DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Fenomena semakin banyaknya anak muda di Aceh yang menunda pernikahan menjadi gambaran perubahan cara pandang generasi saat ini terhadap kehidupan berkeluarga.
Jika dahulu menikah di usia muda dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, kini banyak pemuda memilih menunggu hingga merasa benar-benar siap, terutama dari sisi ekonomi.
Alumni Pascasarjana Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Teuku Nurfaizil, menilai keputusan tersebut bukan berarti generasi muda enggan menikah.
Sebaliknya, mereka ingin memastikan rumah tangga yang dibangun memiliki fondasi finansial yang kuat sehingga mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan.
"Banyak anak muda sekarang tidak lagi memandang menikah sebagai tahap yang harus segera dilakukan, tetapi sebagai keputusan besar yang membutuhkan kesiapan, terutama kesiapan finansial," ujar Nurfaizil kepada Dialeksis.com, Senin, 27 Juli 2026.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang belum stabil menjadi salah satu faktor utama. Biaya hidup yang terus meningkat, harga tanah dan rumah yang semakin mahal, hingga tuntutan untuk memiliki penghasilan yang cukup membuat sebagian pemuda memilih menunda pernikahan.
"Bahkan ada yang harus bekerja lebih dari satu pekerjaan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi jika sudah berkeluarga, tentu tanggung jawab ekonomi akan semakin besar," katanya.
Nurfaizil menegaskan, pada dasarnya para pemuda tidak menolak institusi pernikahan. Mereka hanya menginginkan kehidupan rumah tangga yang lebih stabil agar tidak dibayangi persoalan ekonomi sejak awal.
"Yang menarik sebenarnya, para pemuda bukan menolak pernikahan, tetapi menginginkan kehidupan rumah tangga yang stabil secara finansial. Finansial keluarga yang stabil adalah salah satu kunci keharmonisan rumah tangga," ujarnya.
Ia menjelaskan, tren menunda pernikahan memiliki sejumlah dampak positif. Salah satunya adalah berkurangnya risiko konflik rumah tangga akibat persoalan ekonomi.
"Kebanyakan rumah tangga sekarang rusak bukan karena orang ketiga, tetapi karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Ketika finansial lebih siap, pasangan memiliki peluang lebih besar membangun keluarga yang harmonis," jelasnya.
Selain itu, kesiapan ekonomi juga dinilai mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas keluarga, termasuk dalam memberikan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak di masa depan.
Meski demikian, Nurfaizil mengingatkan bahwa fenomena tersebut juga memiliki konsekuensi negatif. Salah satunya adalah meningkatnya usia rata-rata pernikahan.
"Dulu mungkin jarang kita melihat orang menikah di usia 30 tahun ke atas, tetapi sekarang hal seperti itu sudah biasa. Jika semakin banyak orang menunda perkawinan, biasanya angka perkawinan dan angka kelahiran juga akan menurun," katanya.
Tidak hanya itu, penundaan pernikahan dalam jangka waktu yang lama juga dapat menimbulkan tekanan psikologis maupun sosial.
"Semakin lama seseorang menunda pernikahan, biasanya tekanan yang didapatkan juga semakin besar, baik dari lingkungan maupun dari dirinya sendiri," tambahnya.
Nurfaizil berharap situasi ekonomi yang sulit tidak membuat generasi muda kehilangan semangat untuk membangun keluarga. Menurutnya, kondisi tersebut justru harus menjadi motivasi untuk mempersiapkan pernikahan secara lebih matang dan realistis.
"Harapannya, kondisi ekonomi yang sulit tidak membuat generasi muda kehilangan keinginan dan semangat untuk membangun keluarga, tetapi mendorong mereka mempersiapkan pernikahan secara lebih matang dan realistis," ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah agar memperluas akses lapangan kerja dan menciptakan pendapatan yang layak bagi kalangan muda sehingga mereka memiliki kesempatan membangun keluarga dengan lebih aman secara ekonomi.
"Pemuda harus memiliki akses terhadap pekerjaan dan pendapatan yang layak agar dapat membangun kehidupan keluarga dengan lebih aman," katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat agar tidak membebani pernikahan dengan tuntutan ekonomi yang berlebihan, seperti pesta yang mewah, keharusan memiliki rumah sejak awal menikah, maupun standar hidup yang terlalu tinggi.
"Pernikahan tidak seharusnya dibebani tuntutan ekonomi yang berlebihan. Pasangan juga harus mulai sadar bahwa membangun keluarga dilakukan dengan kerja sama, bukan membebankan seluruh persoalan ekonomi maupun urusan domestik hanya kepada salah satu pihak," pungkasnya.