DIALEKSIS.COM | Celoteh Warga - Saya pernah percaya dan sampai sekarang pun masih berusaha percaya bahwa ruang-ruang gerakan kemanusiaan adalah tempat paling aman bagi perempuan dan laki-laki. Tempat di mana pengalaman korban didengar, luka dipahami, dan ketidak adilan dilawan tanpa syarat.
Namun semakin lama saya berada di dalamnya, semakin sering saya menemukan kenyataan yang membuat kecewa.
Kita begitu cepat mengecam pelaku kekerasan seksual. Kita begitu lantang menyerukan boikot, pemecatan, atau sanksi sosial ketika kekerasan fisik terjadi. Dan memang seharusnya begitu. Tetapi ketika kekerasan yang terjadi berbentuk tekanan mental, manipulasi, intimidasi, perundungan, pengucilan, atau penyalahgunaan kuasa yang membuat seseorang mengalami kelelahan emosional dan kehilangan rasa aman, responsnya sering kali berbeda.
Tiba-tiba semuanya menjadi abu-abu. Tiba-tiba muncul banyak alasan.
"Tidak sesederhana itu."
"Kita harus melihat dari berbagai sisi."
"Jangan sampai merusak nama baik organisasi."
"Kita selesaikan secara internal saja."
Padahal dampaknya tidak kalah serius.
Banyak perempuan dan laki-laki tidak hancur karena pukulan. Mereka hancur karena terus-menerus diremehkan, dibungkam, dimanipulasi, atau dibuat merasa bahwa dirinya adalah masalah. Mereka kehilangan kepercayaan diri, mengalami gangguan kesehatan mental, bahkan meninggalkan ruang perjuangan yang selama ini mereka bangun. Yang lebih menyakitkan, pelaku kekerasan psikis sering kali tetap diterima dengan nyaman di lingkungan yang mengaku memperjuangkan keadilan gender.
Tidak ada sanksi sosial.
Tidak ada evaluasi terbuka.
Tidak ada keberanian untuk menyebut bahwa apa yang dilakukan adalah kekerasan.
Seolah-olah kekerasan baru dianggap serius ketika meninggalkan luka yang bisa dilihat mata.
Di sinilah kekecewaan itu muncul. Bukan karena gerakan kemanusiaan tidak pernah berbuat baik. Justru karena gerakan ini telah mengajarkan banyak hal tentang keadilan, keberpihakan, dan keberanian melawan kekerasan.
Karena itulah terasa ironis ketika standar yang diperjuangkan ke luar tidak selalu diterapkan ke dalam. Sulit memahami bagaimana sebuah komunitas bisa sangat progresif ketika mengkritik ketidak adilan di luar, tetapi begitu defensif ketika persoalan serupa terjadi di lingkungannya sendiri.
Kita sering mengatakan bahwa semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan laki-laki harus dilawan. Tetapi kenyataannya, tidak semua bentuk kekerasan mendapatkan respon yang sama. Ada korban yang langsung dipercaya. Ada korban yang diminta bersabar. Ada pelaku yang segera dikutuk. Ada pelaku yang tetap dilindungi karena dianggap penting bagi organisasi, jaringan, atau gerakan. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nasib korban, tetapi juga kredibilitas gerakan itu sendiri.
Gerakan kemanusiaan tidak akan kehilangan kekuatannya karena mengakui kesalahan. Justru ia akan kehilangan kepercayaan ketika menuntut akuntabilitas dari orang lain, tetapi enggan menerapkannya pada dirinya sendiri. Sudah saatnya kita jujur.
Kekerasan psikis adalah kekerasan. Manipulasi adalah kekerasan. Intimidasi adalah kekerasan. Penyalahgunaan kuasa yang membuat perempuan dan laki-laki takut berbicara adalah kekerasan. Dan siapa pun pelakunya, di mana pun ia berada, seharusnya menghadapi standar pertanggung jawaban yang sama.
Karena keadilan tidak diuji saat kita membela korban yang mudah dibela. Keadilan diuji saat kita berani bersikap konsisten, bahkan ketika pelakunya adalah orang-orang yang selama ini berdiri di pihak yang sama dengan kita. [**]
Penulis: Agus Agandi (warga Banda Aceh)