DIALEKSIS.COM | Aceh Tamiang - Penyintas banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Harapan itu muncul karena sebagian besar warga terdampak dipastikan masih harus menjalani ibadah puasa di tenda-tenda pengungsian.
Kondisi tersebut dinilai semakin berat lantaran para penyintas kehilangan mata pencaharian sejak bencana banjir melanda lebih dari dua bulan lalu. Akibatnya, mereka tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sahur dan berbuka puasa selama Ramadhan tahun ini.
“Kami berharap kebutuhan pengungsi selama Ramadhan segera disalurkan, seperti sirup, makanan berbuka, dan sahur. Sudah lebih dari dua bulan kami tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan,” ujar Ananda, warga Desa Dusun Makmur, Desa Alur Jambo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, seperti dilansir dari media Kompas 10 Februari 2026.
Ananda menjelaskan, di Desa Alur Jambo saat ini tengah dibangun sebanyak 65 unit hunian sementara (huntara) bagi korban banjir. Namun, hingga kini pembangunan tersebut belum sepenuhnya rampung. Selain untuk warga setempat, huntara di desa itu juga diperuntukkan bagi penyintas dari Desa Batang Ara dan Desa Perkebunan Alur Jambo.
“Sebagian huntara sudah siap, tapi belum semuanya. Karena itu, besar kemungkinan warga akan menjalani Ramadhan di tenda pengungsian,” katanya.
Ia pun berharap pihak rekanan yang mengerjakan pembangunan huntara dapat mempercepat proses pekerjaan dengan sistem kerja siang dan malam agar para pengungsi segera menempati hunian yang lebih layak.
Tak hanya persoalan hunian, Ananda juga mengungkapkan kendala lain yang masih dirasakan warga, yakni buruknya jaringan telekomunikasi. Hingga kini, sinyal ponsel di desa tersebut belum pulih sejak banjir melanda.
“Jaringannya masih sangat buruk, sering timbul tenggelam. Kami kesulitan berkomunikasi,” ungkapnya.
Selain itu, ketersediaan air bersih juga menjadi masalah serius bagi para penyintas. Hingga saat ini, pasokan air bersih di kawasan tersebut belum mencukupi kebutuhan warga.
Ananda berharap pemerintah dan relawan dapat membantu pembangunan sumur bor berkapasitas besar untuk mengatasi krisis air bersih.
“Wilayah kami perbukitan dan sulit mendapatkan sumber air. Kami berharap bisa dibangun sumur bor besar agar kebutuhan air warga terpenuhi,” tutupnya. [Kompas.com]