DIALEKSIS.COM | Meulaboh - Kebutuhan ruang kuliah, laboratorium, hingga gedung baru mendorong Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. Nyak Amir, memperluas komunikasi dengan pemerintah pusat dan sejumlah tokoh nasional. Dari pertemuan dengan Hashim Djojohadikusumo dan Surya Paloh hingga konsultasi ke Bappenas, pembangunan kampus menjadi agenda yang terus diperjuangkan.
Penelusuran jejak digital yang dirangkum Dialeksis melalui publikasi resmi UTU memperlihatkan rangkaian pertemuan tersebut berlangsung sejak September hingga Oktober 2026. Agenda yang dibawa mencakup dukungan infrastruktur, penjajakan pembiayaan, serta penguatan fasilitas pendidikan di kawasan barat selatan Aceh.
Dalam keterangan wawancara eksklusif kepada Dialeksis, Nyak Amir menjelaskan bahwa kebutuhan infrastruktur UTU semakin mendesak. Kampus memerlukan tambahan ruang kuliah, laboratorium, kantor, aula, Gedung Fakultas Kedokteran (FK), Gedung Olahraga dan Seni (GOS), serta pembenahan drainase.
Menurutnya, kebutuhan tersebut telah diselaraskan dengan Detailed Engineering Design (DED) dan rencana induk pembangunan UTU. Dokumen perencanaan itu menjadi dasar untuk membawa usulan kampus kepada pihak-pihak yang dapat mendukung pembiayaannya.
Salah satu langkah dilakukan pada Rabu, 7 Oktober 2026. Nyak Amir bersama Ketua Senat UTU, Basri, mengunjungi Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Bappenas, Endang Sulastri. Pertemuan itu membahas peluang pendanaan pembangunan fasilitas kampus melalui skema Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri (PHLN). Kunjungan tersebut juga diberitakan laman resmi UTU.
Kepada Dialeksis, Nyak Amir menerangkan bahwa dukungan yang dimohonkan antara lain untuk pembangunan Gedung U1, Gedung T, serta fasilitas lainnya dalam rencana pengembangan universitas. Melalui konsultasi tersebut, UTU berupaya membuka akses pembiayaan bagi kebutuhan pembangunan yang telah disusun.
Nyak Amir menyampaikan bahwa Endang memberikan respons dengan mempertimbangkan usulan UTU untuk masuk dalam Blue Book Bappenas. Peluang tersebut masih memerlukan tindak lanjut dan penelaahan proposal, sehingga belum merupakan kepastian persetujuan pendanaan.
Untuk memperkuat pengajuan itu, Nyak Amir juga berkonsultasi dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Badri Munir Sukoco, di Gedung D. Komunikasi turut dilakukan dengan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Khairul Munadi, serta Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti, Prof. Sri Suning Kusumawardani.
Publikasi UTU menjelaskan bahwa pertemuan dengan Sekjen berkaitan dengan penyerahan proposal untuk memperoleh rekomendasi kementerian. Sementara itu, koordinasi dengan jajaran Ditjen Dikti diarahkan untuk mengawal tahapan pengusulan anggaran.
Sebelum mendatangi Bappenas, Nyak Amir telah membawa kebutuhan pembangunan UTU dalam pertemuan dengan Hashim Djojohadikusumo di Rajawali Place, Jakarta, Sabtu, 26 September 2026.
Menurut laporan resmi universitas, pembicaraan menyoroti kebutuhan Gedung Fakultas Kedokteran dan GOS. Nyak Amir mengaitkan rencana pengembangan pendidikan kedokteran dengan kebutuhan tenaga medis serta akses pendidikan bagi masyarakat barat selatan Aceh.
Dalam pertemuan tersebut, Hashim menyatakan kesediaan membantu menyampaikan aspirasi UTU kepada Presiden dan Bappenas. Dukungan itu membuka jalur komunikasi bagi kampus untuk memperjuangkan usulannya kepada pemerintah pusat.
Pada tanggal yang sama, Rektor UTU juga bersilaturahmi dengan Surya Paloh di Restoran Kanabu, Bendungan Hilir, Jakarta. Nyak Amir didampingi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Ibrahim Laweung, Bupati Nagan Raya TR. Keumangan, serta Rektor UTU periode 2014 - 2022, Jasman J. Ma’ruf.
Pembangunan Gedung FK dan pengembangan GOS kembali menjadi pokok pembicaraan. Selain itu, rombongan menyampaikan agenda pembentangan bendera sepanjang 24 kilometer serta zikir dan selawat kebangsaan. Berdasarkan publikasi UTU, Surya Paloh menyampaikan dukungan terhadap agenda pembangunan infrastruktur dan kegiatan universitas tersebut.
Rangkaian audiensi itu memperlihatkan upaya Nyak Amir membawa kebutuhan kampus ke ruang pengambilan kebijakan sekaligus memperluas dukungan tokoh nasional. Kebutuhan yang diperjuangkan menyentuh fasilitas dasar perkuliahan hingga sarana pengembangan kampus dalam jangka panjang.
Bagi UTU, tindak lanjut atas pertemuan-pertemuan tersebut menjadi tahap penting berikutnya. Proposal, rekomendasi, dan peluang pembiayaan perlu terus dikawal agar dukungan yang telah dibangun dapat berujung pada fasilitas yang dibutuhkan mahasiswa dan sivitas akademika. []