Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ditemukan Desember 2025, 65 Penyu Lekang Menetas dan Dilepas di Pantai Lampuuk

Ditemukan Desember 2025, 65 Penyu Lekang Menetas dan Dilepas di Pantai Lampuuk

Selasa, 27 Januari 2026 22:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Sebanyak 65 tukik penyu lekang dilepasliarkan ke laut di Pantai Lampuuk, tepatnya di kawasan Babah Dua, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Selasa, 27 Januari 2026. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebanyak 65 tukik penyu lekang dilepasliarkan ke laut di Pantai Lampuuk, tepatnya di kawasan Babah Dua, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Selasa, 27 Januari 2026.

Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya konservasi dan edukasi lingkungan kepada masyarakat. Tukik-tukik tersebut merupakan hasil penemuan sarang penyu pada Desember 2025, yang kemudian menetas setelah melalui masa inkubasi alami selama sekitar 50 hari.

Pelepasliaran ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari anak-anak sekolah, warga lokal, hingga wisatawan mancanegara yang sedang berkunjung ke Pantai Lampuuk. 

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momen pelepasan tukik ke habitat alaminya, tetapi juga sarana edukasi langsung tentang pentingnya menjaga penyu sebagai satwa dilindungi.

Koordinator Kelompok Konservasi Penyu Lampuuk, Ikhsan Jamaluddin, mengatakan bahwa seluruh tukik yang dilepas kali ini merupakan penyu lekang (Lepidochelys olivacea), salah satu jenis penyu yang masih kerap bertelur di pesisir Aceh namun menghadapi ancaman serius.

“Sebanyak 65 tukik penyu lekang ini berasal dari sarang yang kami temukan pada Desember 2025. Setelah menetas sekitar 50 hari, kami karantina dan rawat sementara sebelum dilepasliarkan agar peluang hidupnya di alam lebih besar,” ujar Ikhsan kepada media dialeksis.com.

Menurut Ikhsan, Konservasi Penyu Lampuuk selama ini aktif melakukan berbagai kegiatan perlindungan, mulai dari patroli pantai, penyelamatan sarang penyu dari pencurian dan predator, karantina tukik, hingga perawatan penyu yang mengalami cedera akibat aktivitas manusia di laut.

Ia menegaskan, keterlibatan masyarakat, terutama anak-anak menjadi kunci utama keberhasilan konservasi jangka panjang.

“Kami sengaja melibatkan anak-anak sekolah dan masyarakat secara langsung. Edukasi sejak dini sangat penting untuk menanamkan kecintaan terhadap penyu dan menghentikan praktik perburuan telur yang masih terjadi,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga diberikan penjelasan mengenai siklus hidup penyu, ancaman yang dihadapi di alam, serta aturan hukum yang menetapkan penyu sebagai hewan dilindungi. 

Meski demikian, Ikhsan mengakui bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar. Pengambilan telur penyu oleh oknum masyarakat, ancaman predator alami, serta risiko cedera penyu akibat aktivitas manusia di laut masih menjadi persoalan yang terus dihadapi.

“Upaya konservasi ini tidak bisa berjalan sendiri. Kami berharap dukungan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun wisatawan, agar habitat penyu tetap terjaga dan generasi penyu lekang masih bisa kita lihat di Pantai Lampuuk pada masa mendatang,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI