DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh menggelar launching perdana film berjudul NOEH, kata dalam bahasa Aceh yang berarti pasung, sebagai bagian dari kampanye edukasi dan perlawanan terhadap praktik pemasungan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di tengah masyarakat.
Film berdurasi 1 jam 30 menit itu dijadwalkan tayang perdana pada Jumat, 13 Februari 2026, di pelataran RSJ Aceh.
Karya ini diangkat dari kisah nyata dan memotret realitas sosial yang kerap luput dari perhatian, kemiskinan, keterbatasan akses layanan, serta stigma yang masih kuat terhadap ODGJ.
Direktur RSJ Aceh, dr. Hanif, menegaskan bahwa film ini bukan sekadar karya sinema, tetapi media edukasi publik.
“Film ini kami buat sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat tentang apa yang seharusnya dilakukan ketika ada anggota keluarga atau warga yang mengalami gangguan jiwa. Pasung itu tidak dibenarkan,” ujar dr. Hanif dalam konferensi pers di Rumah Sakit Jiwa Aceh, Banda Aceh, Kamis (12/2/2026).
Menurut dr. Hanif, RSJ Aceh menargetkan upaya penghapusan pasung bisa semakin masif pada 2026. Film NOEH menjadi bagian dari gerakan tersebut.
“Kami berharap tahun 2026 persoalan ODGJ yang masih dipasung bisa benar-benar kita tuntaskan. Film ini menjadi sarana untuk menyadarkan masyarakat. Bagaimana kondisi mereka hidup di kampung, bagaimana mereka dipasung, dan bagaimana seharusnya kita memperlakukan mereka dengan layak,” katanya.
Ia menjelaskan, praktik pasung selama ini kerap dilakukan dengan dalih melindungi lingkungan sekitar. Namun, langkah tersebut justru melanggar hak asasi dan memperparah kondisi penderita.
“Sering kali pasung dilakukan dengan alasan menjaga keamanan masyarakat. Katanya supaya tidak mengganggu. Tapi sebenarnya yang harus dilakukan adalah menjemput dan merawat mereka dengan benar. Ketika kami jemput dan rawat, anak-anak dan masyarakat yang gelisah justru menjadi tenang. Jadi solusinya bukan pasung, tapi pengobatan,” tegasnya.
Film ini juga menampilkan gambaran pelayanan yang dilakukan RSJ Aceh, mulai dari proses penjemputan pasien, penanganan medis, hingga pendampingan pemulihan.
“Kami ingin masyarakat tahu, seperti apa pelayanan yang kami lakukan di RSJ Aceh. Kami hadir bukan hanya untuk merawat, tapi juga memulihkan dan mengembalikan martabat mereka sebagai manusia,” tambah dr. Hanif.
Dr. Hanif berharap, pemutaran perdana film ini dapat membuka ruang diskusi lebih luas di tengah masyarakat Aceh.
“Kami ingin stigma itu hilang. Mereka bukan untuk dijauhi atau ditakuti. Mereka adalah bagian dari kita. Dengan pengobatan yang tepat, mereka bisa kembali hidup layak di tengah keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, sutradara film “NOEH”, Davi Abdullah, mengungkapkan bahwa film ini terinspirasi dari berbagai kisah nyata yang ditemui di lapangan. Cerita-cerita tersebut kemudian dirangkai menjadi satu narasi utuh yang kuat secara emosional.
“Hampir semua adegan dalam film ini diangkat dari kisah nyata. Kami menggabungkan persoalan ekonomi, kemiskinan, dan stigma yang masih terjadi di masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa. Semua aspek itu kami rangkum untuk melawan stigma tersebut,” ujar Davi.
Proses pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk di lingkungan RSJ Aceh, Kecamatan Kuta Malaka, serta beberapa titik di Banda Aceh seperti Lambhuk. Total kru yang terlibat mencapai sekitar 50 orang.
Menariknya, sebagian kru berasal dari internal RSJ Aceh, termasuk perawat dan tenaga berpengalaman yang sehari-hari menangani pasien.
“Kru kami sekitar 50 orang. Ada perawat, tenaga profesional, dan juga artis lokal. Kami ingin film ini benar-benar terasa dekat dengan realitas yang ada,” kata Davi. [nh]