Beranda / Berita / Dunia / 9 Negara Ini Punya 13 Ribu Senjata Nuklir Siap Ledak

9 Negara Ini Punya 13 Ribu Senjata Nuklir Siap Ledak

Selasa, 29 Juni 2021 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Sebanyak sembilan negara di dunia dilaporkan telah menginvestasikan sekitar US$ 1,4 miliar atau setara Rp 20 triliun untuk pengembangan senjata nuklir mereka di 2020

Dalam rilis terbaru yang dimuat International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN), sembilan negara itu adalah Amerika Serikat (AS), Israel, Rusia, Inggris, Prancis, China, Pakistan, India, dan Korea Utara (Korut).

Secara keseluruhan, mulai dari awal pengembangan, sembilan negara tersebut memiliki senjata nuklir yang bernilai total US$ 72 miliar atau setara Rp 1.042 triliun

"Sementara tempat tidur rumah sakit penuh dengan pasien, dokter dan perawat bekerja berjam-jam dan persediaan medis dasar langka, sembilan negara menemukan mereka memiliki lebih dari US$ 72 miliar untuk senjata pemusnah massal mereka," tegas laporan itu, dikutip dari Economic Times, Selasa (29/6/2021).

Dari jumlah itu, AS menyumbang lebih dari setengah dari jumlah total gabungan yaitu US$ 37,4 miliar. Angka ini adalah 5% dari total pengeluaran militernya tahun lalu.

Selanjutnya, ICAN memperkirakan China telah menghabiskan sekitar US$10 miliar. Lalu Rusia US$ 8 miliar.

Sementara itu,Inggris, Prancis, India, Israel, Pakistan dan Korut, menghabiskan lebih dari US$ 137 ribu setiap menit pada tahun 2020 untuk pengembangan senjata nuklir.

Tak hanya dari ICAN, laporan mengenai perkembangan nuklir dunia juga dirilis oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Dalam laporannya disebutkan bahwa ada 13.080 lebih senjata nuklir yang dimiliki kesembilan negara itu di 2021 ini.

Dari jumlah itu, 2 ribu ada dalam posisi aktif. Mayoritas dipegang AS dan Rusia.

"Sekitar 2000 di antaranya hampir semuanya milik Rusia atau AS tetap dalam status siaga operasional tinggi," tulis laporan mereka.

Lebih lanjut, SIPRI juga menyebut bahwa dunia sangat bergantung pada kesepakatan nuklir START antara AS dan Rusia bila tidak menginginkan perang nuklir yang berbahaya.

"Perpanjangan menit-menit terakhir START Baru oleh Rusia dan AS pada Februari tahun ini melegakan, tetapi prospek untuk kontrol senjata nuklir bilateral tambahan antara negara adidaya nuklir tetap buruk," sebut peneliti SIPRI, Hans M. Kristensen

"Baik Rusia dan AS tampaknya meningkatkan pentingnya mereka mengaitkan senjata nuklir dalam strategi keamanan nasional mereka."

Sementara itu untuk Korut, Negeri pimpinan Kim Jong Un itu terus meningkatkan program nuklir militernya sebagai elemen sentral dari strategi keamanan nasionalnya, terutama untuk misil jarak jauh.

"Mereka melanjutkan produksi bahan peledak serta pengembangan rudal balistik jarak pendek dan jarak jauh," tulis laporan itu.[CNBC Indonesia]

Keyword:


Editor :
M. Agam Khalilullah

riset-JSI
Komentar Anda