Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Analisis / Prabowo, Sejarah, dan Masa Depan

Prabowo, Sejarah, dan Masa Depan

Selasa, 19 Mei 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Hilmy Bakar Almascaty

Dr. Hilmy Bakar Almascaty, DBA, Aktivis Gerakan Islam dan Ketua Umum Yayasan Wakaf Madani Antarabangsa. [Foto: doc pribadi/Dialeksis]


DIALEKSIS.COM | Analisis - Sepanjang 2015 dan 2016, paska kekalahan Prabowo melawan Jokowi dalam Pilpres 2014, dibawah arahan alm. Jenderal Purn. Djoko Santoso, yang juga sahabat dan timses Prabowo, kami seringkali mengadakan diskusi. Diantara tema duskusi yang menarik masalah kepemimpinan dan masa depan bangsa, termasuk kajian sejarah. Kebetulan saya dengan alm. Mas Djoko satu hobi, menyukai sejarah. Saya sendiri pernah di Akademi Tamadun (Sejarah) Antarabangsa Malaysia.

Rupanya, minat kami ini juga menjadi minat utama Prabowo. Dalam diskusi-diskusi terbatas, kami seringkali terlibat membahas tema tentang jatuh bangunnya sebuah bangsa. Termasuk tentunya tentang sejarah panjang bangsa Indonesia. Bahkan kami sempat mendiskusikan sampai tema Nabi Adam diturunkan di Indonesia.

Dari diskusi ke diskusi yang semakin mendalam inilah, kami mulai merumuskan metode, narasi dan strategi pergerakan ke depan. Intinya bagaimana agar Pemimpin bangsa Indonesia adalah yang terbaik dan dapat mengantarkan bangsa menuju cita-cita luhur para pendiri Indonesia. Kesamaan hobi antara Prabowo, alm. Djoksan dan beberapa senior TNI, telah menjadikan sejarah sebagai referensi utama dalam strategi perjuangan.

Diskusi menyimpulkan bahwa dalam membaca sejarah, bukan hanya menghafal tanggal kejadian, tempat atau nama tokoh semata, namun lebih dalam membahas iktibar dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Sejarah sebagai pisau analisis masa depan, sebagaimana disebutkan TS. Elliot, sejarah masa lalu dan masa kini, akan menciptakan sejarah masa depan.

Dalam membaca teks sejarah, khususnya dalam tataran para pemimpin pemikir dan pengambil kebijakan pada dasarnya ada dua model kepemimpinan. Model pertama adalah membaca sejarah untuk mengkonfirmasi apa yang sudah dipercaya. Model ini hanya untuk mencari kutipan yang akan memperkuat narasi sejarah sebagai pembenar keputusan. Ini yang biasa disebut membaca sejarah sebagai cermin.

Model kedua membaca sejarah sebagai cara untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Menjadikan sejarah sebagai jendela untuk memprediksi kejadian masa depan. Membaca sejarah dengan kerendahan dengan mengambil pelajaran dan hikmah di dalamnya. Sebagaimana di ajarkan al-Qur'an, "maka ceritakan tentang sejarah, semoga mereka berfikir". Mengambil hikmah dari semua kejadian masa lalu untuk mempersiapkan masa depan.

Bagi seorang Muslim, sebagaimana tuntunan al-Qur'an, membaca sejarah adalah sebuah keniscaan bahkan kewajiban bagi para pemimpinnya. Dengan membaca sejarah secara mendalam menjangkau hikmah tersembunyinya adalah bagian dari keseriusan berfikir. Membaca sejarah secara mmendalam akan mengantarkan seseorang menjangkau kemampuan untuk memahami corak peradaban, baik kebangkitan dan keruntuhannya.

Para pemimpin bangsa dituntut untuk membaca sejarah secara mendalam agar mereka mampu menggapai kesempurnaan peradaban yang menjulang sebagaimana disyairkan Syed Naquib Alattas; Hati hampa yang tiada mengandung Sejarah Bangsa, Tiadakan dapat tahu menilai hidup yang mulia; Penyimpan khabar zaman yang lalu menambah lagi, Pada umurnya umur berulang berkali-ganda.

Sejarah bukanlah sekadar urutan tanggal atau peristiwa masa lalu. Bagi al-Attas, sejarah berfungsi sebagai cermin dan panduan moral agar suatu bangsa memiliki kedewasaan serta mampu menghargai keluhuran hidup. Memahami sejarah ibarat menggandakan umur peradaban; dengannya pengalaman dan hikmah masa lalu menjadi warisan yang memperkaya kehidupan generasi saat ini dan masa depan.


Fiksi Indonesia Bubar

Karena kesamaan metode dalam pembacaan sejarah ini, maka kami tidak terlalu kaget, ketika dalam sebuah seminar di Universitas Indonesia pada 18 September 2017, Prabowo dengan bersemangat membahas buku Ghost Fleet, karangan August Cole dan P. W. Singer.

Prabowo menjabarkan Ghost Fleet ini sebetulnya novel tapi ditulis oleh dua ahli strategi dan intelijen Amerika, menggambarkan sebuah skenario perang antara Cina dan Amerika tahun 2030. "Yang menarik dari sini bagi kita hanya satu. Mereka ramalkan tahun 2030 Republik Indonesia sudah tidak ada lagi," kata Prabowo dalam seminar tersebut.

"Di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar!" Kata Prabowo mengingatkan kembali dalam acara konferensi dan temu kader nasional Partai Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Oktober tahun 2017.

Tentu pernyataan Prabowo ini membawa pro dan kontra di tengah masyarakat. Ada yang menganggapnya sebagai gimik politik untuk menyerang lawannya. Namun sebagai pembaca sejarah kami justru menganggapnya sebagai peringatan dini dari seorang patriot bangsa yang tidak ingin negara dan bangsanya bubar.

Kesatuan tujuan inilah yang menjadi titik temu gerakan nasionalis yang dipimpin alm. Djoko Santoso dan almh. Rahmawati Soekarno dengan gerakan ormas Islam yang dipimpin Habib Rizieq Syihab. Yang bermuara pada dukungan Prabowo sebagai calon Presiden pada pilpres 2019.

Pertarungan sengit pilpres 2019, antara Presiden petahana Jokowi dengan Prabowo telah menguras energi bangsa. Tuntutan demi tuntutan, demo demi demo sampai kerusuhan terjadi. Dengan segala suka dan dukanya, Prabowo dinyatakan kalah oleh KPU maupun Mahkamah Konstitusi. Sebagai patriot bangsa, Prabowo memilih mengalah demi keutuhan bangsa Indonesia. Jokowipun dilantik sebagai pemenang pilpres 2019.


Dari Fiksi Menuju Strategi

Paska kemenangan pilpres 2019, kubu Jokowi rupanya tidak puas jika belum merangkul Prabowo. Maka dengan segala strategi, Prabowo diajak bergabung dibawah kepemimpinan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Dan tentu banyak yang terkaget-kaget ketika Prabowo menyatakan bersedia bergabung. Apakah ini strategi untuk menyelamatkan bangsa agar jangan bubar pada 2030 ?

Karena banyak pakar yang beranggapan bahwa kebijakan Jokowi telah memberikan jalan mulus menuju bubarnya Indonesia. Terutama kebijakan-kebijakan yang memuluskan investasi asing yang dianggap sebagai jalan untuk menguasai sumber daya alam dan tentu selanjutnya sebagai sarana menguaasai bangsa dan negara.

Prabowo sebagai pembaca sejarah, mempunyai keyakinan yang sama. Itulah sebabnya ketika debat capres putaran kedua pada februari 2019 Prabowo masuk dengan membawa Why Nasions Fail karya Daron Acemoglu dan James Robinson.

Buku ini menyimpulkan tesis Acemoglu dan Robinson bahwa negara-negara tidak gagal karena miskin atau karena kutukan geografis. Mereka gagal karena sistem politiknya dirancang untuk menguntungkan segelintir orang (oligarki) sementara mayoritas hanya menjadi bahan bakar mesin yang tidak pernah mereka kendalikan.

