Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Pascalebaran 1447 H, Harga Emas di Banda Aceh Turun Jadi Rp8,1 Juta per Mayam

Pascalebaran 1447 H, Harga Emas di Banda Aceh Turun Jadi Rp8,1 Juta per Mayam

Selasa, 31 Maret 2026 22:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Harga emas di Pasar Aceh, Banda Aceh, mengalami penurunan drastis pasca Lebaran Idulfitri 2026. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Harga emas di Pasar Aceh, Banda Aceh, mengalami penurunan drastis pasca Lebaran Idulfitri 2026.

Pada Selasa (31/3/2026), logam mulia tersebut diperjualbelikan dengan harga Rp8.100.000 per mayam, belum termasuk ongkos pembuatan perhiasan yang berkisar antara Rp150.000 hingga Rp250.000 per mayam.

Penurunan ini menjadi perhatian masyarakat dan pelaku usaha emas di pusat perdagangan tersebut. Sebab, hanya sehari sebelumnya atau pada Senin (30/3/2026), harga emas masih berada di angka Rp8.200.000 per mayam.

Salah seorang pedagang emas di Pasar Aceh, Daffa, mengatakan penurunan harga ini sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, harga emas saat ini jauh lebih rendah dibandingkan posisi tertingginya pada awal tahun.

“Kalau dibandingkan dengan dua bulan lalu, penurunannya cukup terasa. Pada akhir Januari 2026 harga emas bahkan sempat menyentuh Rp10.000.000 per mayam,” kata Daffa kepada wartawan dialeksis.com, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, jika dihitung dari puncak harga tersebut, maka dalam kurun waktu sekitar tiga bulan terakhir harga emas telah turun sekitar Rp1.900.000 per mayam.

Menurut Daffa, lonjakan harga emas hingga menembus Rp10 juta per mayam sebelumnya dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, terutama meningkatnya ketegangan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Situasi tersebut membuat banyak investor global beralih ke emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Akibatnya, permintaan terhadap emas melonjak tajam di pasar internasional, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga di pasar lokal, termasuk di Banda Aceh.

“Waktu konflik Iran, Israel, dan Amerika memanas, banyak investor dunia membeli emas dalam jumlah besar. Itu membuat emas di pasar menjadi langka dan harganya naik tinggi,” jelasnya.

Namun, kondisi pasar mulai berubah dalam beberapa waktu terakhir. Banyak investor yang sebelumnya membeli emas kini mulai menjual kembali aset tersebut, sehingga pasokan emas di pasar meningkat dan harga perlahan mengalami koreksi.

“Sekarang sebagian investor sudah mulai menjual kembali emasnya. Itu yang membuat harga mulai turun,” ujarnya.

Meski begitu, Daffa mengaku belum dapat memastikan bagaimana arah pergerakan harga emas ke depan. Ia menyebut fluktuasi harga emas sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global dan kondisi geopolitik internasional.

“Kalau ditanya apakah nanti akan turun lagi atau tidak, kita tidak bisa memastikan. Karena dalam beberapa hari ini saja pergerakannya sudah turun,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, aktivitas jual beli emas di Pasar Aceh masih didominasi oleh pembeli. Menurut Daffa, sekitar 90 persen transaksi yang terjadi saat ini adalah pembelian emas oleh masyarakat, sementara sekitar 10 persen lainnya merupakan transaksi penjualan.

"minat masyarakat untuk membeli logam mulia tersebut masih cukup tinggi. Banyak warga memanfaatkan momentum penurunan harga untuk menambah koleksi emas, baik sebagai investasi maupun sebagai perhiasan," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI