DIALEKSIS.COM | Aceh Jaya - Universitas Teuku Umar (UTU) menutup rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan XXV Tahun 2026 lewat lokakarya besar di Aula Kantor Camat Panga, Selasa (3/2). Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Potensi Alam dan UMKM Menuju Aceh Jaya yang Sejahtera dan Berkelanjutan” dan tagline “Dari Desa Bangkit, Menuju Aceh Jaya Hebat” itu menampilkan paparan capaian program serta rencana tindak lanjut akademik dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB dihadiri unsur pemerintah daerah dan kampus: perwakilan Bupati Aceh Jaya (diwakili Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, Kemasyarakatan, dan SDM Yenni Elpiana, S.Kep., M.Si.), Camat Panga Mawardi, S.Pd., SD, unsur Muspika, geusyiek gampong, serta jajaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTU dan 148 mahasiswa peserta KKN.
Pembukaan berlangsung khidmat dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa oleh Khairil Hadi, ST., MT., dilanjutkan nyanyian Indonesia Raya yang dipandu moderator Said Fadhlain, S.IP., M.A. Sekretaris LPPM UTU, Heri Darsan, ST., MT., bersama Koordinator Pusat KKN, Dr. Ir. Fitriadi, ST., MT., menegaskan bahwa keberadaan 148 mahasiswa yang ditempatkan di 20 gampong memberi dampak ekonomi yang terukur dan berkelanjutan.
“Laporan lokakarya ini akan menjadi draf lanjutan untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), penulisan skripsi, tesis, hingga artikel ilmiah di jurnal terakreditasi,” kata Heri dalam sambutannya.
Dalam sambutan penutupan yang dibacakan, Yenni Elpiana memberi pengakuan atas kontribusi UTU. Menurutnya, KKN Angkatan XXV merupakan kehadiran masif UTU yang keempat kali di Aceh Jaya, menjangkau hampir seluruh kecamatan.
“Sinergisitas ini sangat istimewa. Kami melihat berbagai UMKM tumbuh di pelosok desa berkat sentuhan sinergi dan kolaborasi ini,” ujarnya.
Lokakarya yang berlangsung sekitar tujuh jam (10.00“15.30 WIB) menampilkan 20 kelompok mahasiswa yang mempresentasikan hasil kerja lapangan dalam lima sesi; tiap sesi berisi empat kelompok. Diskusi dikendalikan moderator Said Fadhlain yang menjaga tempo dan antusiasme peserta dengan memadukan pembahasan substansial dan pendekatan kultural termasuk ice breaking pantun berisi konten lokal Panga yang mendapat sambutan hangat para keuchik.
Said menekankan peran generasi muda sebagai jembatan antara teori kampus dan solusi desa. “Gen Z bukan sekadar generasi digital; mereka adalah penyambung lidah peradaban,” katanya. Pendekatan yang ramah budaya itu membantu menjembatani bahasa akademik dan kebutuhan praktis masyarakat gampong.
Presentasi kelompok menyorot beberapa capaian nyata: pemetaan potensi alam, penguatan rantai nilai UMKM, pelatihan pengemasan dan pemasaran, serta rencana pengembangan produk unggulan desa. Beberapa kelompok juga mengusulkan lanjutan riset yang bisa menjadi materi PKM dan skripsi, dengan target publikasi di jurnal terakreditasi sebagai bagian dari pelaporan akademik.
Penutupan resmi ditandai dengan penandatanganan naskah kerja sama antara pihak kampus dan pengurus gampong, penyerahan sertifikat kepada mahasiswa peserta, serta foto bersama. Momentum ini diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat program pemberdayaan yang menautkan kegiatan pengabdian masyarakat dengan keluaran akademik yang jelas dan terukur.
Para tokoh masyarakat dan pejabat daerah yang hadir menyambut baik agenda tersebut dan mendorong kelanjutan program. Mereka berharap sinergi kampus-pemerintah-masyarakat dapat berlanjut sehingga dampak ekonomi dan kapasitas lokal yang mulai tumbuh dapat dimanfaatkan untuk pembangunan wilayah yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan berakhirnya lokakarya, UTU dan masyarakat Panga sepakat melanjutkan beberapa rencana tindak lanjut: pendampingan UMKM, pengembangan PKM berbasis potensi lokal, serta penelitian terapan yang mengintegrasikan kebutuhan desa ke dalam kurikulum pengabdian. Langkah itu, menurut penyelenggara, penting agar hasil KKN tidak berhenti sebagai laporan semata, melainkan menjadi basis perubahan nyata di tingkat gampong.