DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rumah Zakat bersama Bulak Sumur Peduli, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Tangguh Research Group on Resilient Architecture secara resmi membuka Program Pembangunan 100 Hunian Sementara (Huntara) melalui kegiatan Opening Ceremony di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (3/1/2026).
Program ini menjadi tonggak awal kolaborasi lintas lembaga dalam upaya pemulihan pascabencana, khususnya penyediaan hunian sementara yang layak, aman, dan sehat bagi masyarakat terdampak.
Tidak sekadar membangun bangunan fisik, program ini juga dirancang sebagai pintu masuk menuju kemandirian ekonomi serta penguatan ketangguhan masyarakat berbasis karya dan gotong royong.
Kegiatan pembukaan tersebut dihadiri oleh perwakilan Rumah Zakat, Bulak Sumur Peduli, tim ahli dan civitas akademik UGM, Tangguh Research Group on Resilient Architecture, unsur Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Kementerian Agama Aceh Utara, tokoh masyarakat, serta warga Desa Geudumbak. Rektor UGM turut hadir secara daring, menandai dukungan penuh institusi akademik terhadap program kemanusiaan ini.
Kepala Divisi Kemanusiaan Rumah Zakat, Al Razi Izzatul Yazid, mengatakan bahwa pembangunan 100 Huntara merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk menghadirkan solusi yang tepat sasaran bagi masyarakat terdampak.
“Program ini bukan hanya tentang membangun hunian sementara, tetapi tentang menghadirkan harapan, rasa aman, dan martabat bagi warga. Kolaborasi lintas lembaga seperti ini menjadi kunci agar bantuan yang diberikan benar-benar berkelanjutan dan berdampak,” ujar Al Razi kepada media dialeksis.com.
Ia menambahkan, Rumah Zakat berupaya memastikan bahwa setiap proses pembangunan tidak hanya memenuhi aspek teknis, tetapi juga memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis warga yang tengah berjuang bangkit dari situasi sulit.
Sementara itu, Ashar, tim ahli sekaligus civitas akademik Universitas Gadjah Mada, menekankan pentingnya sinergi antara lembaga sosial, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
Menurutnya, pendekatan berbasis pengetahuan dan riset menjadi fondasi penting agar hunian yang dibangun benar-benar tangguh dan adaptif.
“Keterlibatan akademisi bukan sekadar mendampingi secara teknis, tetapi memastikan bahwa desain dan konstruksi huntara sesuai dengan konteks lingkungan, budaya lokal, serta mampu mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat,” jelas Ashar.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran Tangguh Research Group on Resilient Architecture merupakan upaya untuk menerapkan konsep arsitektur tangguh bencana, sehingga hunian sementara tidak hanya layak huni, tetapi juga aman dan efisien.
Dukungan pemerintah daerah turut menguatkan pelaksanaan program ini. Zulkifli S.Ag, M.Pd, Kepala Dinas Olahraga dan Pariwisata Aceh Utara yang mewakili Bupati Aceh Utara, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, kami mengucapkan terima kasih kepada Rumah Zakat, Bulak Sumur Peduli, UGM, dan seluruh mitra yang telah menghadirkan program yang sangat inspiratif ini. Kehadiran 100 Huntara di Geudumbak menjadi percepatan pemulihan bagi masyarakat kami,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi ini dapat menjadi contoh sinergi kemanusiaan yang dapat direplikasi di wilayah lain yang mengalami kondisi serupa.
Program pembangunan 100 Huntara direncanakan akan dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Pola ini diharapkan tidak hanya menghasilkan hunian fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki, memperkuat solidaritas sosial, serta mendorong kemandirian warga dalam proses pemulihan.
Bagi warga Desa Geudumbak, program ini menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak akan tempat tinggal yang layak. Martunis, salah seorang warga, mengungkapkan rasa syukur dan harapannya terhadap pembangunan huntara tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada Rumah Zakat, Bulak Sumur Peduli, UGM, dan Tangguh Research Group on Resilient Architecture. Bantuan hunian sementara ini sangat kami butuhkan. Semoga dengan adanya huntara, proses pemulihan pascabencana bisa berjalan lebih cepat,” tutupnya. [nh]