Jum`at, 23 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Hari Santri 2026, Ketua PII Aceh: Santri Harus Melek Teknologi di Era AI

Hari Santri 2026, Ketua PII Aceh: Santri Harus Melek Teknologi di Era AI

Kamis, 22 Oktober 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Aceh periode 2024-2026, Mohd Rendi Febriansyah. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Aceh periode 2024-2026, Mohd Rendi Febriansyah, menilai peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam menghadapi tantangan era digital sekaligus mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut Rendi, semangat perjuangan santri yang tercermin dalam Resolusi Jihad 1945 perlu diteruskan melalui bentuk pengabdian yang sesuai dengan tantangan zaman. 

Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan fisik, saat ini perjuangan dapat diwujudkan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta upaya mengatasi berbagai persoalan sosial.

“Semangat Resolusi Jihad harus tetap hidup dalam diri santri. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan, sekarang santri harus berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan, sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Rendi kepada dialeksis.com, Kamis (22/10/2026).

Ia mengatakan, santri memiliki modal penting untuk berkontribusi terhadap kemajuan bangsa, yakni pendidikan keagamaan, pembentukan karakter, dan tradisi keilmuan. 

Modal tersebut perlu diperkuat dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi agar santri tidak tertinggal dalam perubahan zaman.

Rendi menilai, salah satu isu strategis yang perlu mendapat perhatian pada Hari Santri Nasional 2026 adalah digitalisasi pesantren, termasuk penguasaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, perkembangan AI membuka peluang bagi santri untuk memperluas akses pengetahuan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta mengembangkan kreativitas. 

Namun, penggunaan teknologi tersebut perlu disertai kemampuan berpikir kritis dan pemahaman etika.

“Santri tidak boleh gagap teknologi. Mereka harus mampu memanfaatkan AI untuk belajar, mengembangkan pengetahuan, dan menghasilkan karya. Namun, penguasaan teknologi harus tetap berakar pada akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi digital juga membawa tantangan. 

Informasi yang beredar belum tentu benar, sementara penggunaan AI tidak selalu menghasilkan jawaban yang akurat atau sesuai dengan konteks.

Karena itu, santri perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber, membedakan fakta dan opini, serta menyaring informasi sebelum menyebarkannya kepada masyarakat.

Rendi berpandangan, pesantren juga perlu membuka ruang pembelajaran teknologi yang lebih luas tanpa meninggalkan identitas dan tradisi keilmuannya. 

Penguatan literasi digital dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan santri agar mampu berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga kehidupan sosial.

Selain digitalisasi dan penguasaan AI, Rendi menyoroti pentingnya perlindungan santri dari segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, pesantren harus menjadi ruang belajar yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik. 

Pendidikan yang menanamkan kedisiplinan dan akhlak harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat serta hak santri.

“Pesantren harus menjadi tempat yang aman bagi santri untuk belajar dan bertumbuh. Pembentukan karakter tidak boleh dilakukan melalui kekerasan. Santri perlu mendapatkan perlindungan agar dapat berkembang secara intelektual, spiritual, dan sosial,” ujarnya.

Rendi berharap, peringatan Hari Santri Nasional tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mendorong pembaruan pendidikan pesantren yang mampu menjawab kebutuhan masa depan.

“Menuju Indonesia Emas 2045, santri harus hadir sebagai generasi yang kuat secara ilmu, matang secara akhlak, melek teknologi, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Semangat perjuangan masa lalu harus diteruskan melalui karya dan pengabdian untuk masa depan bangsa,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI