DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Arus lalu lintas kendaraan di ruas nasional Banda Aceh-Medan mengular hingga sekitar tiga kilometer untuk dapat melintasi Jembatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Minggu (28/12/2025).
Kemacetan terjadi sejak pagi hingga siang hari, dipicu oleh penerapan sistem buka-tutup di jembatan darurat Krueng Tingkeum yang baru dioperasikan.
Pantauan dialeksis.com, deretan kendaraan tampak berhenti total mulai dari terowongan di Jalan Banda Aceh-Medan, kawasan Cot Tunong, Kecamatan Gandapura, hingga mendekati Jembatan Kutablang.
Kendaraan dari arah Medan menuju Banda Aceh harus bersabar menunggu giliran melintas, sementara arus dari arah sebaliknya juga mengalami perlambatan serupa.
Beragam jenis kendaraan terjebak dalam antrean panjang tersebut. Mulai dari truk bermuatan besar dan truk kecil pengangkut logistik, mobil penumpang jenis Hiace, bus lintas provinsi, hingga mobil keluarga.
Zainul Arifin, sopir truk besar bermuatan sekitar 20 ton, mengaku telah mengantre lebih dari satu jam. Ia membawa sembako dan peralatan rumah tangga dari Medan menuju Banda Aceh.
“Sudah satu jam lebih saya menunggu di sini. Barang yang saya bawa kebutuhan pokok, tapi mau bagaimana lagi, semua harus ikut antre,” ujar Zainul saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, sistem buka-tutup membuat laju kendaraan tersendat, terutama saat volume kendaraan meningkat.
“Kalau jam ramai begini, antriannya panjang sekali. Kita berharap pengaturan bisa lebih cepat supaya barang tidak terlambat sampai,” tambahnya.
Kemacetan ini terjadi meski Jembatan darurat Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang telah resmi beroperasi sejak Sabtu (27/12/2025).
Jembatan bailey tersebut dibangun sebagai jalur pengganti setelah jembatan sebelumnya putus akibat banjir besar pada akhir November 2025. Sejak dibuka, jembatan langsung menjadi titik krusial karena merupakan jalur utama penghubung Banda Aceh“Medan.
Juru Bicara Posko Satgas Penanganan Bencana Aceh, Murthalamuddin, menjelaskan bahwa operasional jembatan darurat diberlakukan dengan sistem buka-tutup setiap satu jam. Kebijakan ini diterapkan demi menjaga keamanan dan kelancaran arus lalu lintas, mengingat keterbatasan lebar dan kapasitas jembatan.
“Alhamdulillah, jembatan sudah selesai dan siap digunakan. Sistem buka-tutup ini untuk memastikan keselamatan pengguna jalan,” ujarnya.
Namun di lapangan, penerapan sistem tersebut berdampak pada penumpukan kendaraan, terutama pada jam-jam sibuk.
Antrean yang mengular hingga tiga kilometer menjadi pemandangan tak terhindarkan, terlebih ketika arus kendaraan dari Medan menuju Banda Aceh meningkat bersamaan.
Ia menjelaskan, pihaknya hanya mengimbau kendaraan roda empat seperti mobil pribadi dan minibus dari arah Banda Aceh menuju Medan agar menggunakan jalur alternatif Teupin Reudep-Awe Geutah. Imbauan ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan di Jembatan darurat Krueng Tingkeum.
“Yang kita imbau adalah kendaraan roda empat dari arah Banda Aceh ke Medan agar melewati jalur alternatif. Ini untuk mengurangi antrean panjang di jembatan darurat,” jelasnya.
Sebagai informasi, jembatan darurat Krueng Tingkeum memiliki kapasitas beban maksimal hingga 30 ton. Jembatan ini dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) dengan dukungan kontraktor lokal PT Krueng Meuh. Pengerjaan berlangsung sejak 9 hingga 27 Desember 2025, dengan pendampingan Pemerintah Aceh melalui Dinas PUPR dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), serta dukungan personel TNI dan Polri di lapangan. [nh]