DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Peunayong yang menjadi salah satu denyut ekonomi Kota Banda Aceh, berdiri sebuah bangunan tua berwarna kuning kecoklatan. Bangunan bergaya arsitektur Neo Klasik Modern itu bukan sekadar rumah ibadah. Ia adalah saksi sejarah yang telah melewati satu abad perjalanan Aceh.
Pada 26 September 2026, bangunan bernama Gereja Paroki Hati Kudus Banda Aceh itu genap berusia 100 tahun, sebuah angka yang tidak singkat. Dalam rentang waktu itu, gereja yang berada di Jalan Diponegoro, Kelurahan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam tersebut telah menyaksikan pergantian zaman, pergolakan sejarah, hingga perubahan wajah masyarakat Aceh.
Ia berdiri sebelum Indonesia merdeka, tetap ada saat republik lahir, bertahan ketika konflik berkecamuk, dan tetap tegak setelah gelombang tsunami menghantam Aceh pada 2004.
Di sebuah daerah yang dikenal luas sebagai Serambi Mekkah, keberadaan gereja ini menghadirkan cerita yang lebih besar dari sekadar sejarah bangunan. Ia menjadi monumen hidup tentang bagaimana perbedaan keyakinan dapat tumbuh berdampingan dalam suasana saling menghormati.
Saat ditemui Dialeksis pada peringatan 100 tahun Gereja Paroki Hati Kudus Banda Aceh, Minggu (26/9/2026), Pastor Vikaris Parokial Hati Kudus Yesus Banda Aceh, Budi Alen Agustinus Yosua Ratag, menyebutkan peringatan satu abad gereja bukan sekadar momentum mengenang masa lalu. Lebih dari itu, usia 100 tahun menjadi kesempatan untuk memperkuat kehidupan bergereja dari dalam.
"Semangat yang ingin diteguhkan adalah bagaimana umat Katolik terus menghidupi pesan-pesan moral dan ajaran gereja dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya mengingat kembali nilai-nilai yang diwariskan generasi sebelumnya, tetapi juga memaknainya secara nyata melalui sikap saling mendukung, memperkuat iman, dan menjaga persaudaraan," ucap Pastor Budi.
Perjalanan hingga mencapai usia seabad tentu tidak selalu mudah. Gereja Paroki Hati Kudus telah melewati berbagai fase yang tidak ringan. Masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, konflik Aceh yang berlangsung puluhan tahun, hingga bencana tsunami yang mengguncang dunia pernah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Dalam masa-masa sulit itu, gereja memperoleh dukungan dari jejaring Katolik yang luas, mulai dari tingkat keuskupan, nasional hingga dunia.
"Dukungan dan topangan semangat dari sesama umat Katolik di berbagai daerah dan negara hingga dunia internasional menjadi kekuatan hingga gereja ini tetap bertahan," tutur Pastor Budi.
Akan tetapi, ketahanan gereja ini tidak hanya lahir dari dukungan internal. Ada faktor lain yang justru menjadi fondasi utama keberlangsungannya selama satu abad, yakni hubungan harmonis dengan masyarakat Aceh.
Bagi umat Katolik di Banda Aceh, hidup berdampingan berarti memahami ruang sosial tempat mereka berada. Mereka menyadari bahwa Aceh memiliki kekhasan budaya dan penerapan syariat Islam yang harus dihormati. Kesadaran itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghargai.
"Secara internal kami juga sudah tahu situasi ini. Jam-jam berapa kita harus berhentikan musik dulu kalau ada hajatan. Kalau kita mau buka lapak atau kios itu jam-jam begini harus tutup. Jumat nggak harus jauh-jauh ke mana, ke pantai harus dihindari kalau jumat ya. Intinya saling mengerti," terang dia. Semangat itulah yang menurut Pastor Budi membuat Gereja Paroki Hati Kudus mampu bertahan hingga hari ini.
Saat konflik Aceh masih menjadi pemberitaan nasional dan banyak orang memandang daerah ini dengan rasa khawatir, kehidupan umat Katolik di Banda Aceh tetap berjalan. Gereja tidak ditinggalkan, tidak pula kehilangan tempatnya di tengah masyarakat.
“Kalau gereja ini bisa bertahan sampai 100 tahun, berarti lingkungan masyarakat mendukung gereja ini tetap ada sampai sekarang,” demikian keyakinan yang disampaikan Pastor Budi.
Pastor Budi menambahkan di sejumlah sekolah yang berada di bawah yayasan Katolik, guru dan karyawan Muslim bekerja bersama tanpa sekat. Murid-murid Muslim yang ingin menempuh pendidikan di sekolah tersebut juga diterima tanpa diskriminasi.
Di ruang-ruang seperti itulah toleransi menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan dalam slogan atau seremonial semata, melainkan dalam kehidupan yang dijalani bersama setiap hari.
Selama lima tahun bertugas di gereja tersebut, Pastor Budi mengaku tidak pernah menyaksikan peristiwa yang menodai hubungan baik antarumat beragama. Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa Aceh menyimpan banyak cerita positif yang sering kali luput dari perhatian publik.
Gereja Paroki Hati Kudus Banda Aceh. [Foto: Dialeksis.com]"Sepanjang ingatan saya belum pernah ada," tegasnya.
Karena itu, pada peringatan satu abad gereja, ia menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda. Di tengah derasnya arus media sosial yang dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan berita bohong, Pastor Budi mengajak anak-anak muda untuk lebih banyak menyebarkan cerita-cerita baik.
"Banyak hal baik yang bisa kita bagikan, termasuk suasana hidup kita di Aceh, banyak informasi yang baik yang bisa kita bagikan. Ini menambah pengalaman agar hidup kita semakin berkualitas," ucap Pastor Budi.
Apa yang disampaikan Pastor Budi ternyata bukan sekadar pandangan dari dalam gereja. Di luar pagar gereja, suara yang sama juga terdengar dari masyarakat sekitar.
Bang Jol, seorang tukang becak yang saban hari mangkal di depan Gereja Paroki Hati Kudus, memandang perbedaan agama sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat.
"Setiap orang berhak menjalankan keyakinannya masing-masing selama tetap menghormati orang lain," sebut Bang Jol.
Pandangan serupa disampaikan Iqbal, warga Banda Aceh lainnya yang meyakini bahwa keharmonisan antar umat beragama harus terus dijaga.
"Urusan beragama itu kan hak paling personal. Sepanjang kita mampu menghargai satu sama lain, insya Allah hidup kita pasti rukun dan damai," kata Iqbal.
Pernyataan-pernyataan sederhana itu mungkin tidak terdengar spektakuler. Namun justru dari kesederhanaan itulah harmoni dibangun. Tidak melalui pidato panjang atau teori yang rumit, melainkan melalui kebiasaan sehari-hari untuk saling menghormati.
Jarum jam memang terus bergerak, tanggal boleh berganti. Namun, selama loncengnya masih berdentang mengiringi waktu, Gereja Paroki Hati Kudus akan terus bercerita kepada generasi berikutnya bahwa di Serambi Mekkah, harmoni bukan sekadar harapan. Ia adalah fakta dan realitas yang telah hidup selama seratus tahun. [im]