Para pakar strategi politik menyimpulkan bahwa Prabowo membawa buku itu bukan hanya untuk menyerang lawan politiknya. Dalam hal ini tentu lawannya dalam pilpres 2019, yaitu Jokowi. Tapi juga sebagai peringatan kepada dirinya sendiri. Negara sebesar Indonesia, dengan kekayaan yang belum sepenuhnya disentuh, masih sangat mungkin untuk gagal. Dan bahwa kegagalan datang perlahan, melalui keputusan-keputusan kecil yang masing-masing terlihat masuk akal pada saat diputuskan para politik. Yang secara tidak sadar akan membawa kegagalan dan bubarnya sebuah negara.

Inilah rupanya pertimbangan utama Prabowo mau bergabung dengan Jokowi. Bukan karena jabatan semata, tapi memang ada strategi yang lebih penting dari sekedar jabatan Menteri. Berdasarkan kepada pembacaannya kepada sejarah peradaban tentunya.

Paska kekalahan Prabowo dalam Pilpres 2019 yang dramatis itu, kami, alm. Djoksan dan lain-lainnya masih sering berkumpul dan berdiskusi. Termasuk mendiskusikan keputusan Prabowo yang masuk dalam barisan Jokowi. Dalam hal ini ada beberapa pendapat yang mengemuka, diantaranya adalah masalah strategi tadi.

Prabowo sebagai pembaca sejarah telah memprediksi bahwa Jokowi memiliki potensi besar untuk mengantarkan Indonesia bubar. Maka untuk menjaga keutuhan Indonesia agar jangan bubar, secara strategi harus ada kekuatan di dalam pemerintahan yang berusaha mencegah langkah-langkah ini agar bangsa Indonesia tetap tegak.

Kitapun melihat bagaimana perjuangan Prabowo bertahan sepanjang 2019 sampai pilpres 2024. Dan kembali diuji strateginya menjelang pilpres 2024 yang akan memastikan kemenangannya. Dan pilihan kontraversi itupun harus diambilnya dengan memilih wakilnya dari kalangan Jokowi, yaitu Gibran.

Sebagai pendukung setia Prabowo, kamipun penuh kesangsian dengan keputusan yang diambil oleh sang pembaca sejarah ini. Sekali lagi Prabowo membuktikan dirinya sebagai seorang pembaca sejarah yang handal. Kemenangan hanya akan diperoleh jika mendapat dukungan padu dari Presiden dan jajarannya yang tengah berkuasa. Dengan segala resiko, Prabowo menerima Gibran dengan konsesi dukungan penuh Jokowi. Dan dengan segala kontraversinya, Prabowo terpilih sebagai Presiden ke 8 Indonesia.


Sejarah Sebagai Soko Guru

Keyakinan Prabowo bahwa sejarah sebagai sumber referensi dan soko guru kehidupannya terjawab tegas dalam forum “Presiden Prabowo Menjawab,” pada pertengahan Maret 2026 lalu: “Kebetulan saya ini juga suka baca sejarah dan juga latar belakang saya sebagai prajurit, sebagai perwira mendorong saya terus belajar sejarah. Dan di situ saya lihat common denominator masalah yang azazi selalu adalah pangan.”

Itulah jawaban Prabowo atas pertanyaan tentang dasar keyakinannya terhadap strategi ketahanan pangan yang selalu menjadi prioritas yang diperjuangkannya selama ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Prabowo tidak mengutip pendapat para pakar dunia, bukan pula hasil kajian IMF, bukan juga merujuk kepada Bank Dunia ataupun lembaga-lembaga lainnya. Namun Prabowo kembali kepada soko gurunya, kembali kepada pembacaan mendalamnya terhadap sejarah. Dalam membaca sejarah secara mendalam, maka kita akan menemukan pola berulang-ulang atau yang biasa disebut common denominator. Sebuah peristiwa yang selalu berulang sepanjang peradaban manusia.

