DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini mulai berdampak langsung pada sektor pendidikan, termasuk terhadap mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di kawasan tersebut.
Salah satu yang terdampak adalah Laili Lukman, mahasiswi S2 asal Banda Aceh yang tengah menempuh pendidikan di Ahlul Bayt International University, Teheran.
Ia mengaku harus menghadapi situasi sulit setelah kampus dan asrama ditutup akibat konflik yang berkepanjangan.
Laili, yang merupakan alumni UIN Ar-Raniry Banda Aceh dari jurusan Hukum Pidana Islam dan Kriminologi, menyebut sejak penutupan tersebut, seluruh kebutuhan hidup harus ditanggung secara mandiri.
“Sekarang asrama sudah ditutup sampai satu semester. Saya tinggal di rumah teman, dan semua kebutuhan pokok harus ditanggung sendiri,” ujar Laili kepada media dialeksis.com, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, pada awal konflik dirinya masih mampu bertahan. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi ekonomi di Iran semakin memburuk akibat inflasi yang tinggi. Harga bahan pokok melonjak drastis, sementara akses terhadap fasilitas kampus juga terhenti.
“Dari awal perang sampai sekarang, mata uang Iran terus melemah dan harga kebutuhan naik. Semua kebutuhan sehari-hari, transportasi ke kampus, hingga internet harus saya tanggung sendiri,” katanya.
Kondisi semakin diperparah dengan terbatasnya akses internet internasional. Laili mengungkapkan, mahasiswa harus menggunakan layanan VPN khusus dengan biaya tinggi untuk tetap terhubung.
“Untuk internet internasional, kami harus pakai VPN khusus. Biaya 10 GB bisa sampai Rp500 ribu, ini sangat memberatkan,” jelasnya.
Situasi ini turut mendapat perhatian dari Azwir Nazar, mantan Presiden PPI Turki dan alumni S3 Komunikasi Politik Hacettepe University, Ankara.
Ia menilai Pemerintah Aceh perlu segera mengambil langkah konkret untuk membantu mahasiswa Aceh yang terdampak konflik di luar negeri.
“Saya mendapat informasi dari jaringan alumni bahwa ada mahasiswi kita di Teheran yang terdampak perang. Kampus dan asramanya ditutup, sehingga ia harus mencari tempat tinggal sendiri tanpa dukungan biaya dari kampus,” ujar Azwir.
Menurutnya, kondisi ini bukan pertama kali terjadi. Ia mencontohkan pengalaman serupa yang pernah dialami mahasiswa Indonesia di beberapa negara konflik seperti Turki, Mesir, dan Sudan.
“Pemerintah perlu hadir membantu, apalagi biaya hidup saat ini meningkat tajam dan situasi di sana belum kondusif,” tegasnya.
Azwir, yang juga menjabat sebagai Sekjen Panglima Laot Aceh, berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah agar mahasiswa tersebut dapat melanjutkan studinya tanpa hambatan.
“Kita berharap Pemerintah Aceh dapat membantu adinda kita ini, terutama di masa sulit seperti sekarang, agar ia tetap bisa melanjutkan kuliah di Teheran,” pungkasnya. [nh]