Minggu, 19 Juli 2026
Beranda / Berita / Aceh / Peneliti Malaysia dan Dosen STAIN Meulaboh Jelajahi Peradaban Islam Aceh

Peneliti Malaysia dan Dosen STAIN Meulaboh Jelajahi Peradaban Islam Aceh

Sabtu, 18 Juli 2026 13:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Peneliti Malaysia dan Dosen STAIN Meulaboh Jelajahi Peradaban Islam Aceh. Foto: for Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Upaya memperkuat jejaring akademik antara Indonesia dan Malaysia terus dilakukan melalui penelitian lintas negara yang mengangkat sejarah, budaya, dan peradaban Aceh. 

Selama 15 hari, tim peneliti dari Malaysia bersama dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh melakukan ekspedisi ilmiah di sejumlah lokasi bersejarah di Aceh untuk mengumpulkan data sebagai bahan penulisan buku mengenai budaya, sejarah, dan perubahan sosial masyarakat Aceh.

Riset tersebut menjadi bagian dari kolaborasi akademik internasional yang bertujuan mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan warisan peradaban Melayu-Islam kepada masyarakat akademik di tingkat regional hingga internasional.

Dalam ekspedisi tersebut, para peneliti mengunjungi sejumlah pusat sejarah dan pendidikan Islam di Aceh, di antaranya Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee, Dayah Keunaloe, Masjid Teungku Fakinah, serta Mapessa Aceh. Di setiap lokasi, tim menggali berbagai informasi mengenai perkembangan peradaban Islam, tradisi keilmuan, manuskrip kuno, hingga dinamika kehidupan masyarakat Aceh dari masa ke masa.

Kajian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek sejarah, tetapi juga menyoroti perubahan sosial masyarakat Aceh sebelum dan sesudah bencana tsunami 2004. 

Selain itu, penelitian turut mengkaji peran perempuan dalam kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah Aceh.

Tim peneliti dari Malaysia terdiri atas Nor Liana Omar yang dikenal sebagai penulis, editor, penerjemah, serta konsultan penerbitan independen. 

Bersama dirinya hadir Dr. Ruziaton Hasim, pakar Perubatan Keluarga, peneliti Geriatrik Komuniti, penyelia akademik MInTFM (RCSI & UCD Malaysia Campus), sekaligus akademisi yang memiliki latar belakang doktor dalam bidang Pengajian Islam dan pengembang Modul IRK-I Demensia.

Sementara itu, dari STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, penelitian didukung oleh tiga dosen dengan bidang keahlian yang berbeda, yakni Hanif Dahlan yang menekuni kajian hadis, Jovial Pally Taran di bidang arkeologi Islam, serta Muhajir Al-Fairusy yang fokus pada kajian agama dan budaya.

Selama berada di Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee, tim mendapatkan penjelasan mendalam mengenai sejarah lembaga tersebut, koleksi manuskrip kuno, hingga tradisi intelektual Islam Aceh. 

Penjelasan disampaikan oleh T. Abulis Samarkhan, cucu almarhum Abu Dahlan, keponakan Cut Fid Tanoh Abee, sekaligus perwakilan pimpinan Zawiyah.

Ia memaparkan bagaimana Tanoh Abee sejak dahulu menjadi salah satu pusat penyebaran ilmu pengetahuan Islam di Aceh yang menyimpan berbagai manuskrip berharga sebagai bukti kejayaan intelektual ulama Aceh pada masa lalu.

Perjalanan penelitian kemudian berlanjut ke Masjid Teungku Fakinah. Di lokasi ini, sejarawan Aris Munandar menjelaskan sejarah perjuangan Teungku Fakinah sebagai ulama perempuan yang memiliki peran penting dalam perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah. 

Selain itu, ia juga memaparkan fungsi masjid yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, dakwah, dan aktivitas sosial masyarakat.

Sementara di Mapessa Aceh, tim memperoleh penjelasan dari Ustaz Mujiburrizal mengenai perkembangan peradaban Islam Aceh serta hubungan historis antara Aceh dengan kawasan dunia Melayu. 

Menurutnya, hubungan tersebut telah terjalin sejak berabad-abad lalu melalui jalur perdagangan, pendidikan, dakwah, hingga pertukaran budaya yang memperkuat identitas Melayu-Islam di kawasan Asia Tenggara.

Selama proses penelitian, Nor Liana Omar, peneliti Malaysia mengaku terkesan dengan kekayaan sejarah yang dimiliki Aceh. 

Ia menilai keberadaan manuskrip kuno, tradisi pendidikan Islam yang masih bertahan, serta kehidupan masyarakat yang tetap memegang teguh nilai budaya dan agama menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia akademik.

"Kami terkesan, kolaborasi ini juga diharapkan menjadi langkah awal bagi penguatan kerja sama riset antara perguruan tinggi dan akademisi Indonesia-Malaysia, sehingga semakin banyak penelitian bersama yang dapat mengangkat kekayaan sejarah, budaya, dan literasi Aceh ke tingkat regional maupun internasional," ujarnya. 

Ia juga melihat Aceh sebagai daerah yang mampu menjaga identitas budayanya meskipun telah menghadapi berbagai perubahan sosial, termasuk setelah bencana tsunami yang melanda pada tahun 2004. 

Ketahanan masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai budaya dan keislaman dinilai menjadi salah satu kekuatan yang layak didokumentasikan dalam karya ilmiah.

"Seluruh hasil penelitian tersebut nantinya akan diterbitkan dalam bentuk buku di Malaysia. Publikasi itu diharapkan menjadi referensi ilmiah mengenai sejarah, budaya, dan transformasi sosial Aceh, sekaligus memperluas pemahaman masyarakat internasional terhadap warisan peradaban Aceh sebagai bagian penting dari khazanah Melayu-Islam," tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI