DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Aceh menilai fenomena kelangkaan semen yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh harus dipahami secara menyeluruh dengan melihat rantai pasok industri, mulai dari sektor pertambangan sebagai penyedia bahan baku, proses produksi di pabrik, hingga distribusi dan tingginya permintaan di pasar.
Sekretaris Jenderal PERHAPI Aceh, Muhammad Hardi, mengatakan berdasarkan informasi teknis yang diperoleh pihaknya melalui diskusi dengan operasional PT Solusi Bangun Andalas (SBA), tidak ditemukan kendala pada aktivitas penambangan bahan baku maupun proses produksi semen.
Menurutnya, kapasitas produksi PT SBA hingga saat ini tetap berada pada kisaran 1,8 juta ton per tahun, sehingga secara teknis tidak terdapat indikasi penurunan produksi yang dapat menjadi penyebab kelangkaan semen di pasaran.
"Pasokan bahan baku dari sektor pertambangan maupun proses manufaktur masih berada dalam kondisi yang terkendali. Bahkan perusahaan tetap mempertahankan komitmennya untuk tidak menaikkan harga jual semen dari pabrik sepanjang tahun 2026. Dengan demikian, kenaikan harga yang terjadi di tingkat pengecer tidak secara langsung mencerminkan harga dari produsen," kata Muhammad Hardi kepada media dialeksis.com, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan, kondisi yang dirasakan masyarakat saat ini lebih dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan semen akibat tingginya aktivitas pembangunan di Aceh.
Menurutnya, sejumlah proyek seperti rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, pembangunan Sekolah Rakyat, proyek pemerintah, pembangunan perumahan, hingga kebutuhan masyarakat secara umum menyebabkan permintaan semen meningkat dalam waktu bersamaan.
"Dalam perspektif ekonomi, ketika permintaan meningkat sementara kapasitas pasok relatif tetap, maka tekanan terhadap distribusi dan harga di tingkat pasar merupakan kondisi yang wajar. Karena itu, fenomena yang terjadi lebih mencerminkan lonjakan konsumsi daripada terganggunya proses produksi," ujarnya.
Dari sudut pandang keilmuan pertambangan, Muhammad Hardi menegaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya sektor pertambangan dalam menopang pembangunan.
Ia menjelaskan, industri semen sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku mineral seperti batu gamping, tanah liat, silika, dan material pendukung lainnya. Apabila kegiatan pertambangan dikelola sesuai prinsip good mining practice, maka industri hilir akan memiliki fondasi yang kuat untuk menjaga kesinambungan produksi.
"Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pasok tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas produksi, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika permintaan, pola distribusi, pengelolaan persediaan, hingga kecepatan barang sampai kepada konsumen. Karena itu, kelangkaan di pasar tidak selalu berarti aktivitas pertambangan atau produksi di pabrik mengalami gangguan," jelasnya.
Lebih lanjut, PERHAPI Aceh memandang industri semen merupakan contoh nyata bagaimana sektor pertambangan mampu memberikan nilai tambah bagi daerah. Selain menyediakan bahan baku strategis untuk pembangunan, industri tersebut juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, perputaran ekonomi, dan pembangunan infrastruktur.
Muhammad Hardi menambahkan, Aceh memiliki potensi sumber daya mineral yang besar untuk mendukung tumbuhnya berbagai industri berbasis mineral di masa depan. Namun, pengelolaannya harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan kaidah teknik pertambangan yang baik, menjaga kelestarian lingkungan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Semakin kuat ekosistem industri berbasis sumber daya mineral yang dikelola secara profesional, maka semakin baik pula ketahanan pasok material strategis bagi pembangunan Aceh," katanya.
Ia menegaskan, fenomena kelangkaan semen saat ini memberikan pelajaran penting mengenai posisi strategis sektor pertambangan dalam rantai pembangunan.
"Kelangkaan semen hari ini mengajarkan satu hal penting: tambang bukan sekadar aktivitas mengambil mineral dari bumi, tetapi merupakan mata rantai awal yang menopang keberlangsungan industri, pembangunan, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan pertambangan yang baik bukan hanya kebutuhan industri, melainkan investasi bagi ketahanan pembangunan Aceh," tutup Muhammad Hardi.