Minggu, 06 September 2026
Beranda / Berita / Aceh / Kitab Rusak Akibat Banjir, Santri Dayah Butuh Bantuan

Kitab Rusak Akibat Banjir, Santri Dayah Butuh Bantuan

Minggu, 06 September 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pimpinan Dayah Riyadhatul Qulub Punteut, Lhokseumawe, Dr. (C) Tgk. H. Nasruddin, S.Sy., M.Ag. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Kebutuhan kitab bagi santri dayah dinilai semakin mendesak, terutama setelah sejumlah dayah di Aceh terdampak banjir yang menyebabkan banyak kitab santri terendam, rusak, bahkan tidak lagi dapat digunakan.

Pimpinan Dayah Riyadhatul Qulub Punteut, Lhokseumawe, Dr. (C) Tgk. H. Nasruddin, S.Sy., M.Ag., mengatakan kitab memiliki posisi penting dalam proses pendidikan di dayah. Hampir seluruh kegiatan belajar, mengaji, serta pendalaman ilmu agama para santri menggunakan kitab sebagai sumber utama pembelajaran.

“Menurut pandangan saya, kebutuhan kitab bagi santri dayah pascabanjir sangat mendesak. Kitab merupakan jantung pendidikan dalam dunia dayah, karena hampir seluruh proses belajar, mengaji, dan pendalaman ilmu agama sangat bergantung pada kitab,” kata Tgk. H. Nasruddin kepada media dialeksis.com, Minggu, 6 September 2026.

Ia menjelaskan, banjir yang melanda sejumlah wilayah turut berdampak terhadap perlengkapan belajar santri. Tidak sedikit kitab yang terendam air sehingga rusak dan tidak dapat digunakan kembali.

Kondisi tersebut, kata dia, secara langsung memengaruhi kegiatan belajar santri. Persoalan menjadi semakin berat karena sebagian besar santri berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Setelah sejumlah dayah terdampak banjir, banyak kitab santri yang terendam, rusak, bahkan tidak bisa lagi digunakan. Kondisi ini tentu sangat memengaruhi kegiatan belajar para santri,” ujarnya.

Menurutnya, bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, membeli kembali kitab yang rusak akibat banjir bukan perkara mudah. Padahal, kitab merupakan kebutuhan utama yang harus dimiliki santri untuk mengikuti proses pembelajaran.

“Karena itu, bantuan kitab bagi santri pascabanjir sangat dibutuhkan. Memenuhi kebutuhan kitab sama halnya dengan membantu menghidupkan kembali proses pendidikan di dayah,” katanya.

Ia berharap persoalan tersebut tidak menyebabkan santri kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memperdalam ilmu agama.

“Jangan sampai akibat musibah banjir dan keterbatasan ekonomi, santri kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pembelajaran,” tambahnya.


Biaya Kitab Jadi Beban Santri

Selain dampak banjir, Tgk. H. Nasruddin juga menyoroti persoalan biaya pembelian kitab yang selama ini menjadi salah satu tantangan bagi santri, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan lebih tinggi.

Menurutnya, kebutuhan kitab akan semakin banyak ketika santri memasuki kelas-kelas akhir. Kondisi tersebut membuat biaya yang harus dikeluarkan keluarga santri juga semakin besar.

“Menurut yang saya lihat, persoalan kitab di dayah merupakan persoalan yang serius dan tidak boleh dianggap sepele. Terutama bagi santri yang sudah berada di kelas 6, kebutuhan kitab semakin banyak dan biaya yang harus dikeluarkan juga cukup mahal,” jelasnya.

Ia menyebutkan, keterbatasan ekonomi keluarga dapat membuat sebagian santri menunda membeli kitab. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan mengikuti pelajaran dan proses pengajian di dayah.

“Ada santri yang terpaksa menunda membeli kitab, kesulitan mengikuti pelajaran, bahkan dikhawatirkan tidak mampu melanjutkan pendidikan di dayah,” katanya.

Menurut dia, apabila persoalan tersebut tidak segera dicarikan solusi, biaya kitab dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat keberlangsungan pendidikan santri.

“Kalau persoalan ini tidak segera dicarikan solusi, saya melihat ke depan hal ini bisa menjadi salah satu persoalan serius bagi kelangsungan pendidikan dayah,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta perhatian dari berbagai pihak agar kebutuhan kitab santri dapat menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat pendidikan dayah di Aceh.

“Jangan sampai keterbatasan ekonomi menjadi alasan seorang santri berhenti menuntut ilmu,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tgk. H. Nasruddin juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Mualem dan Fadlullah atas perhatian terhadap dayah dan santri, khususnya melalui program penyaluran kitab dan Al-Qur'an.

Ia menilai bantuan tersebut sangat berarti bagi santri, terutama mereka yang terdampak banjir dan berasal dari keluarga kurang mampu.

“Saya sebagai pimpinan dayah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Mualem, Fadlullah atas perhatian dan kepeduliannya terhadap dayah dan santri, khususnya melalui bantuan kitab dan Al-Qur’an,” katanya.

Menurutnya, bantuan kitab dan Al-Qur'an tidak hanya meringankan beban ekonomi santri dan keluarga, tetapi juga membantu memastikan kegiatan belajar dan pengajian di dayah tetap berjalan.

“Bantuan tersebut sangat berarti, terutama bagi dayah yang terdampak banjir. Selain meringankan beban santri dan keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi, bantuan kitab dan Al-Qur’an juga sangat membantu keberlangsungan proses belajar dan pengajian di dayah,” ujarnya.

Ia berharap program tersebut tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi dapat dilanjutkan secara berkelanjutan setiap tahun.

“Kami sangat mengapresiasi perhatian Pemerintah Aceh kepada dayah dan santri. Semua pihak harus mendukung program ini,” kata Tgk. H. Nasruddin.

Ia bahkan mengusulkan agar pengadaan kitab untuk dayah dapat dilakukan secara rutin setiap tahun, sebagaimana pemerintah menyediakan buku bagi lembaga pendidikan umum melalui dinas terkait.

“Ke depan, kami berharap pengadaan kitab dapat dilakukan setiap tahun secara berkelanjutan, sebagaimana pengadaan buku di Dinas Pendidikan. Dengan demikian, kebutuhan kitab para santri di seluruh Aceh dapat terus terpenuhi,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub