Selasa, 26 Mei 2026
Beranda / Dialog / Wawancara Eksklusif: TRK Siapkan Lompatan Besar Untuk Nagan Raya

Wawancara Eksklusif: TRK Siapkan Lompatan Besar Untuk Nagan Raya

Selasa, 26 Mei 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn
Bupati Nagan Raya Dr. Teuku Raja Keumangan, S.H., M.H. (sering disingkat TRK) 

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 10.45 WIB, Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan atau akrab disapa TRK tiba di Kantor Dialeksis. Ia hadir didampingi Staf Khusus Darlin M Idris dan disambut langsung oleh owner Dialeksis, Aryos Nivada.

Pertemuan yang awalnya berlangsung santai itu kemudian mengalir ke satu isu besar yang kini menarik perhatian publik Aceh terkait rencana investasi jumbo senilai Rp200 triliun di Kabupaten Nagan Raya.

Dalam wawancara eksklusif bersama Dialeksis, TRK berbicara tentang peluang besar Nagan Raya, hilirisasi tembaga, kawasan industri, pelabuhan internasional, pengembangan Bandara Cut Nyak Dhien, hingga tantangan sosial-lingkungan yang harus dijaga dengan serius.

Berikut petikan wawancaranya.

Dialeksis: Publik sedang ramai membicarakan rencana investasi Rp200 triliun di Nagan Raya. Sejauh mana sebenarnya rencana ini berjalan?

TRK: Kita sedang menyiapkan Nagan Raya untuk lompatan besar. Rencana investasi ini memang sudah menjadi perhatian publik karena nilainya besar dan sektornya strategis. Arahnya bukan sekadar proyek fisik, tetapi membangun fondasi ekonomi baru di wilayah barat selatan Aceh.

Namun, saya ingin tegaskan, semua harus berjalan hati-hati. Ini masih dalam proses penjajakan dan pematangan. Pemerintah daerah tentu harus memastikan semua aspek terpenuhi, mulai dari regulasi, kesiapan lahan, infrastruktur, lingkungan, hingga manfaat langsung bagi masyarakat.

Dialeksis: Investasi itu disebut mencakup pengolahan tembaga, kawasan industri, pelabuhan internasional, dan pengembangan bandara. Apa yang ingin dicapai Nagan Raya?

TRK: Kita tidak ingin Nagan Raya hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah. Kalau sumber daya kita keluar begitu saja tanpa nilai tambah, masyarakat hanya jadi penonton. Karena itu, kata kuncinya adalah hilirisasi.

Jika tembaga atau sumber daya lain dikelola, maka nilai tambahnya harus tinggal di Aceh. Harus ada industri pengolahan, kawasan industri, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi lokal. Itu yang sedang kita dorong.

Dialeksis: Ada angka serapan kerja hingga 80.000 orang. Apakah ini realistis?

TRK: Angka itu adalah proyeksi besar jika seluruh ekosistem investasi berjalan. Bukan hanya pekerja di satu pabrik, tetapi juga tenaga kerja di kawasan industri, pelabuhan, logistik, konstruksi, jasa, UMKM, transportasi, dan sektor pendukung lainnya.

Tentu kita tidak ingin angka itu hanya menjadi klaim. Pemerintah harus mengawalnya dengan perencanaan yang benar. Yang paling penting, masyarakat lokal harus menjadi penerima manfaat pertama.

Dialeksis: Apa maksudnya masyarakat lokal harus menjadi penerima manfaat pertama?

TRK: Artinya, warga Nagan Raya dan Aceh tidak boleh hanya melihat proyek besar berdiri di tanah mereka, tetapi tidak mendapat tempat di dalamnya. Mereka harus disiapkan, dilatih, dan diprioritaskan.

Saya juga tidak ingin ada praktik calo tenaga kerja. Rekrutmen harus bersih, terbuka, dan berpihak kepada masyarakat lokal. Kalau investasi besar masuk, manfaatnya harus terasa di rumah-rumah warga, bukan hanya di laporan perusahaan.

Dialeksis: Nagan Raya memiliki wilayah luas, tetapi angka kemiskinan masih cukup tinggi. Apakah investasi ini menjadi jalan keluar?

TRK: Nagan Raya punya potensi besar. Wilayah kita luas, posisi strategis, dan punya peluang menjadi pusat pertumbuhan baru. Tetapi kita juga harus jujur, struktur ekonomi kita belum kuat sebagai daerah industri.

Karena itu, investasi besar harus diarahkan untuk mengubah struktur ekonomi. Bukan hanya membangun proyek, tetapi membuka lapangan kerja, menurunkan kemiskinan, memperkuat UMKM, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dialeksis: Infrastruktur menjadi salah satu tantangan. Bagaimana dengan Bandara Cut Nyak Dhien?

TRK: Bandara Cut Nyak Dhien sangat penting. Kalau kita bicara investasi besar, maka konektivitas harus diperkuat. Saat ini kapasitas bandara masih terbatas. Karena itu, pengembangan landasan pacu menjadi kebutuhan strategis.

Kita mendorong agar runway dapat diperpanjang hingga sekitar 2.400 sampai 2.600 meter. Ini bukan semata proyek bandara, tetapi pintu masuk logistik, investor, barang, dan mobilitas masyarakat barat selatan Aceh.

Dialeksis: Selain bandara, bagaimana dengan rencana pelabuhan internasional?

TRK: Pelabuhan menjadi bagian penting dari ekosistem industri. Kalau kawasan industri dibangun, maka pelabuhan harus siap. Kita tidak bisa bicara hilirisasi dan ekspor kalau jalur logistiknya mahal dan lambat.

Tujuan kita adalah menurunkan biaya ekonomi. Dengan pelabuhan yang kuat, produk dari Nagan Raya dan kawasan barat selatan Aceh bisa lebih kompetitif.

Dialeksis: Ada kekhawatiran publik terkait lingkungan, terutama karena kawasan Beutong Ateuh Banggalang sering disebut dalam konteks eksplorasi. Bagaimana sikap pemerintah daerah?

TRK: Saya memahami kekhawatiran masyarakat. Pemerintah daerah tidak boleh menutup mata terhadap suara warga. Prinsip kami jelas, tidak boleh ada kegiatan tanpa izin resmi dan tanpa kepastian hukum.

Lingkungan hidup, sumber air, dan keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian utama. Investasi tidak boleh mengorbankan masyarakat. Kalau ada kegiatan yang tidak sesuai aturan, tentu pemerintah daerah harus bersikap.

Dialeksis: Di masa lalu, isu tambang di Beutong Ateuh menimbulkan penolakan dan bahkan ada putusan hukum terkait izin PT EMM. Apakah pengalaman itu menjadi pelajaran?

TRK: Tentu. Setiap pengalaman harus menjadi pelajaran. Pembangunan tidak boleh mengulang kesalahan lama. Pemerintah, investor, dan masyarakat harus duduk dalam ruang yang jelas, terbuka, dan berdasarkan aturan.

Investasi besar hanya bisa berjalan jika punya legitimasi. Bukan hanya legal secara administrasi, tetapi juga diterima secara sosial. Kalau masyarakat merasa diabaikan, maka proyek sebesar apa pun akan menghadapi masalah.

Dialeksis: Apakah pemerintah siap membuka komunikasi dengan masyarakat sipil dan warga terdampak?

TRK: Harus siap. Tidak boleh ada pembangunan yang berjalan dengan menutup ruang dialog. Pemerintah daerah harus mendengar. Investor juga harus paham bahwa mereka datang ke daerah yang punya sejarah, punya masyarakat, dan punya ekosistem yang harus dihormati.

Kita ingin investasi yang sehat. Investasi yang membawa manfaat, bukan yang meninggalkan masalah.

Dialeksis: Apa jaminan agar investasi ini tidak hanya menjadi headline besar?

TRK: Jaminannya ada pada keseriusan kita mengawal proses. Jangan hanya melihat angka Rp200 triliun. Yang lebih penting adalah izin yang jelas, perencanaan matang, manfaat untuk warga, perlindungan lingkungan, dan kesiapan infrastruktur.

Kalau semua itu dijaga, investasi ini bisa menjadi tonggak sejarah bagi Nagan Raya dan Aceh. Tetapi kalau tidak, ia hanya akan menjadi wacana besar yang cepat hilang dari ruang publik.

Dialeksis: Apa pesan utama TRK kepada masyarakat Nagan Raya?

TRK: Saya ingin masyarakat melihat ini sebagai peluang, tetapi juga tetap kritis. Pemerintah daerah akan berupaya agar Nagan Raya tidak tertinggal. Kita ingin daerah ini menjadi pusat pertumbuhan baru di Aceh.

Namun, pembangunan harus berjalan dengan akal sehat. Ekonomi harus tumbuh, rakyat harus sejahtera, dan lingkungan harus tetap terjaga. Itu komitmen yang harus kita pegang bersama

Wawancara ini memperlihatkan Nagan Raya sedang berada di persimpangan penting. Disatu sisi, daerah itu menyimpan harapan besar untuk menjadi pusat industri baru Aceh.

Disisi lain, ada kewajiban besar untuk memastikan investasi tidak menyingkirkan masyarakat, tidak mengulang sengketa lama, dan tidak merusak lingkungan yang menjadi penyangga hidup warga.

Bagi TRK, investasi Rp200 triliun bukan sekadar angka fantastis. Ia adalah ujian tentang bagaimana pembangunan besar dapat benar-benar berpihak kepada rakyat.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI