DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kabar duka menyelimuti Aceh. Mantan Gubernur Aceh sekaligus tokoh senior perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Dr. H. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto, meninggal dunia pada Sabtu (13/6/2026) pukul 12.40 WIB setelah menjalani perawatan medis selama hampir satu bulan di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.
Kepergian sosok yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri Aceh Merdeka itu meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh, khususnya para mantan pejuang GAM yang pernah berjuang bersamanya selama masa konflik hingga lahirnya perdamaian Aceh.
Mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Suadi Sulaiman alias Adi Laweung, mengenang Abu Doto sebagai figur pejuang yang memiliki integritas tinggi, pemimpin yang sederhana, sekaligus intelektual yang memberikan kontribusi besar dalam perjalanan sejarah Aceh.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Hari ini Aceh kehilangan salah satu tokoh terbaiknya. Abu Doto bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga pejuang yang sejak awal mengabdikan hidupnya untuk perjuangan rakyat Aceh," ujar Adi Laweung kepada Dialeksis.com, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Adi Laweung, sosok Zaini Abdullah memiliki posisi yang sangat penting dalam struktur perjuangan Aceh Merdeka. Bahkan sejak Aceh Merdeka pertama kali dideklarasikan oleh Wali Negara Aceh, almarhum Tengku Hasan Muhammad di Tiro, Abu Doto telah dipercaya sebagai menteri dalam kabinet perjuangan.
"Beliau adalah salah satu tokoh yang sejak awal berada di lingkaran perjuangan. Doto Zaini menjadi menteri ketika Aceh Merdeka pertama kali dideklarasikan oleh Wali Negara Hasan Muhammad di Tiro. Ini menunjukkan betapa besarnya kepercayaan yang diberikan kepada beliau," kata Adi.
Sebelum terjun penuh ke dunia perjuangan, Zaini Abdullah dikenal sebagai seorang dokter yang mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Puskesmas sekaligus memimpin layanan kesehatan di Kuala Simpang, wilayah yang kini menjadi Kabupaten Aceh Tamiang.
Namun panggilan perjuangan membawanya meninggalkan zona nyaman profesinya. Ia kemudian mengikuti Hasan Tiro ke Swedia dan menjadi salah satu wajah diplomasi GAM di tingkat internasional.
"Beliau adalah contoh bagaimana seorang intelektual menggunakan ilmunya untuk membela kepentingan bangsanya. Sebagai dokter, beliau memiliki masa depan yang cerah, tetapi memilih berada di garis perjuangan bersama rakyat Aceh," ungkap Adi.
Jejak perjuangan Abu Doto memang tidak bisa dipisahkan dari diplomasi internasional yang menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan konflik Aceh. Ia menjadi bagian dari delegasi GAM dalam berbagai perundingan dengan Pemerintah Republik Indonesia, termasuk proses perdamaian di Jenewa, Swiss, melalui perjanjian Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) pada awal tahun 2000-an.
Saat proses damai berlanjut hingga lahirnya Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005, Zaini Abdullah kembali memainkan peran penting sebagai anggota tim perunding GAM.
Menurut Adi Laweung, kontribusi Abu Doto dalam jalur diplomasi merupakan salah satu warisan terbesar yang akan selalu dikenang rakyat Aceh.
"Beliau termasuk tokoh yang bekerja dalam senyap. Banyak orang melihat hasilnya, tetapi tidak semua mengetahui bagaimana beratnya perjuangan diplomasi yang beliau lakukan selama bertahun-tahun di luar negeri demi masa depan Aceh," ujarnya.
Tidak hanya berperan dalam perjuangan dan diplomasi, Abu Doto juga menjadi salah satu intelektual utama dalam proses transformasi gerakan perjuangan ke jalur politik setelah damai tercapai.
Menurut Adi, bersama Malik Mahmud Al-Haythar dan sejumlah tokoh lainnya, Zaini Abdullah ikut melahirkan Partai Aceh sebagai wadah perjuangan politik rakyat Aceh pasca-konflik.
"Setelah damai Helsinki, beliau termasuk tokoh yang sangat berperan dalam melahirkan Partai Aceh. Beliau memahami bahwa perjuangan harus dilanjutkan melalui jalur demokrasi dan pembangunan," katanya.
Perjalanan politik Zaini Abdullah mencapai puncaknya ketika ia bersama Muzakir Manaf memenangkan Pilkada Aceh tahun 2012. Kemenangan tersebut menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya Aceh dipimpin oleh pasangan yang berasal dari Partai Aceh.
Selama menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2012-2017, Abu Doto dikenal fokus pada pembangunan infrastruktur dan penguatan identitas Aceh.
Adi Laweung menilai berbagai proyek strategis yang hadir pada masa kepemimpinan Zaini Abdullah menjadi bukti nyata komitmennya terhadap pembangunan daerah.
"Banyak program besar yang lahir saat beliau memimpin Aceh. Revitalisasi Masjid Raya Baiturrahman, pembangunan dan peningkatan jalan di berbagai daerah, perluasan Bandara Sultan Iskandar Muda, pembangunan Jembatan Lamnyong dan Krueng Cut, underpass dan flyover di Banda Aceh, hingga pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Aceh. Semua itu menjadi bagian dari jejak pengabdiannya," jelas Adi.
Namun di balik berbagai capaian tersebut, Adi menilai warisan terbesar Abu Doto bukanlah bangunan fisik, melainkan keteladanan sebagai seorang pemimpin yang memadukan nilai ulama dan umara dalam satu karakter.
"Beliau berasal dari keturunan ulama, tetapi juga seorang umara yang mampu memimpin. Jarang ada figur yang bisa memadukan keduanya. Beliau santun, tenang, tidak suka mencari popularitas, tetapi bekerja untuk kepentingan rakyat Aceh," katanya.
Adi Laweung menambahkan bahwa generasi muda Aceh perlu belajar dari perjalanan hidup Zaini Abdullah yang menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan, diplomasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Abu Doto mengajarkan bahwa perjuangan memiliki banyak jalan. Beliau seorang dokter, diplomat, pejuang, politisi, sekaligus pemimpin pemerintahan. Semua peran itu dijalankan dengan dedikasi untuk Aceh," ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Adi Laweung mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk mendoakan almarhum agar seluruh amal ibadah, jasa, dan pengabdiannya diterima di sisi Allah SWT.
"Hari ini Aceh kehilangan seorang pejuang besar. Semoga seluruh kebaikan yang telah beliau persembahkan untuk Aceh menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah," pungkas Adi Laweung.