Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Jelang Idulfitri, Ribuan Warga Aceh Tamiang dan Aceh Utara Masih di Tenda Pengungsian

Jelang Idulfitri, Ribuan Warga Aceh Tamiang dan Aceh Utara Masih di Tenda Pengungsian

Kamis, 19 Maret 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Suasana tenda pengungsian korban banjir di Aceh yang masih dihuni warga. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, ribuan warga korban bencana banjir di sejumlah kabupaten di Aceh masih harus menjalani hari-hari mereka di tenda pengungsian. Padahal, banjir besar yang melanda wilayah tersebut telah terjadi sejak 26 November 2025 atau hampir empat bulan yang lalu.

Kondisi ini menjadi ironi di tengah suasana masyarakat yang bersiap menyambut Lebaran. Sementara sebagian warga mulai membersihkan rumah dan mempersiapkan kebutuhan hari raya, para korban banjir masih bergulat dengan keterbatasan fasilitas dan ketidakpastian kapan dapat kembali ke rumah mereka.

Berdasarkan data dari dashboard Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dikutip media Dialeksis.com pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 18.00 WIB, ribuan pengungsi masih tersebar di sejumlah kabupaten di Aceh.

Kabupaten dengan jumlah pengungsi tertinggi yakni Aceh Tamiang dengan sekitar 2.000 jiwa. Disusul Aceh Utara sebanyak 1.700 jiwa. Sementara di wilayah dataran tinggi, Kabupaten Gayo Lues tercatat memiliki 375 pengungsi, diikuti Aceh Tengah 364 jiwa.

Di daerah lain, jumlah pengungsi juga masih cukup signifikan. Kabupaten Pidie Jaya tercatat memiliki 276 jiwa yang masih tinggal di pengungsian, Bener Meriah 234 jiwa, Nagan Raya 69 jiwa, serta Aceh Timur sebanyak 61 jiwa.

Tidak hanya menimbulkan pengungsian berkepanjangan, banjir juga menyebabkan kerusakan rumah warga dalam jumlah besar. Data BNPB mencatat total 255.051 unit rumah terdampak akibat bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh dan sekitarnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 45.464 rumah mengalami kerusakan berat. Kemudian 60.307 rumah mengalami kerusakan sedang, sementara 149.280 rumah lainnya tercatat mengalami kerusakan ringan.

Besarnya jumlah kerusakan tersebut menjadi salah satu penyebab lambatnya proses pemulihan bagi masyarakat terdampak. Banyak warga yang hingga kini belum bisa kembali ke rumah mereka karena kondisi bangunan yang tidak layak huni.

Direktur Eksekutif Apel Green Aceh, Rahmat Syukur, menilai kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan pascabencana masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Rahmat mengatakan, situasi para pengungsi yang masih tinggal di tenda hingga menjelang Lebaran menjadi gambaran nyata bahwa proses pemulihan belum berjalan optimal.

“Sudah hampir empat bulan sejak banjir melanda, namun masih banyak masyarakat yang bertahan di tenda pengungsian. Ini tentu sangat memprihatinkan, apalagi kita sudah berada di penghujung Ramadan dan akan memasuki Idulfitri,” kata Rahmat Syukur kepada media dialeksis.com.

Ia menilai pemerintah perlu mempercepat proses penanganan pascabencana, khususnya terkait pembangunan kembali rumah warga yang rusak serta penyediaan hunian sementara yang lebih layak.

Menurutnya, kehidupan di tenda pengungsian dalam jangka waktu lama bukanlah kondisi yang ideal bagi masyarakat, terlebih bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan.

“Momentum Idulfitri seharusnya menjadi waktu bagi masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga di rumah masing-masing. Namun bagi para korban banjir ini, mereka justru masih harus menghadapi kehidupan yang serba terbatas di pengungsian,” ujarnya.

Rahmat juga berharap pemerintah daerah dan pusat dapat memperkuat koordinasi agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih cepat, sehingga para pengungsi tidak terlalu lama hidup dalam kondisi darurat.

Ia menegaskan bahwa bencana banjir yang terjadi beberapa bulan lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dampak sosial dan psikologis bagi masyarakat terdampak.

“Yang kita khawatirkan bukan hanya kerusakan rumah, tetapi juga kondisi mental masyarakat yang sudah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian. Karena itu, percepatan penanganan sangat penting agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI