DIALEKSIS.COM | Aceh - Banjir besar yang melanda wilayah Aceh sejak Selasa (25/11/2025) memaksa ribuan mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) dan warga sekitar kampus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Rektor Universitas Malikussaleh, Prof. Dr. Herman Fithra, Asean Eng, menjelaskan bahwa Unimal langsung mengambil langkah cepat dan drastis untuk menyelamatkan masyarakat serta menjaga keselamatan civitas akademika.
Peristiwa bermula ketika laporan pertama masuk kepada Rektor pada Selasa sore, bahwa kawasan Reuleut, lokasi kampus utama Unimal di Kabupaten Aceh Utara, telah tergenang air dan masyarakat bersama mahasiswa mulai mengungsi ke Reuleut Timur. Situasi kian memburuk saat malam hari air naik hingga setinggi pinggang.
“Saya mendapat laporan dari masyarakat dan mahasiswa bahwa banjir sudah tinggi dan mereka berharap saya hadir ke sana. Maka saya segera berkoordinasi dengan pimpinan kampus dan memutuskan untuk meliburkan seluruh kegiatan akademik tanggal 26-27 November,” ujar Prof Herman Fithra saat dihubungi oleh media dialeksis.com, Minggu (30/11/20250.
Pada Rabu pagi (26/11/2025), Rektor bersama tim menuju lokasi banjir dan mendapati ketinggian air telah mencapai sekitar 3 meter di sejumlah titik. Evakuasi dilakukan menggunakan perahu karet milik LANAL, truk taktis milik ARHANUD, dan rangkaian rakit darurat yang dibuat mahasiswa serta relawan.
“Evakuasi berlangsung sangat sulit. Banyak mahasiswa dan warga yang terjebak di lantai dua bangunan. Bersyukur, bantuan TNI AL dan ARHANUD sangat membantu,” kata Prof. Herman.
Para pengungsi kemudian dipindahkan ke Masjid Sultan Malikussaleh dan seluruh ruang kuliah di Kampus Utama Unimal, yang segera difungsikan sebagai lokasi penampungan sementara.
Lebih dari 1.000 mahasiswa dan masyarakat kini tinggal di kamp pengungsian kampus. Unimal membuka dapur umum yang diisi oleh dosen, mahasiswa, dan relawan. Selama beberapa hari, mereka memasak menggunakan kayu bakar karena logistik gas tidak tersedia.
“Alhamdulillah bantuan mengalir dari dosen, alumni, dan masyarakat. Kita bisa memenuhi kebutuhan makan sampai hari Senin,” jelas Prof. Herman.
Kesulitan akses menjadi kendala utama. Truk ARHANUD yang dikirim untuk mengambil logistik ke Simpang Pulaut, titik distribusi bantuan terdekat, ikut terjebak banjir dan tidak dapat kembali.
“Banyak titik jalan yang sudah putus dan tak bisa ditembus. Informasi dari masyarakat menyebut sudah banyak korban meninggal di daerah-daerah pedalaman Aceh Utara yang belum dapat dijangkau,” tambah Rektor.
Menurut Prof Herman, kebutuhan paling mendesak saat ini berupa logistik dan obat-obatan untuk wilayah terpencil yang sepenuhnya terisolasi.
“Kami berharap pemerintah pusat mengerahkan helikopter untuk distribusi logistik karena akses darat terputus. Tanpa itu, banyak warga di pedalaman akan terus terancam,” tegasnya.
Pada Rabu sore, Unimal bersama sejumlah rektor kampus negeri di Aceh diundang rapat oleh Menteri di Jakarta untuk membahas strategi penanganan jangka pendek hingga tahun 2026.
Prof. Herman menegaskan bahwa Unimal tidak hanya bertugas mencetak akademisi, tetapi juga harus hadir sebagai institusi kemanusiaan.
“Unimal adalah kampus rakyat. Dalam situasi darurat seperti ini, kami berdiri di barisan terdepan bersama masyarakat,” tutupnya. [nh]