Minggu, 30 November 2025
Beranda / Berita / Aceh / Pemerintah Akan Bangun Jembatan Bailey di Awe Geutah Hubungkan Pesisir Aceh Pascabencana

Pemerintah Akan Bangun Jembatan Bailey di Awe Geutah Hubungkan Pesisir Aceh Pascabencana

Minggu, 30 November 2025 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Sekretariat Posko Darurat Pemerintah Aceh, Nasir Syamaun. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Aceh akan membangun jembatan Bailey di lokasi jembatan rangka baja Awe Geutah Paya-Teupin Reudeup, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen.

Keputusan ini diambil untuk segera memulihkan akses transportasi yang terputus total akibat banjir besar yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh dalam sepekan terakhir.

Ketua Sekretariat Posko Darurat Pemerintah Aceh, Nasir Syamaun, menyampaikan bahwa pembangunan jembatan Bailey menjadi langkah prioritas untuk menghubungkan kembali wilayah pesisir utara dan timur Aceh, setelah jembatan Kuta Blang yang melintasi jalan nasional Banda Aceh-Medan ambruk akibat terjangan arus deras Krueng Peusangan.

“Ini sangat penting untuk menjamin kelancaran distribusi bantuan dan mobilitas masyarakat. Jembatan Bailey akan kita pasang di Awe Geutah karena struktur jembatan yang masih tersisa di sana dinilai paling layak digunakan sebagai pondasi penyambung sementara,” ujar Nasir Syamaun, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, dalam keterangan resmi dari Posko Utama Penanganan Bencana di Banda Aceh, Sabtu (29/11/2025) malam.

Selain jembatan Kuta Blang, sejumlah jembatan alternatif lain yang juga melintasi Krueng Peusangan dilaporkan roboh dan terseret banjir. Kondisi ini membuat suplai logistik dan mobilitas tim penanganan bencana ke wilayah utara dan timur serta di wilayah tengah Aceh terhambat.

Jembatan Awe Geutah Paya-Teupin Reudeup sendiri dilaporkan runtuh ke sungai pada Rabu (26/11/2025), setelah hantaman air bah yang menghancurkan struktur utama.

Namun, sisa konstruksi tiang jembatan di sisi daratan dinilai masih cukup layak sebagai tumpuan Bailey bridge dengan panjang 30 meter.

“Dari semua jembatan yang melintasi Krueng Peusangan, hanya struktur di Awe Geutah yang dinilai memungkinkan untuk pemasangan Bailey. Sedangkan jembatan lainnya sudah roboh total, tidak ada struktur yang bisa dipertahankan,” jelas Nasir.

Nasir menegaskan bahwa Pemerintah Aceh memiliki stok jembatan Bailey yang dapat segera dipasang dalam situasi darurat. Pengerjaan akan dilakukan dalam waktu secepat mungkin agar jalur suplai bantuan ke wilayah terdampak dapat kembali normal.

“Kita punya beberapa unit Bailey. Prioritas pertama adalah Bireuen untuk menyambung kembali akses ke Aceh Utara menuju Bener Meriah, Aceh Tengah dan seterusnya ke wilayah pesisir lainnya hingga Aceh Tamiang. Dengan jembatan sementara ini, suplai logistik dan pergerakan alat berat dapat segera kita percepat,” ucapnya.

Pemerintah Aceh juga berkoordinasi dengan TNI, BNPB, BPBD, dan Dinas PU untuk mempercepat pengerjaan konstruksi darurat.

Di tengah upaya pemulihan infrastruktur kritis, Nasir menyampaikan pesan agar masyarakat tetap tenang dan bersabar.

Ia menegaskan bahwa seluruh pasokan bantuan logistik, medis, dan kebutuhan dasar lainnya akan diupayakan agar tetap menjangkau seluruh wilayah terdampak, meskipun akses darat masih sangat terbatas.

“Kami berharap masyarakat terus berdoa untuk keselamatan semua pihak dan pemulihan Aceh yang lebih cepat. Prioritas utama kami adalah keselamatan masyarakat, terutama yang masih terisolasi,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI