Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Dua Abizar dan Potret Kegagalan Perlindungan Korban Banjir

Dua Abizar dan Potret Kegagalan Perlindungan Korban Banjir

Minggu, 08 Februari 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Keluarga Muhammad Abizar di Pidie Jaya. [Foto: dok. Humansight]


DIALEKSIS.COM | Aceh - Nama Abizar kini menjadi simbol duka ganda akibat bencana banjir di Aceh. Dalam dua peristiwa terpisah, dua balita dengan nama yang sama meninggal dunia setelah menjadi korban bencana hidrometeorologi yang menghantam Aceh Tenggara dan Pidie Jaya.

Yayasan Perspektif Kemanusiaan Indonesia (Humansight) menyebut tragedi ini bukan sekadar bencana alam, tetapi juga cerminan lemahnya perlindungan terhadap warga terdampak.

Abizar pertama, seorang anak berusia 3 tahun, hilang terseret banjir bandang di Lawe Penanggalan, Aceh Tenggara, pada November 2025. Hingga kini, jasadnya tidak pernah ditemukan. Banjir yang datang tengah malam itu menghantam rumah keluarganya bersama kayu gelondongan yang diduga berasal dari aktivitas pembalakan liar.

Kakaknya, Maulida, menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat. Dalam satu malam, ia kehilangan rumah sekaligus seluruh keluarganya. Humansight menilai masa depan Maulida kini berada dalam kondisi tidak pasti, termasuk cita-citanya untuk menjadi polisi wanita.

Sementara itu, Abizar kedua, Muhammad Abizar, berusia 18 bulan, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama satu setengah bulan di RSUD Pidie Jaya. Pada awal Februari 2026, ia terjebak bersama ibunya di atap rumah mereka selama hampir satu hari penuh saat banjir merendam wilayah tersebut.

Dalam kondisi darurat, balita itu terpapar air banjir bercampur lumpur. Setelah dievakuasi, dokter menemukan material lumpur di paru-parunya. Kondisinya terus menurun meski telah mendapat perawatan intensif. Ia akhirnya meninggal dunia, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.

Menurut Humansight, keluarga Muhammad Abizar kini hidup dalam keterbatasan kebutuhan dasar setelah kehilangan rumah. Hingga beberapa hari setelah kematian anak mereka, bantuan dinilai belum memenuhi kebutuhan pemulihan jangka panjang.

“Kami melihat keluarga korban masih menunggu dukungan nyata, bukan sekadar janji,” ujar perwakilan Humansight dalam keterangan tertulis.

Organisasi tersebut menyatakan telah menyalurkan bantuan awal berupa santunan sebesar Rp500.000 serta paket perlengkapan ibadah melalui posko kemanusiaan di Pidie Jaya. Humansight juga mengajak masyarakat untuk turut mengawal pemenuhan hak-hak keluarga korban.

Satu nama, Dua Wajah Kegagalan Negara

Humansight mencatat dengan prihatin: lebih dari 41.000 pengungsi di Pidie Jaya, 17.754 rumah rusak, 15 korban jiwa, dan kerugian infrastruktur miliaran rupiah -- namun respons pemerintahan Prabowo Subianto terkesan absen, lambat, dan bersifat seremonial belaka.

Safrizal ZA, Kepala Satgas Penanganan Bencana Pusat, lebih banyak terlihat dalam konferensi pers di Jakarta ketimbang menginjak lumpur Pidie Jaya atau reruntuhan Lawe Penanggalan. Lalu, di mana Bupati Aceh Tenggara ketika Maulida menangis kehilangan adiknya yang bernama Abizar? Di mana Bupati Pidie Jaya ketika Muhammad Abizar berjuang melawan lumpur di dalam paru-parunya?

Humansight merasa Negara absen ketika rakyat membutuhkan kehadiran nyata. Satgas pusat yang dibentuk hanya menjadi mesin birokrasi tanpa nyawa. 

Humansight memahami, meski pemerintah memang sudah terbukti absen, tapi warga yang masih punya nurani tidak boleh ikut absen.

"Hari ini, semua kita dipanggil untuk hadir, guna memastikan agar mimpi Maulida tidak mati bersama adiknya yang bernama Abizar. Kita dipanggil Hadir untuk keluarga Muhammad Abizar, yang masih hidup tanpa rumah, tanpa kepastian, tanpa pengakuan negara atas duka mereka. Kita harus Hadir untuk memastikan tidak ada lagi Abizar-Abizar lain yang terlewatkan, terabaikan dan terlupakan. Abizar memang telah pergi. Namun, tanggung jawab kita yang hidup sama sekali belum selesai!," tegasnya.

Bagi Humansight, tragedi dua Abizar menjadi pengingat bahwa bencana tidak berhenti saat air surut. Dampak sosial dan kemanusiaan yang ditinggalkan memerlukan perhatian berkelanjutan agar keluarga korban tidak terabaikan.

“Kita harus memastikan tidak ada lagi anak-anak yang terlupakan setelah bencana,” tulis Humansight. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI