Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Selain Kopi, Jahe Sangat Potensial di Aceh Tengah

Selain Kopi, Jahe Sangat Potensial di Aceh Tengah

Minggu, 30 Juni 2019 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi kopi jahe. [FOTO: Shutterstock]

DIALEKSIS.COM | Takengon - Kementerian Pertanian (Kementan) RI melihat Aceh Tengah sangat potensial sebagai kawasan perkebunan dan hortikultura. Warga setempat pun didorong untuk menanam jahe, selain kopi yang sudah terkenal luas. 

Aceh Tengah yang merupakan salah satu daerah di Dataran Tinggi Gayo, dinilai prospektif untuk pengembangan jahe. 

Masyarakat Gayo mengenal jahe dengan sebutan bing. Penanaman jahe di sela-sela pohon kopi memberikan keuntungan tambahan, tidak hanya kepada tanaman kopi, juga kepada petani kopi itu sendiri.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Moh Ismail Wahab, menyatakan, ke depan pengembangan tanaman obat khususnya jahe harus terus dilakukan.

"Tanaman obat dibutuhkan tidak hanya sebagai bumbu dapur dan minuman beraroma jahe, juga sebagai bahan baku untuk jamu dan fitofarmaka, serta komoditi ekspor. Apalagi, pemanfaatan obat tradisional untuk peningkatan kesehatan masyarakat sedang digalakkan oleh pemerintah," jelas Ismail seperti dilansir Okezone, Minggu (30/6/2019).

Penanaman jahe bersamaan dengan kopi tidak mengganggu produktivitas. "Tanaman jahe dan kopi tidak saling mengganggu bahkan tanaman jahe menggemburkan tanah di sekitar pertanaman kopi, jadi tak ada masalah," ujar Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Thamrin.

Sementara itu, Kasi Pengembangan Hortikultura Dinas Pertanian Aceh, Dedi, menerangkan, ada dua tantangan dihadapi petani ketika menanam jahe di lahan kopi secara bersamaan.

Pertama, kata Dedi, pemasaran yang belum kontinyu dan masih terbatas untuk kebutuhan pasar lokal Takengon.

"Pada 2018 sudah ada toko atau pedagang pengumpul di daerah ini yang mematok harga jahe segar berkisar Rp5 ribu sampai Rp 6 ribu per kg di tingkat petani. Tahun ini tidak lagi berjalan karena kesulitan finansial," sebutnya.

Tantangan kedua, lanjut Dedi, belum adanya hilirisasi produk turunan jahe di Takengon, misalnya jahe instan, kopi jahe instan dan lainnya sehingga jahe belum menjadi komoditas primadona di Aceh Tengah.

"Padahal jahe potensinya sangat luar biasa. Berdasarkan data BPS Kabupaten Aceh Tengah, pada 2018 luas kebun kopi rakyat 49.365 hektare, minimal 25 ribu hektare dapat ditanami jahe atau kunyit," tambah Dedi dalam keterangannya kepada Okezone .

Masyarakat sebenarnya sudah mencoba budidayakan jahe. "Saya sudah bertahun-tahun melakukan penanaman jahe di sela-sela tanaman kopi. Sebenarnya bukan hanya jahe saja kami tanam, juga kunyit. Mungkin karena itulah Kopi Gayo yang kami tanam punya cita rasa yang khas dan unik sehingga menjadi kopi nomor satu di dunia," ujar Juli, salah seorang petani di Takengon.(red/okezone)


Editor :
Makmur Emnur

riset-JSI
Komentar Anda