Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Kala Dekranasda Aceh Kunjungi Desa Miruek Taman

Kala Dekranasda Aceh Kunjungi Desa Miruek Taman

Minggu, 21 Juli 2019 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Wakil Ketua I Dekranasda Aceh, Dr Ir Dyah Erti Idawati MT bersama Wakil Ketua Harian Dekranasda Aceh Besar Ny Mahdalena Iskandar memperlihatkan kain songket khas Aceh disela kegiatan pembinaan dan penilaian gampong kerajinan di Gampong Miruek Taman Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (19/7/2019) sore. [foto : mc aceh besar]


 

DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Tim Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Aceh melakukan peninjauan, pembinaan dan penilaian gampong (desa-red) kerajinan kain tenun adat Aceh atau songket khas Aceh, di Gampong Miruek Taman Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (19/7/2019) sore.

Kehadiran tim penilaian gampong kerajinan tingkat Provinsi Aceh dipimpin Wakil Ketua I Dekranasda Aceh Dr Ir Dyah Erti Idawati MT bersama sejumlah pengurus Dekranasda Aceh. Kedatangan tim penilai disambut Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Aceh Besar, Taufiq SH, Wakil Ketua Harian Dekranasda Aceh Besar Ny Mahdalena Iskandar dan pengurus Dekranasda Aceh Besar, Kepala Baitul Mal Aceh Besar Drs Zamri A Rafar, Muspika Darussalam, Keuchik Miruek Taman dan masyarakat setempat serta penampilan fashion show dengan kain tenun songket produksi pengrajin Miruek Taman.

Menurut Wakil Ketua I Dekranasda Aceh, program Dekranasda saat ini untuk membangkitkan kembali berbagai kerajinan khas Aceh, termasuk didalamnya kain tenun atau songket khas Aceh. "Potensi pengrajin yang ada di Gampong Miruek Taman patut mendapat apresiasi dalam memajukan dan sekakigus melestarikan usaha tenun songket Aceh," kata Dr Ir Dyah Erti Idawati MT, di sela-sela penilaian gampong tersebut.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar harus terus memotivasi para pengrajin yang mayoritas merupakan kaum wanita untuk terus berkarya dan memberikan hasil terbaik guna meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan kelompok serta keluarga masing-masing. Untuk itu langkah dalam produksi songket harus dilakukan terobosan seperti kerjasama dengan perbankan, CSR dari BUMN atau kerjasama dengan berbagai lembaga pemasaran. "Peminat tenun Aceh sangat ramai, untuk itu produksi juga harus diperbanyak agar permintaan dapat dipenuhi. Ini tantangan bagi para pengrajin," katanya.

Dr Dyah Erti Idawati yang juga istri Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT, menegaskan bahwa pihaknya sudah banyak berbuat banyak untuk pengrajin. "Nanti akan lihat apa yang bisa dibantu propinsi dalam hal ini, yang penting songket Aceh di Miruek Taman bisa hidup dan marak, karena saat ini anak-anak muda sudah mulai meminatinya," tuturnya.

Disinggung soal pemasaran, Dr Dyah Erti Idawati, menegaskan bahwa tidak perlu ditakutkan oleh masyarakat karena animo untuk memiliki songket Aceh sangat besar. "Beberapa tamu saya sudah meminta berkali-kali mereka pesan dan itu kita tidak pernah bisa memenuhi. Untuk para pengrajin harus giat untuk produksi," pintanya.

Lebih lanjut Ia menegaskan kerajinan songket Aceh Besar ini harus bisa bersaing dengan daerah lain tentu dengan kreativitas dan inovasi-inovasi baru sesuai dengan zaman dan permintaan pasar. Untuk itu, kedepan Dekranasda propinsi nanti akan mencari solusi yang nyata, karena ini harus dibantu untuk memajukan para pengrajin yang ada di Propinsi Aceh. "Kami minta instansi terkait agar dapat melakukan pembinaan secara berkelanjutan, sebab Aceh Besar memiliki prospek cerah dalam bidang kerajinan kain tenun songket," pungkas Dr Ir Dyah Erti Idawati MT.

Sementara Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Kabupaten Aceh Besar Taufiq SH mengatakatan pihaknya berkomitmen untuk memajukan dan memberdayakan para pengrajin agar kesejahteraan masyarakat terus meningkat.

Menurutnya, kain songket khas Aceh yang ada di Gampong Miruek Taman sudah masuk dalam agenda pembinaan Dekranas Aceh, dan ini merupakan tahun kedua. "Kita terus mencoba membangkitkan kembali tenun yang memang dulu pernah jaya di Gampong Siem Kecamatan Darussalam," ujarnya.

Dalam upaya membangkitkan kembali tenun tersebut, pihaknya sudah menjajaki kerjasama dengan Bank Indonesia, baik dalam bentuk pelatihan maupun bahan baku, kemudian dari dinas juga melakukan studi banding guna menambah wawasan dan motivasi dari pengrajin yang ada di kawasan Miruek Taman. Untuk itu, pengrajin tenun tersebut juga sudah melakukan studi banding ke Palembang, Sumatera Selatan beberapa bulan lalu. "Upaya memajuan tenun Aceh, Diskop UKM dan Perdagangan Aceh Besar bersama Dekranasda sudah membantu pembangunan pondok, untuk kelompok pengrajin yang ada di Gampong Miruek Taman, Gampong Siem, dan Krueng Kale, ini tiga kelompok merupakan binaan dekranas yang akan terus dilanjutkan pengembangannya.” kata Taufiq.

Dalam pemasaran kain tenun ini, menurut Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Aceh Besar pengrajin malah kewalahan dalam memenuhi permintaan, sehingga banyak pesanan yang tidak bisa dipenuhi karena prosesnya agak lama.

Makanya dari sekarang sudah mengembangkan bagaimana pengrajin pemula di didik untuk memenuhi permintaan pasar, karena selama ini memang agak kurang peminatnnya bisa jadi kerena dari segi pendapatannya agak kecil. “Kedepan saya berharap dengan adanya motif-motif baru, para pengrajin ini akan mendapatkan pendapatan yang lebih baik kedepan,” harapnya.

Pada kesempatan itu,Taufiq berharap Gampong Miruek Taman dapat meraih prestasi terbaik sehingga bisa membawa harum nama daerah serta kerajinan tenun yang digeluti masyarakat juga makin berkembang dan maju. "Kami berharap Pemerintah Aceh melalui Dekranasda Provinsi Aceh untuk terus memberikan perhatian dengan memberikan pelatihan dan promosi hasil produksi sehingga gampong kerajinan ini menjadi mandiri dan upaya mensejahterakan perajin akan tercapai di masa mendatang," demikian Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Aceh Besar. (pd/rel)


Editor :
Pondek

Tsunami
Komentar Anda