Jum`at, 19 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Bimtek DPKA, Prof Sulaiman Ingatkan Penulis Cara Terhindar dari Plagiarisme

Bimtek DPKA, Prof Sulaiman Ingatkan Penulis Cara Terhindar dari Plagiarisme

Kamis, 18 Juni 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Prof. Sulaiman Tripa, S.H., M.H., saat menyampaikan materi bertajuk Teknik Penulisan Esai, Artikel Ilmiah Populer dan Peningkatan Kualitas Naskah pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Esai Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026). Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Praktik plagiarisme masih menjadi salah satu persoalan serius dalam dunia kepenulisan, baik di lingkungan akademik maupun publik. 

Karena itu, penulis dituntut memahami batasan-batasan dalam menggunakan karya orang lain agar tidak terjebak dalam pelanggaran etika intelektual tersebut.

Hal itu disampaikan Prof. Sulaiman Tripa, S.H., M.H., saat menyampaikan materi bertajuk Teknik Penulisan Esai, Artikel Ilmiah Populer dan Peningkatan Kualitas Naskah pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Esai Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).

Dalam pemaparannya, Prof. Sulaiman menegaskan bahwa plagiarisme tidak hanya sebatas menyalin tulisan orang lain secara utuh. Ruang lingkupnya jauh lebih luas, termasuk mengutip istilah, kata-kata, kalimat, data, maupun informasi tanpa menyebutkan sumber secara benar.

“Plagiat itu bukan hanya menyalin tulisan orang lain. Menggunakan gagasan, pendapat, pandangan, atau teori orang lain tanpa menyebut sumber juga termasuk plagiarisme,” ujarnya.

Menurutnya, seseorang juga dapat dianggap melakukan plagiarisme ketika merumuskan ulang pemikiran orang lain tanpa memberikan pengakuan terhadap sumber asli yang menjadi rujukan.

Ia menjelaskan, dalam dunia akademik internasional, pengawasan terhadap kemungkinan plagiarisme dilakukan secara sangat ketat. Dosen pembimbing tidak hanya melihat hasil akhir sebuah karya ilmiah, tetapi juga mengkritisi setiap bagian naskah secara rinci sejak tahap proposal.

Prof. Sulaiman mencontohkan pengalamannya saat berinteraksi dengan sejumlah akademisi dan mahasiswa yang sedang menempuh studi di luar negeri. Menurutnya, setiap kalimat dalam proposal penelitian diperiksa secara detail untuk memastikan seluruh rujukan digunakan secara tepat.

“Mereka sangat hati-hati karena karya itu bukan hanya milik mahasiswa, tetapi juga membawa nama pembimbing. Karena itu setiap draft dibaca secara rinci dan diberi catatan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa sejumlah jurnal ilmiah internasional memiliki aturan yang ketat terkait penggunaan kutipan langsung. Ada jurnal yang membatasi jumlah kata yang dapat dikutip secara langsung dari sumber tertentu untuk menghindari praktik penyalinan berlebihan.

“Bukan hanya soal mencantumkan referensi. Kalau kita mengambil bagian yang terlalu banyak dari karya orang lain, meskipun sumbernya disebutkan, itu tetap bisa menjadi persoalan etika penulisan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Sulaiman mengingatkan peserta agar tidak menjadikan referensi sebagai bahan untuk disalin, melainkan sebagai sumber pemahaman yang kemudian diolah kembali menjadi gagasan baru.

Menurutnya, penulis harus mampu membaca banyak sumber, memahami substansinya, lalu menyusunnya kembali dengan bahasa sendiri berdasarkan sudut pandang yang berbeda.

Ia mencontohkan ketika seseorang ingin menulis tentang Panglima Laot atau hukum adat laut Aceh. Penulis perlu memperluas pencarian referensi dengan berbagai kata kunci agar mendapatkan perspektif yang lebih kaya.

“Kalau kata kuncinya terlalu sempit, hasil pencariannya juga terbatas. Kita bisa memperluas pencarian, misalnya dari Panglima Laot menjadi hukum adat laut atau hukum adat secara umum,” ujarnya.

Selain memanfaatkan mesin pencari akademik, ia juga menyarankan peserta menggunakan berbagai platform pengelola referensi seperti Mendeley untuk mempermudah proses penelusuran sumber-sumber ilmiah.

Menurutnya, teknologi digital saat ini dapat membantu penulis menemukan referensi yang relevan, mengelola sitasi, hingga menyusun daftar pustaka secara lebih rapi dan sistematis.

Salah satu kiat penting yang disampaikan Prof. Sulaiman adalah membaca sebanyak mungkin artikel atau penelitian yang sudah pernah diterbitkan terkait tema yang akan ditulis.

Tujuannya bukan untuk meniru isi tulisan tersebut, melainkan untuk mengetahui sejauh mana topik itu telah dibahas sehingga penulis dapat menemukan sudut pandang baru yang belum banyak diangkat.

“Kalau ada artikel yang sudah membahas suatu tema, kita perlu membacanya agar tidak mengulang hal yang sama. Kita harus mencari sisi yang belum disentuh oleh penulis sebelumnya,” katanya.

Ia menilai langkah tersebut sangat penting terutama dalam penulisan esai berbasis budaya lokal. Banyak tradisi dan kearifan lokal Aceh yang telah ditulis oleh peneliti sebelumnya, namun masih menyimpan banyak aspek yang dapat dieksplorasi lebih mendalam.

Menjawab pertanyaan peserta mengenai penggunaan informasi yang berasal dari jurnal tetapi juga diperoleh melalui sumber lisan, Prof. Sulaiman menegaskan bahwa sumber yang telah dipublikasikan tetap wajib dicantumkan dalam tulisan.

Menurutnya, ketika sebuah informasi sudah diterbitkan dalam bentuk jurnal atau karya ilmiah, maka keberadaan karya tersebut harus diakui melalui sitasi yang tepat.

“Kalau wujudnya sudah ada dalam bentuk publikasi, kita wajib mencantumkan sumbernya karena itu sudah menjadi karya yang dipublikasikan,” jelasnya.

Namun demikian, apabila penulis ingin memperdalam informasi yang belum dijelaskan secara lengkap dalam publikasi tersebut, maka penelusuran langsung kepada narasumber tetap dapat dilakukan sebagai sumber tambahan.

Ia menekankan bahwa kombinasi antara sumber tertulis dan sumber lisan justru dapat memperkaya kualitas tulisan, asalkan seluruh sumber digunakan secara jujur dan transparan.

Prof. Sulaiman mengingatkan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam dunia kepenulisan. Penulis yang baik bukanlah mereka yang mampu menyalin banyak referensi, melainkan mereka yang mampu mengolah berbagai sumber menjadi gagasan baru yang memberikan nilai tambah bagi pembaca.

“Referensi itu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami, mengolah, dan mengembangkannya menjadi karya yang memiliki kebaruan serta tetap menghormati karya orang lain,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
dishes