DIALEKSIS.COM | BANDA ACEH - Dalam rangka memperingati International Women’s Day, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PKC PMII Aceh menggelar kegiatan nonton bareng (nobar), refleksi, dan buka puasa bersama pada Minggu, 8 Maret 2026 di 3 in 1 Coffee Shop, Lampineung, Banda Aceh. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Perempuan Bersatu: Melawan Penghancuran atas Tubuh.”
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi bagi perempuan muda untuk membahas berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan, mulai dari kekerasan berbasis gender, kontrol terhadap tubuh perempuan, hingga berbagai bentuk eksploitasi yang masih terjadi dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun budaya.
Ketua KOPRI PKC PMII Aceh, Desi Hartika, mengatakan bahwa peringatan International Women’s Day seharusnya tidak hanya dipahami sebagai seremoni tahunan semata, tetapi menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas perempuan dan meningkatkan kesadaran kolektif dalam melawan berbagai bentuk ketidakadilan.
“Tubuh perempuan masih sering menjadi ruang yang dikontrol, dieksploitasi, bahkan dihancurkan oleh sistem yang tidak adil. Karena itu, perempuan perlu bersatu untuk memperjuangkan hak atas tubuh, martabat, dan ruang hidupnya,” ujar Desi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menyaksikan film pendek berjudul “Demi Nama Baik Kampus.” Film ini mengangkat kisah seorang mahasiswa bernama Sinta Jasinta yang tengah menyusun skripsi tentang implementasi nilai keberanian Kartini.
Namun dalam proses bimbingan skripsinya, Sinta justru mengalami pelecehan seksual dari dosen pembimbingnya, Ari Santoso. Pelecehan tersebut dimulai dari komentar yang menyinggung tubuh Sinta, hingga godaan dan ajakan yang tidak pantas dengan iming-iming kemudahan dalam proses akademik.
Dalam salah satu adegan, dosen tersebut bahkan mencoba mendekati Sinta secara fisik dan menawarkan nilai tinggi jika mahasiswa itu bersedia memenuhi keinginannya. Sinta menolak perlakuan tersebut dan memilih meninggalkan ruangan bimbingan.
Peristiwa itu membuat Sinta mengalami tekanan psikologis yang berat. Ia menjadi murung dan mengurung diri di kamar kos selama beberapa hari tanpa menceritakan apa yang dialaminya kepada siapa pun.
Hingga akhirnya seorang teman datang menjenguk dan mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari situlah Sinta mulai menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya.
Didampingi temannya, Sinta kemudian mencoba melaporkan kejadian tersebut kepada pihak rektorat. Namun laporan itu awalnya ditolak karena dosen yang dilaporkan dikenal sebagai salah satu dosen berprestasi di kampus.
Pihak kampus bahkan meragukan pengakuan Sinta dan menilai laporan tersebut tidak memiliki cukup bukti. Situasi itu membuat kondisi psikologis Sinta kembali memburuk hingga hampir membuatnya putus asa.
Namun dengan dukungan teman-temannya, Sinta kembali menemukan keberanian untuk melaporkan kasus tersebut melalui Satuan Tugas Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas) di kampus.
Melalui proses panjang, akhirnya muncul kesaksian dari salah satu rekan dosen Ari Santoso yang mengungkap fakta sebenarnya. Kesaksian tersebut menguatkan bahwa tindakan pelecehan memang terjadi.
Berdasarkan temuan itu, pihak kampus akhirnya menjatuhkan sanksi tegas dengan memberhentikan Ari Santoso dari institusi tersebut.
Menurut Desi Hartika, film tersebut sengaja dipilih karena menggambarkan realitas yang kerap dialami perempuan di lingkungan pendidikan, namun seringkali sulit terungkap karena relasi kuasa antara korban dan pelaku.
“Film ini memberi pelajaran penting bahwa pelecehan seksual tidak selalu berbentuk tindakan fisik yang ekstrem. Kata-kata, komentar terhadap tubuh, atau ajakan yang membuat seseorang merasa tidak nyaman juga termasuk pelecehan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan nonton bareng ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran perempuan, khususnya mahasiswa, agar lebih memahami bentuk-bentuk kekerasan seksual yang sering kali dianggap sepele.
Melalui diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film, para peserta juga diajak untuk berbagi pandangan serta pengalaman terkait isu kekerasan berbasis gender.
“Kami ingin menghadirkan ruang dialog yang aman bagi perempuan untuk berbicara dan saling menguatkan. Kesadaran kolektif sangat penting agar perempuan tidak lagi merasa sendiri ketika menghadapi kekerasan,” tutupnya.[*]