Beranda / Berita / Pria Bercelana Pendek di Tempat Umum Marak di Banda Aceh, Begini Respon Kepala Satpol PP dan WH

Pria Bercelana Pendek di Tempat Umum Marak di Banda Aceh, Begini Respon Kepala Satpol PP dan WH

Senin, 15 Mei 2023 23:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Fenomena laki-laki bercelana pendek bahkan telanjang dada semakin marak di Kota Banda Aceh, ini menjadi perhatian serius karena cara berpakaian seperti itu tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Syariat Islam.

Tren berpakaian seperti ini telah menyebar di kalangan anak muda maupun orang dewasa, tanpa rasa malu atau kepedulian terhadap Syariat Islam. Sayangnya, sering kali tidak ada yang berani menegur atau mengkritik perilaku ini, karena takut dianggap tidak memegang teguh prinsip-prinsip Syariat Islam.

Namun, beruntunglah bahwa masih ada individu yang berani mengambil sikap dan bersuara tentang masalah ini. Salah satu tokoh yang memperlihatkan keberaniannya adalah Ustadz Masrul Aidi, Lc, MA. Beliau dengan tegas menyampaikan pandangannya melalui unggahan media sosial di Facebook, dengan mengunggah foto seorang lelaki yang berlari dengan telanjang dada dan mengenakan celana pendek di pusat kota Banda Aceh.

Tindakan ini menunjukkan keberanian Ustadz Masrul Aidi dalam mempertahankan nilai-nilai agama dan menyerukan kembali pentingnya berpakaian yang sesuai dengan prinsip Syariat Islam. 

Dalam postingan yang dihimpun media dialeksis.com, Senin (15/5/2023). Ustadz Masrul Aidi mengaku resah dengan keadaan pemuda saat ini yang tidak mengamalkan nilai-nilai syariat dalam hal ini ketentuan mengenai penggunan pakaian sesuai Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam Bidang Aqidah lbadah dan Syiar saat beraktifitas di tempat umum.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (PIt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, Muhammad Rizal, S.STP, M.Si mengatakan, bahwa pihaknya akan mengambil tindakan tegas jika masih mendapati ada warga yang tidak memakai pakaian sesuai dengan syariat Islam.

Rizal menduga sosialisasi dan pembinaan yang telah dilakukan pihaknya selama ini masih sulit menumbuhkan kesadaran warga, karena tidak adanya sanksi untuk memberikan efek jera.

"Sudah menjadi tabi'at, kalau tidak ada sanksi tidak akan jalan. Padahal itu semua untuk kebaikan mereka di dunia dan akhirat,"katanya.

Keyword:


Editor :
Zulkarnaini

riset-JSI
Komentar Anda