Sejarah telah mengajarkan dan sekaligus membuktikan bahwa perang pertama antar manusia terjadi tentang perebutan sumber-sumber makanan. Tanah-tanah yang subur ataupun sungai-sungai yang mengairi tanah pertanian. Ya, perang pertama manusia di muka bumi bukan tentang ideologi, bukan tentang perbatasan, bukan tentang agama. Perang pertama adalah tentang makanan. Tentang lembah yang lebih subur. Tentang sumber air yang lebih deras. Tentang siapa yang menguasai apa yang membuat manusia lain bisa bertahan hidup.

Bagi Prabowo yang terlahir dalam tradisi Nusantara dan mengabdi sebagai tentara, namun memiliki kebijaksanaan pamungkas dalam kemampuan membaca sejarah peradaban manusia, adalah karunia besar bagi bangsa Indonesia. Sebagaimana disebut Syed al-Attas terdahulu, seorang yang telah mampu membaca sejarah dengan mendalam dan memiliki kebijaksanaan (hikmah) dalam mengaktualisasikannya dalam masyarakatnya.

Disinilah kekhususan pemahaman mendalam Prabowo terhadap pola sejarah peradaban manusia sejak ribuan tahun itu, kemudian kemampuannya untuk menterjemahkan dan mengaktualisasikan pola sejarah tersebut untuk kemakmuran Indonesia masa depan. Dengan menarik garis lurus masa lalu ke masa kini untuk kemajuan di masa depan.

Demikian pula halnya, ketika Prabowo menulis tentang "Paradoks Indonesia" ataupun menjabarkan "Prabowonomics" dan kebijakan-kebijakan lainnya, termasuk MBG, KopDes Merah Putih, Satgas PKH sampai Danantara, kita yakin sepenuhnya Prabowo sedang mengaktualisasikan pembacaannya terhadap sejarah peradaban umat manusia. Semua program dan kebijakannya seakan bermuara kepada satu pola yang disebutnya sebagai common denominator dalam sejarah peradaban umat manusia. Baginya masalah utama manusia sepanjang sejarahnya adalah masalah ketahanan pangan.

Apalagi kini teknologi telah membuat dunia semakin kecil ibarat sebuah kampung tulis Neisbitt, yang saling terhubung satu sama lainnya dengan mudah. Akibatnya tentu kerentanan terhadap perang atas sumber daya tidak akan berkurang, tapi justru semakin besar. Seperti perang di Iran dan Selat Khormuz, justru mempengaruhi keamanan dan sumber daya. Tidak diragukan bahwa krisis di sudut bumi Timur Tengah, justru bisa mengguncang sumber daya di Eropa.

Sebagai kesimpulan, benarlah yang dikatakan seorang peneliti, Prabowo Subianto, dengan segala kompleksitas dan kontroversi yang melekat pada namanya, dia adalah salah satu pemimpin Indonesia yang menggunakan kompas pembacaan sejarah ini dengan serius. Ketika dunia sedang ramai membicarakan artificial intelligence, disruption, dan geopolitik baru, Prabowo dengan pembacaannya terhadap sejarah, langsung kembali ke pertanyaan yang paling purba: apakah rakyatnya akan makan besok? Apakah energinya cukup untuk musim dingin berikutnya? Apakah bangsanya tahu apa yang akan datang, sebelum yang datang itu terlambat untuk dihindari? Sementara dunia hari ini bergulat dengan perang Rusia-Ukraina, konflik Gaza, dan kini kobaran perang Iran yang menutup Selat Hormuz, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan dua dekade lalu tentang ketahanan pangan dan energi terasa bukan lagi seperti kekhawatiran seorang jenderal yang terlalu waspada, melainkan seperti cetak biru yang seharusnya sudah lama kita pegang.

Pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari seorang presiden yang suka membaca sejarah dengan mendalam, bahwa dalam dunia yang bergerak terlalu cepat untuk dipahami hanya dengan data hari ini, membaca sejarah dengan sungguh-sungguh masih merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang paling langka, dan paling berharga. 

Penulis: Dr. Hilmy Bakar Almascaty, DBA (Aktivis Gerakan Islam dan Ketua Umum Yayasan Wakaf Madani Antarabangsa)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI