DIALEKSIS.COM | Aceh - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh memacu pemulihan konektivitas jalan dan jembatan pascabanjir dan longsor. Kepala Dinas PUPR Aceh, Ir. Mawardi, S.T., mengatakan prioritas utama saat ini adalah membuka kembali koridor logistik agar bantuan kemanusiaan dan mobilitas warga tidak terhenti.
“Dalam situasi darurat, jalan yang fungsional adalah urat nadi. Ia menentukan seberapa cepat bantuan sampai dan seberapa cepat ekonomi bisa bergerak kembali,” kata Mawardi.
Mawardi menyoroti secara khusus ruas Perlak - Lokop - Batas Gayo Lues, yang dinilainya strategis sebagai jalur konektivitas lintas timur menuju Blangkejeren, Gayo Lues.
“Ruas ini menjadi strategis karena menghubungkan lintas timur dengan jalan nasional Lokop-Blangkejeren. Hari ini alat-alat berat PUPR sudah menerobos di STA 103 - 105. Artinya, jarak menuju Batas Gayo Lues tinggal sekitar lima kilometer lagi,” ujarnya saat ditanyakan Dialeksis pada Jumat (9/1/2026) terkait perkembangan akses jalan pasca bencana.
Melalui ruas ini, Mawardi berharap logistik dapat lebih cepat tiba di Blangkejeren via Aceh Timur, tanpa harus memutar jauh ke jalur lain yang masih terdampak longsoran berat.
Namun ia mengakui tantangan belum selesai. Dari Batas Aceh Timur menuju Blangkejeren masih ada sekitar 10 kilometer yang harus ditembus.
“Karena itu keputusan Gubernur memperpanjang masa tanggap darurat sangat tepat. Masih ada pekerjaan kritis di lapangan yang harus diselesaikan agar konektivitas benar-benar kembali hidup,” katanya.
Mawardi juga mengungkapkan tantangan tambahan di wilayah Gayo Lues. Pada beberapa segmen, badan jalan amblas.
“Saat ini baru bisa dilewati kendaraan roda dua hingga Pinding. Apabila penanganan darurat di titik ini tertangani, maka ruas sudah tersambung langsung dengan Blangkejeren,” ujarnya.
Laporan harian PUPR Aceh pada Rabu, 8 Januari 2026, mencatat kegiatan pengendalian dan pembersihan longsoran pada ruas Peureulak-Lokop-Batas Gayo Lues berlangsung intensif.
Kegiatan utama meliputi: pembuatan jalan sementara di Km 83+800 dengan progres mencapai 85 persen sedangkan pembersihan longsoran yang menutup badan jalan di rentang titik: Km 102+400, Km 102+450, Km 102+500, Km 102+700, Km 102+750, Km 102+800, Km 102+900, Km 103+000, Km 103+100, dan Km 103+150.
Pertemuan membahas pengendalian dan pembersihan longsoran. [Foto: dok. PUPR Aceh]Pada pekerjaan ini dikerahkan gunakan 5 excavator (4 unit PUPR Aceh, 1 unit swasta), 4 buldozer D7 (3 unit PUPR Aceh, 1 unit swasta), dan 1 motor grader milik PUPR Aceh
Sejumlah titik telah selesai dibersihkan, yakni Km 102+400 hingga Km 103+000. Sisanya dikejar progres secara bertahap.
Kendala lapangan juga terang benderang: komunikasi seluler terputus, tidak ada listrik, jarak konsumsi bagi pekerja cukup jauh, sementara cuaca mendung dan hujan dari pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Meski begitu, pekerjaan tetap berjalan.
Menurut Mawardi, tim PUPR mengadopsi strategi triase darurat lebih dulu sebelum rekonstruksi permanen. “Strategi kami dua lapis. Pertama, memastikan kendaraan logistik bisa lewat secepat mungkin. Kedua, menyiapkan perkuatan permanen setelah kondisi stabil,” katanya.
Mawardi menegaskan pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pembukaan akses.
“Yang kita bangun bukan hanya jalan, tetapi ketahanan konektivitas. Rekonstruksi harus memasukkan mitigasi jangka panjang: penguatan lereng, drainase, dan pengelolaan kawasan hulu,” katanya.
Pelajaran utama dari bencana ini, tegas Mawardi, akses harus pulih dulu, lalu diperkuat agar lebih tahan terhadap cuaca ekstrem di masa depan.
“Konektivitas bukan sekadar mobilitas. Di baliknya ada obat yang harus sampai, ada pangan untuk pengungsian, dan ada ekonomi warga yang bertahan hidup,” ujarnya. [arn]