DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pengajian rutin malam Jumat di Balee Al Ihsan kembali digelar pada Kamis malam, 25 Juni 2026. Seperti biasa, pengajian berlangsung ba’da Isya dan diikuti jamaah dengan khidmat.
Pada pengajian kali ini, Ustadz Tgk. H. Akmal Abzal, SHI, MH mengangkat tema “Muhasabah Diri: Sudah Benarkah Hijrah Kita?”. Tema tersebut menjadi ajakan bagi jamaah untuk menilai kembali perjalanan hidup, terutama dalam memahami makna hijrah secara lebih mendalam.
Ustadz Akmal mengatakan, hijrah tidak cukup hanya dimaknai sebagai perubahan penampilan, lingkungan, atau kebiasaan lahiriah semata. Menurutnya, hijrah yang benar harus menyentuh hati, cara berpikir, akhlak, ibadah, serta hubungan seseorang dengan Allah dan sesama manusia.
“Hijrah bukan hanya pindah dari satu keadaan ke keadaan lain secara lahiriah. Hijrah yang sebenarnya adalah ketika hati kita semakin dekat kepada Allah, lisan kita lebih terjaga, ibadah kita lebih istiqamah, dan akhlak kita semakin baik kepada orang lain,” ujar Ustadz Akmal dalam tausiyahnya.
Ia mengingatkan, banyak orang merasa telah berhijrah, tetapi belum sungguh-sungguh melakukan muhasabah terhadap diri sendiri. Padahal, kata dia, muhasabah merupakan pintu penting untuk mengetahui apakah perubahan yang dilakukan benar-benar membawa seseorang kepada ketaatan atau hanya sebatas perubahan simbolik.
Ustadz Akmal mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Menurutnya, ayat tersebut menjadi peringatan agar setiap muslim tidak lalai mengevaluasi amal dan arah hidupnya. Setiap langkah, keputusan, dan perubahan yang dilakukan harus ditimbang dengan ukuran iman dan takwa.
“Allah memerintahkan kita untuk melihat apa yang sudah kita siapkan untuk hari esok. Hari esok itu bukan hanya masa depan dunia, tetapi juga akhirat. Maka hijrah harus membuat kita lebih siap bertemu Allah, bukan sekadar terlihat berbeda di hadapan manusia,” jelasnya.
Ia menambahkan, hijrah yang benar harus melahirkan perubahan nyata. Orang yang berhijrah, kata Ustadz Akmal, semestinya semakin rendah hati, bukan merasa lebih suci dari orang lain. Semakin taat, bukan semakin mudah menghakimi. Semakin dekat dengan masjid, Al-Qur’an, dan majelis ilmu, bukan hanya sibuk membangun citra diri.
“Jangan sampai hijrah membuat kita merasa paling benar. Hijrah yang benar justru melahirkan kelembutan hati. Kita semakin takut kepada dosa sendiri, bukan sibuk mencari salah orang lain,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Akmal juga mengajak jamaah memperkuat taubat dan memperbaiki niat. Ia menyebut, hijrah tidak akan sempurna tanpa kejujuran kepada Allah. Sebab, setiap perubahan yang tidak dilandasi niat ikhlas akan mudah goyah ketika diuji.
Ia turut mengingatkan firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 8 tentang pentingnya taubat nasuha. Menurutnya, taubat yang sungguh-sungguh menjadi bagian utama dari proses hijrah. Dalam kalam Hikmah orang tua Aceh teumpo dulu; Leupah jak riwang, leupah cok pulang.
“Hijrah harus dimulai dari taubat. Taubat dari dosa yang tampak maupun yang tersembunyi. Taubat dari maksiat mata, lisan, hati, dan perbuatan. Setelah itu, kita berusaha istiqamah, walaupun pelan-pelan,” ujarnya.
Ustadz Akmal menegaskan, istiqamah merupakan tantangan terbesar setelah seseorang memutuskan berhijrah. Karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjaga lingkungan yang baik, memperbanyak hadir di majelis ilmu, memperbaiki shalat, membaca Al-Qur’an, serta tidak meninggalkan doa.
“Jangan pernah merasa terlambat untuk berubah. Selama Allah masih memberi umur, selama itu pula pintu hijrah dan taubat terbuka. Yang penting kita jujur, mau memperbaiki diri, dan tidak bermain-main dengan dosa,” pungkasnya.
Pengajian rutin malam Jumat di Balee Al Ihsan selama ini menjadi ruang pembinaan keagamaan bagi jamaah. Kegiatan tersebut terus dilaksanakan secara konsisten ba’da Isya sebagai sarana memperkuat ilmu, iman, dan ukhuwah di tengah masyarakat.
