Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Belum Pulih Bencana Banjir dan Longsor, Warga Bener Meriah Trauma Akibat Gempa

Belum Pulih Bencana Banjir dan Longsor, Warga Bener Meriah Trauma Akibat Gempa

Rabu, 31 Desember 2025 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Rizkita Gita

Warga Desa Rembune, Erika Putriana saat di pengungsian. Foto: Rizkita Gita/Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Warga Desa Rembune, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, masih diliputi trauma akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi beberapa pekan lalu. Ketakutan warga semakin bertambah setelah status Gunung Api Bur Ni Telong dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Seorang warga Desa Rembune, Erika Putriana, mengatakan rangkaian bencana yang terjadi membuat warga memilih mengungsi demi keselamatan.

“Rasanya jantung mau copot. Kami sangat takut. Banjir dan longsor belum lama terjadi, semalam gempa datang berturut-turut,” ujar Erika kepada Dialeksis.com, Rabu (31/12/2025).

Akibat peningkatan status gunung api tersebut, sedikitnya empat desa harus mengungsi, yakni Desa Pantan Pendiangan, Rembune, Pajar Harapan, dan Damaran Baru di Kecamatan Timang Gajah.

Hingga kini, ribuan warga masih bertahan di lokasi pengungsian di halaman Kampus Universitas Syiah Kuala (USK) Bener Meriah. Warga mengungsi setelah merasakan gempa yang terjadi berulang kali. Kepala desa setempat kemudian mengimbau masyarakat meninggalkan rumah sejak Selasa (30/12/2025) malam.

“Gempa pertama sekitar pukul 21.00 WIB. Setelah gempa kelima, kami panik dan langsung mengungsi ke sini,” jelasnya.

Meski tidak menimbulkan kerusakan rumah, gempa tersebut memperparah trauma warga yang sebelumnya terdampak bencana alam.

“Rumah kami tidak rusak, tapi trauma masih ada. Baru semalam banjir dan longsor, malamnya gempa lagi. Kami sangat takut,” tambahnya.

Wakil Kepala Kepolisian Sektor (Wakapolsek) Timang Gajah, Ipda Srilianto, mengatakan pengungsian diprioritaskan bagi warga Desa Pantan Pendiangan dan Rembune. Namun, sejumlah warga dari desa lain turut mengungsi karena panik.

“Jumlah pengungsi diperkirakan sekitar seribuan orang. Tenda didirikan sejak tadi malam dan hari ini dapur umum sudah berfungsi,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga diminta tetap berada di lokasi pengungsian hingga kondisi benar-benar aman. Masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas di sekitar kawasan Gunung Bur Ni Telong.

“Memang ada warga yang sempat kembali ke rumah untuk mengecek kondisi, tetapi setelah itu diminta kembali ke pengungsian. Karena desa-desa tersebut berada di lereng gunung, kewaspadaan harus tetap dijaga,” katanya.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah tenda darurat milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah didirikan dan mulai ditempati para pengungsi. Dapur umum juga telah beroperasi untuk memenuhi kebutuhan logistik warga.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI