Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Tanah Amblas di Ketol Mirip Sinkhole, BPBD Imbau Pengguna Jalan Waspada

Tanah Amblas di Ketol Mirip Sinkhole, BPBD Imbau Pengguna Jalan Waspada

Rabu, 14 Januari 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Tanah amblas yang menyerupai sinkhole di Jalan Buter–Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Tangkapan layar media dialeksis.com dalam akun tiktok @yulhameon. 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah mengimbau pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintasi Jalan Buter-Pondok Balik, Kecamatan Ketol, menyusul munculnya tanah amblas yang menyerupai sinkhole akibat pergerakan tanah aktif di kawasan tersebut. 

Imbauan ini disampaikan menyusul meluasnya bekas longsor dari tebing di sekitar jalan tersebut, yang videonya ramai beredar di media sosial. 

Rekaman udara yang diunggah akun TikTok @yulhameon dan dilansir Dialeksis.com memperlihatkan lubang cukup besar yang terbentuk akibat tergerus longsoran dan kini semakin mendekati badan jalan kabupaten.

Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, membenarkan kondisi tersebut dan meminta masyarakat, khususnya pengguna jalan, untuk tidak mendekati area longsoran serta mematuhi rambu peringatan yang telah dipasang.

“Berdasarkan data Dinas ESDM Aceh tahun 2025, luasan longsoran tanah di lokasi tersebut telah mencapai lebih dari 27.000 meter persegi dan posisinya semakin mendekati Jalan Buter-Pondok Balik,” kata Andalika saat dikonfirmasi Dialeksis.com, Rabu (14/1/2026).

Ia menjelaskan, pergerakan tanah di wilayah Kampung Bah, Kecamatan Ketol, bersifat aktif dan berkelanjutan. Kawasan tersebut telah dikategorikan sebagai zona rawan tinggi pergerakan tanah, sehingga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.

Meski secara visual menyerupai sinkhole, Andalika menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan sinkhole klasik yang terjadi akibat runtuhan tanah secara tiba-tiba.

“Ini merupakan pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan atau slow moving landslide,” jelasnya.

Menurut Andalika, longsoran dipicu oleh struktur tanah yang tidak stabil, curah hujan tinggi, kemiringan lereng yang curam, serta adanya retakan lama yang menjadi jalur masuk air. Faktor lain seperti beban lalu lintas dan aktivitas gempa bumi juga mempercepat kerusakan tanah di sekitar lokasi.

Sebagai langkah pengurangan risiko, BPBD Aceh Tengah telah memasang police line, rambu peringatan, serta garis pembatas di sekitar area rawan. Masyarakat dan pengguna jalan diimbau untuk tidak melanggar batas pengamanan demi menghindari potensi kecelakaan.

“Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menghindari aktivitas di sekitar longsoran. Keselamatan pengguna jalan adalah prioritas,” tegas Andalika.

BPBD Aceh Tengah juga terus berkoordinasi dengan Dinas PUPR, Dinas ESDM Aceh, serta instansi terkait lainnya untuk membahas langkah lanjutan, termasuk pemantauan berkala dan opsi penanganan jangka panjang terhadap kondisi jalan tersebut.

Sementara itu, Andalika menyebutkan bahwa pihaknya saat ini juga tengah memprioritaskan pembukaan akses jalan bagi warga yang masih terisolasi akibat banjir dan longsor di beberapa wilayah Aceh Tengah.

“Penanganan jalan ini tetap kami lakukan secara bertahap. Namun saat ini, fokus kami adalah memastikan akses warga yang terisolasi dapat segera terbuka bersama TNI dan Polri,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI