Selasa, 26 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Listrik Aceh Selalu Padam, Akademisi Unimal Sebut PLN Hanya Lip Service

Listrik Aceh Selalu Padam, Akademisi Unimal Sebut PLN Hanya Lip Service

Senin, 25 Mei 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Akademisi Universitas Malikussaleh (UNIMAL), Teuku Kemal Fasya. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemadaman listrik kembali terjadi di sejumlah wilayah Aceh pada Senin malam dan memicu kemarahan masyarakat.

Seluruh wilayah di Aceh dilaporkan mengalami mati lampu secara bergilir. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, apakah Aceh kembali mengalami blackout seperti sebelumnya.

Akademisi Universitas Malikussaleh (UNIMAL), Teuku Kemal Fasya menilai pemadaman listrik yang terus berulang menunjukkan belum adanya keseriusan dalam penanganan krisis energi di Aceh.

Menurut Kemal, masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap pernyataan-pernyataan resmi yang disampaikan pihak PLN.

Ia menilai pengumuman sebelumnya yang menyebut kondisi listrik Aceh telah terkendali ternyata tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.

“Blang Panyang mati lampu, Panggoi, Alue Lim sampai Banda Aceh padam. Publik tentu bertanya, apakah ini blackout lagi? Kalau ternyata listrik kembali padam di banyak titik, berarti pengumuman PLN kemarin hanya sebatas lip service,” ujar Kemal kepada wartawan dialeksis.com, Senin (25/5/2026).

Ia mengatakan, persoalan listrik di Aceh bukan lagi sekadar gangguan teknis biasa, tetapi sudah menjadi persoalan serius yang berdampak langsung terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, kata dia, warga Aceh terus hidup dalam ketidakpastian akibat pemadaman mendadak yang terjadi berulang kali.

“Yang paling membuat masyarakat marah bukan hanya listrik padam, tetapi PLN seolah diam seribu bahasa. Tidak ada penjelasan yang transparan, tidak ada kepastian kapan masalah ini selesai,” katanya.

Sebagai antropolog dan pengamat sosial-politik, Kemal melihat krisis listrik juga mencerminkan lemahnya tata kelola pelayanan publik di Aceh.

 Ia menilai negara, melalui perusahaan listrik negara, seharusnya mampu memberikan rasa aman dan kepastian kepada masyarakat, terutama untuk kebutuhan dasar seperti energi.

“Listrik hari ini bukan kebutuhan mewah. Ini kebutuhan dasar masyarakat modern. Ketika listrik padam terus-menerus tanpa penjelasan yang jelas, maka kepercayaan publik terhadap institusi negara ikut runtuh,” ujarnya.

Kemal juga menyoroti dampak sosial yang mulai dirasakan masyarakat akibat pemadaman berkepanjangan. Aktivitas usaha kecil terganggu, pekerjaan rumah tangga terhambat, hingga pelayanan publik dan aktivitas pendidikan ikut terkena imbas.

Menurutnya, masyarakat Aceh selama ini terlalu sering diminta bersabar tanpa pernah diberikan solusi konkret. Ia menilai pola komunikasi PLN cenderung defensif dan tidak menyentuh akar persoalan.

“Setiap kali ada gangguan, masyarakat hanya diminta memahami kondisi. Tetapi sampai kapan? Publik membutuhkan roadmap yang jelas. Apa sebenarnya masalah utama kelistrikan Aceh? Apakah pembangkitnya bermasalah, distribusinya lemah, atau memang ada krisis pasokan energi?” kata Kemal.

Ia menegaskan, jika persoalan listrik tidak segera ditangani secara serius, maka dampaknya bukan hanya pada pelayanan masyarakat, tetapi juga pada iklim investasi Aceh ke depan. Investor, kata dia, membutuhkan jaminan stabilitas energi sebelum menanamkan modalnya.

“Kita sering bicara investasi masuk ke Aceh, industri tumbuh, ekonomi bergerak. Tapi bagaimana investor mau percaya kalau listrik saja terus padam? Ini persoalan mendasar,” ujarnya lagi.

Kemal juga mendesak pemerintah daerah agar tidak bersikap pasif dalam menghadapi persoalan tersebut. Menurutnya, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota harus lebih aktif menekan PLN agar memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat.

“Pemerintah daerah jangan hanya menjadi penonton. Harus ada keberanian meminta penjelasan resmi dan memastikan hak masyarakat atas pelayanan listrik terpenuhi,” tegasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI