Beranda / Berita / Aceh / Mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka Ini Sukses Berbisnis Kerang

Mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka Ini Sukses Berbisnis Kerang

Minggu, 01 Agustus 2021 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Agam K

 Syardani M. Syarif atau yang akrab disapa Teungku Jamaica, saat memperlihatkan kerang hijau.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Mantan Juru Bicara Militer Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Samudra Pase, Syardani M. Syarif atau yang akrab disapa Teungku Jamaica, kini sukses melakukan budidaya kerang hijau.

Kerang tersebut juga sempat dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia dan kini dirinya fokus untuk memenuhi permintaan di sejumlah daerah di Provinsi Aceh saja. Selain itu, ia juga ikut membudidayakan tiram jumbo.

Teungku Jamaica mengatakan, awalnya itu memulai bisnis tersebut pada tahun 2015 dan menggunakan uang pribadi, dalam rentang waktu beberapa tahun kemudian budidaya kerang hijau dan tiram jumbo itu menjadi berkembang.

“Awal mulanya itu pada tahun 2015 dan menggunakan uang pribadi, saya melakukan promosi potensi tiram dan kerang hijau menawarkan ke sejumlah restoran, cafe dan warung di Banda Aceh dan sekitarnya, juga via media sosial,” ujar Jamaica kepada dialeksis.com, Minggu (1/8/2021).

Kalau sebelumnya tiramsedikitnya ada 2 kali pengiriman ke Jakarta setiap bulannya, namun karena pandemi Covid-19, permintaan menjadi berkurang

Jamaica menambahkan, dirinya melakukan budidaya kerang hijau dan tiram jumbo itu di daerah Alue Naga, Ulee Lheue, dan akan mengembangkan di Aceh Besar, Aceh Jaya dan Lhokseumawe. Pendapatan yang dihasilkan dalam setiap bulannya bisa mencapai belasan juta rupiah.

Bukan hanya itu saja, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka itu, juga ikut memasok ikan seperti kerapu, rambeu (kuwe), kakap putih dan ikan tengar ke sejumlah restoran di Kota Banda Aceh dan apabila ada yang ingin membeli lobster juga tersedia.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa kerang hijau bisa berbahaya untuk dikonsumsi, tapi itu tidak semuanya, karena lokasi budidaya di Provinsi Aceh tidak ada yang berdekatan dengan lokasi industri, jadi aman untuk dikonsumsi.

“Kalau daerah lain ada kawasan industri, jadi bisa saja hasil limbahnya itu terserap. Tapi kalau di Aceh kondisinya kan aman dan kerang hijau tersebut cukup aman untuk dikonsumsi,” tutur Jamaica.


Keyword:


Editor :
M. Agam Khalilullah

riset-JSI
distanbun 12
Komentar Anda