. Akibatnya, puluhan siswa terpaksa menjalani proses belajar mengajar tanpa ruang kelas yang layak.

Kondisi semakin memprihatinkan dalam sepekan terakhir. Intensitas hujan yang kembali tinggi menyebabkan jembatan darurat putus total, serta merobohkan sejumlah tenda darurat yang sebelumnya digunakan sebagai ruang belajar.

Sertalia, warga Kemukiman Wih Dusun Jamat, mengungkapkan bahwa tenda darurat milik SMP Negeri 26 Takengon yang sempat beberapa kali diperbaiki kini tidak lagi dapat digunakan.

“Walaupun sudah berkali-kali diperbaiki, sekarang para siswa harus kembali belajar di ruang terbuka karena tenda yang sebelumnya digunakan sudah tidak bisa dipakai lagi,” ujar Sertalia kepada media dialeksis.com, Sabtu (25/4/2026).

Kepala sekolah, Ruslan, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, sejak 20 April lalu, tenda sekolah roboh dan akses jembatan terputus, sehingga proses belajar mengajar harus dipindahkan ke lokasi seadanya.

“Sudah lima hari ini kami melaksanakan kegiatan belajar di halaman Postu dan kantor desa Jamat. Hanya bangunan itu yang tersisa dan bisa kami manfaatkan. Selain itu tidak ada lagi, jadi kami terpaksa seperti ini,” kata Ruslan.

Ia menjelaskan, sebelumnya terdapat dua titik lokasi belajar, yakni di Desa Reje Payung dan Desa Jamat. Namun saat ini akses menuju Reje Payung belum bisa ditembus akibat putusnya jembatan.

Lebih lanjut, Ruslan menyebut pihak sekolah telah mengusulkan pembangunan ruang kelas darurat kepada dinas terkait. Namun hingga kini belum ada kepastian realisasi.

“Kami sudah mengusulkan ke dinas agar dibangun ruang sekolah darurat, tapi sampai sekarang belum ada informasi kapan akan dibangun. Mungkin karena akses jalan ke wilayah ini belum bisa dilalui kendaraan roda empat, sehingga menjadi kendala,” tutupnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI