DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dunia pers Aceh kehilangan salah satu tokoh penting. Wartawan senior, pendiri Harian Serambi Indonesia sekaligus mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh tiga periode, H. Sjamsul Kahar, berpulang ke rahmatullah, Kamis (24/9/2026) pukul 02.20 WIB di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Kepergian ayahanda Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria itu meninggalkan kesan mendalam bagi banyak insan pers, akademisi, serta generasi muda yang pernah bersentuhan dengan perjalanan jurnalistiknya.
Salah satunya adalah Aryos Nivada. Peneliti politik dan keamanan Aceh itu mengenang Sjamsul Kahar sebagai sosok yang ikut memberi warna dalam perjalanan intelektual dan dunia kepenulisannya.
Aryos mengaku pertama kali mengenal Sjamsul Kahar sekitar 2008. Ketika itu, dirinya masih merintis kebiasaan menulis dan mulai mengirimkan artikel ke rubrik opini Harian Serambi Indonesia.
Rubrik tersebut saat itu diasuh almarhum Ampuh Devayan. Dari sosok yang akrab disapa Bang Ampun itulah Aryos kemudian diperkenalkan kepada Sjamsul Kahar.
"Kesan pertama saya, beliau sangat mendukung saya untuk terus menempa diri, menulis, dan meningkatkan kemampuan menulis," kata Aryos kepada Dialeksis.com, Kamis (24/9/2026).
Menurut Aryos, ada satu apresiasi Sjamsul Kahar yang hingga kini masih melekat kuat dalam ingatannya.
"Saya suka tulisan politik dan keamanan yang Aryos tulis," kenang Aryos menirukan perkataan Sjamsul Kahar ketika itu.
Bagi Aryos, kalimat sederhana tersebut justru menjadi energi besar untuk terus berkarya.
Apalagi, saat itu dirinya masih dalam tahap membangun kepercayaan diri sebagai penulis muda yang rutin mengirimkan gagasan dan analisis melalui rubrik opini.
"Apresiasi itu seperti energi yang membuat semangat menulis saya terus bergelora. Saya mencoba membuktikannya dengan terus menulis hingga kemudian menjadi salah satu penulis opini yang cukup sering dipublikasikan Serambi Indonesia," ujarnya.
Kepercayaan Sjamsul Kahar terhadap dirinya, kata Aryos, bahkan tidak berhenti pada urusan kepenulisan.
Setelah melihat konsistensinya menulis isu politik dan keamanan, Sjamsul Kahar ikut memberikan rekomendasi dan kepercayaan kepada Aryos untuk menjadi narasumber dalam pembahasan isu politik dan keamanan.
Aryos menilai, perjalanan dirinya hingga dikenal sebagai peneliti dan pengamat politik tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari ruang yang pernah diberikan Serambi Indonesia dan dukungan Sjamsul Kahar.
"Kalau hari ini saya berada pada posisi seperti sekarang, ada andil almarhum Sjamsul Kahar dan Serambi Indonesia dalam proses itu. Mereka menyediakan ruang dan memberikan kepercayaan kepada saya ketika masih belajar," kata Aryos.
Kenangan Aryos terhadap Sjamsul Kahar juga tidak sebatas perjumpaan di lingkungan redaksi.
Beberapa kali keduanya bertemu di bandara saat hendak melakukan perjalanan ke Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Sjamsul Kahar disebut selalu menyempatkan waktu untuk berdiskusi.
"Alhamdulillah, beliau masih mengingat saya. Setiap bertemu, kami bisa berdiskusi. Itu sesuatu yang sangat saya hargai," tuturnya.
Salah satu momen yang paling membekas bagi Aryos terjadi ketika dirinya datang ke kantor Serambi Indonesia untuk mengambil honor tulisan.
Saat itu ia berpapasan dengan Sjamsul Kahar.
Menurut Aryos, Sjamsul Kahar sempat menyampaikan kepadanya agar tidak sungkan datang jika membutuhkan teman berdiskusi.
"Beliau mengatakan, kalau perlu diskusi dengan saya, datang saja dan kabarkan. Kalimat itu sederhana, tetapi bagi saya sangat berkesan," katanya.
Aryos menilai sikap tersebut menggambarkan karakter Sjamsul Kahar sebagai tokoh pers yang terbuka dan tidak membangun jarak dengan generasi muda.
Di tengah posisi dan pengalaman panjangnya dalam dunia jurnalistik, kata Aryos, Sjamsul Kahar tetap memberikan ruang kepada orang-orang muda untuk belajar, bertanya, bahkan berdebat mengenai berbagai persoalan.
"Beliau sangat terbuka, komunikatif, mendukung anak muda. Yang lebih saya rasakan adalah kearifan dan kebijaksanaannya ketika memberikan petuah atau nasihat. Tidak terasa menggurui," ujar Aryos.
Lebih jauh, Aryos memberikan kesaksian pribadi mengenai karakter almarhum yang dikenalnya selama bertahun-tahun.
"Saya bersaksi, almarhum Sjamsul Kahar adalah sosok yang baik. Beliau bukan hanya baik dalam pergaulan dan komunikasi, tetapi juga banyak membantu orang lain. Kebaikannya sering kali dilakukan tanpa banyak bicara dan tanpa berharap dikenal atau dibalas," tutur Aryos.
Menurut dia, sifat suka membantu itu menjadi salah satu sisi Sjamsul Kahar yang patut dikenang, di luar kiprahnya sebagai wartawan dan tokoh pers.
"Yang saya lihat, beliau senang melihat orang lain tumbuh dan maju. Kalau ada anak muda yang mau belajar, beliau dorong. Kalau ada orang yang membutuhkan bantuan dan beliau mampu membantu, beliau akan membuka jalan. Itu salah satu kebesaran hati yang saya rasakan langsung," katanya.
Bagi Aryos, sikap tersebut memperlihatkan bahwa warisan seorang tokoh pers tidak hanya diukur dari jabatan, karya jurnalistik, atau institusi yang dibangun, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang pernah disentuh kehidupannya.
"Kadang-kadang jasa terbesar seseorang justru tidak seluruhnya tercatat dalam berita atau sejarah. Ia hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah dibantu, dikuatkan, diberi kesempatan, dan dipercayai. Dalam hal itu, saya yakin banyak orang memiliki kenangan baik terhadap almarhum Sjamsul Kahar," ujarnya.
Menurut Aryos, salah satu warisan penting yang dapat diteladani generasi pers Aceh dari Sjamsul Kahar adalah kesediaan seorang senior untuk membuka jalan bagi generasi setelahnya.
"Bagi saya, seorang senior tidak akan menjadi kecil ketika memberikan ruang kepada anak muda. Justru di situlah kebesarannya terlihat. Saya adalah salah satu orang yang pernah merasakan tangan itu terbuka, memberikan semangat, kepercayaan, dan kesempatan," katanya.
Sjamsul Kahar lahir di Sigli pada 9 Oktober 1945. Puluhan tahun perjalanan hidupnya didedikasikan untuk dunia jurnalistik dan perkembangan pers di Aceh.
Bagi Aryos, kepergian Sjamsul Kahar bukan semata kehilangan seorang tokoh pers, tetapi juga kehilangan sosok senior dan guru yang pernah ikut menyalakan semangat dalam perjalanan hidupnya.
"Manusia besar sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup melalui karya yang ditinggalkan, melalui institusi yang dibangun, nilai yang diwariskan, kebaikan yang pernah diberikan, dan orang-orang yang pernah disentuh serta dibesarkan olehnya," ujar Aryos.
Ia berharap generasi jurnalis muda Aceh dapat menjadikan perjalanan hidup Sjamsul Kahar sebagai inspirasi bahwa jurnalisme bukan hanya soal menulis berita dan mengejar peristiwa.
Jurnalisme, kata Aryos, juga berkaitan dengan keberanian menjaga kebenaran, kerendahan hati untuk terus belajar, serta kesediaan membuka ruang bagi generasi berikutnya.
"Selamat jalan H. Sjamsul Kahar. Terima kasih telah menyalakan banyak lentera tanpa pernah meminta siapa pun mengingat siapa yang pertama menyalakan apinya. Tugas generasi kami sekarang adalah menjaga agar cahaya itu tidak padam dengan terus menulis, menjaga integritas, membela kebenaran, membantu sesama, serta membuka jalan bagi mereka yang datang setelah kami," tutur Aryos.
"Semoga setiap huruf yang pernah beliau tulis, setiap ilmu yang beliau bagikan, setiap orang yang pernah beliau bantu, dan setiap anak muda yang pernah beliau kuatkan menjadi amal jariah yang terus mengalir. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu," pungkasnya.