Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Idul Adha, Ini 3 Amalan yang Harus Dihidupkan

Idul Adha, Ini 3 Amalan yang Harus Dihidupkan

Jum`at, 31 Juli 2020 10:33 WIB

Font: Ukuran: - +



Hari ini Jumat 10 Dzulhijjah bertepatan 31 Juli 2020 umat Islam sedunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah. Ada tiga amalan yang harus dihidupkan di hari raya tersebut.

Apa saja ketiga amalan tersebut? Berikut penjelasan Ustaz Hanif Luthfi (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah". (Baca Juga: Adab dan Amalan Sunnah bagi Perempuan pada Hari Raya Idul Adha)

1. Takbiran

Dalam Mazhab Hambali memang disunnahkan untuk melakukan takbiran sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Selain karena itu bagian dari amal shalih, juga secara praktik ada beberapa sahabat yang sudah melakukannya. Takbir ini adalah takbir mutlak, yaitu takbir yang pembacaannya tak mengikuti waktu-waktu salat wajib. Akan tetapi dibaca kapan pun dan dimana pun sebagai sebuah dzikir yang mulia. Dalam Madzhab Syafi'i, takbir mutlak atau juga disebut takbir mursal, dimulai sejak terbenamnya matahari 9 Arafah. Atau tepat di Maghrib malam hari raya.

Walaupun ada juga sebagian ulama Syafi'iyyah mengatakan bahwa permulaan takbir mutlak adalah sejak fajar shidiq hari Arafah. Sedangkan waktu akhir dari takbir mutlak ini adalah sebelum maghrib tanggal 13 Dzulhijjah. Sedangkan untuk takbir muqayyad, maka dimulai sejak habis Maghrib malam Hari Raya Idul Adha hingga habis ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Dan takbir muqayyad hendaknya dibaca terlebih dahulu sebelum berdzikir rutin setelah salat fardhu.

Bahkan di malam Hari Raya Idul Adha kita dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Al-Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

"Sesungguhnga doa dikabulkan pada 5 malam yaitu awal bulan Rajab, malam Nishfu Sya'ban, malam Idul Fitri, malam Idul Adha dan malam Jum'at".

2. Salat Idul Adha

Dalam Surah Al-Kautsar, Allah Ta'ala berfirman: "Maka salatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah hewan kurban". (QS. Al-Kautsar: ayat 2). Beberapa ulama di antaranya Qatadah, Atha' dan Ikrimah menyebutkan bahwa perintah untuk mengerjakan salat dalam ayat ini maksudnya adalah Salat Ied. Ibnu Al-Abbas radhiyallahuanhu juga berpendapat yang sama. Awalnya Rasulullah SAW melakukan penyembelihan terlebih dahulu baru kemudian melakukan salat. Dengan turunnya ayat ini, maka beliau SAW diperintahkan untuk melakukan salat terlebih dahulu baru menyembelih. Dan salat yang dimaksud tentu salat Idul Adha.

Disyariatkannya Salat Ied antara lain berdasarkan hadis dari Anas bin Malik RA berkata bahwa orang-orang jahiliyah punya dua hari dalam setiap tahun dimana mereka bermain-main untuk merayakannya. Ketika Rasulullah SAW tiba hijrah di Madinah, beliau bersabda: "Dahulu kalian punya dua hari untuk merayakan, lalu Allah menggantinya bagi kalian yang lebih baik, yaitu hari Fithr dan hari Adha. (HR. An-Nasai').

Mengenai pelaksanaan Salat Idul Adha di masa pandemi tahun 2020 ini, maka hal itu disesuaikan dengan keadaan masing-masing daerah dengan mengikuti perintah dari Ulil Amri dan arahan dari para ulama yang kredibel. (Baca Juga: Inilah Penampilan Terbaik Muslimah Saat Salat Ied)

3. Menyembelih Kurban

Ibadah kurban disyariatkan untuk kita umat Nabi Muhammad ??? ???? ???? ???? karena di dalamnya ada keutamaan ampunan, keutamaan pahala berbagi, bahkan sekadar menyaksikan prosesinya saja bagi yang tidak mampu menyembelih sendiri, juga merupakan keutamaan. Itulah ibadah kurban yang merupakan amalan tercinta seorang hamba di sisi Allah Ta'ala pada hari raya.

Tiga alasan kenapa kita harus berkurban di Hari Raya Idul Adha, di antaranya (1) mengagungkan syiar Allah 'Azza wa Jalla, (2) memenuhi perintah Allah Ta'ala dan Rasulullah SAW, (3) amalan yang paling utama.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari Nahr kecuali menyembelih hewan kurban. Hewan itu nanti pada hari Kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya, dan darah itu di sisi Allah Ta'ala segera menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah". (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah). (ZU)

Editor :
Zulkarnaini

riset-JSI
Komentar Anda