Rabu, 23 September 2026
Beranda / Berita / Aceh / Lima Siswa SMA 3 Banda Aceh Dikeluarkan Usai Terlibat Pengeroyokan Senior Terhadap Junior

Lima Siswa SMA 3 Banda Aceh Dikeluarkan Usai Terlibat Pengeroyokan Senior Terhadap Junior

Selasa, 22 September 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kepala SMA Negeri 3 Banda Aceh, Drs. Muzakkir, M.Pd. Foto istimewa.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala SMA Negeri 3 Banda Aceh, Drs. Muzakkir, M.Pd., memberikan klarifikasi terkait insiden yang melibatkan sejumlah siswa dan sempat viral di media sosial.

Muzakkir mengatakan, pihak sekolah telah melakukan mediasi setelah menerima informasi mengenai kejadian tersebut. Menurutnya, insiden itu terjadi pada Jumat dan pihak sekolah kemudian melakukan mediasi pada Sabtu.

“Sabtu sudah kita mediasi. Sudah ada titik temu dan sudah kita selesaikan. Yang luka kita obati,” kata Muzakkir saat dikonfirmasi Dialeksis.com, Selasa (22/9/2026).

Ia menjelaskan, persoalan tersebut melibatkan sesama siswa. Pihak sekolah, kata dia, berupaya menyelesaikan persoalan melalui mekanisme pembinaan dan mediasi karena seluruh siswa yang terlibat merupakan bagian dari keluarga besar sekolah.

“Yang korban ini juga anak saya, yang pelaku juga anak saya. Jadi saya di sekolah sebagai orang tua harus saya selesaikan,” ujarnya.

Muzakkir menegaskan, pihak sekolah tidak membedakan siswa dalam menangani persoalan tersebut. Setiap siswa yang terbukti melakukan kesalahan akan mendapatkan tindakan sesuai ketentuan sekolah.

“Anak pejabat atau bukan, semuanya sama. Di sekolah kita pandang sama. Kalau memang salah, nanti kita tindak,” tegasnya.

Dalam keterangan tertulis sekolah, berdasarkan hasil verifikasi faktual, terdapat lima siswa yang dinyatakan terbukti terlibat secara aktif dalam insiden tersebut. Terhadap kelima siswa itu, sekolah telah mengambil tindakan berupa pengeluaran dari sekolah sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, terhadap satu siswa lainnya, sekolah masih melakukan pendalaman dan klarifikasi karena belum ditemukan bukti keterlibatan aktif. Jika hasil pendalaman nantinya menunjukkan adanya keterlibatan, sekolah akan mengambil tindakan sesuai aturan.

Sekolah juga menyatakan akan memberikan pendampingan kepada siswa yang menjadi korban untuk mendukung pemulihan kondisi fisik dan psikologisnya melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK) sesuai kebutuhan.

Muzakkir juga mengimbau keluarga korban dan seluruh pihak agar tidak menyebarluaskan foto, video, identitas, maupun informasi pribadi korban melalui media sosial.

Menurut sekolah, penyebaran konten tersebut berpotensi menambah tekanan psikologis dan menghambat proses pemulihan korban.

Terkait informasi yang mengaitkan dua siswa lainnya dengan insiden tersebut, pihak sekolah menyatakan hasil verifikasi menunjukkan kedua siswa itu tidak berada di lokasi kejadian saat insiden berlangsung.

“Foto yang beredar dan dikaitkan dengan peristiwa tersebut juga tidak berkaitan dengan insiden pengeroyokan yang dimaksud,” demikian keterangan sekolah.

Selain itu, sekolah akan memberikan pembinaan terhadap perilaku siswa yang memamerkan atau memperlihatkan barang maupun aktivitas tertentu melalui media sosial. Pembinaan dilakukan berdasarkan tata tertib dan prosedur yang berlaku di sekolah.

Muzakkir mengatakan, sekolah tetap membuka ruang komunikasi dan penyelesaian secara baik melalui mekanisme yang telah ditetapkan.

Ia menegaskan, sekolah berkomitmen menjaga keamanan, kenyamanan, perlindungan, serta hak seluruh peserta didik melalui penanganan yang objektif, proporsional, dan sesuai aturan.

“Sekolah itu mendidik, membina dan membimbing. Mudah-mudahan ini menjadi proses edukasi bagi kita semua. Sekolah ini tanggung jawab kita semuanya, tanggung jawab moral,” pungkas Muzakkir. [nh]

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI