DIALEKSIS.COM | Internasional - Konstelasi politik global seputar konflik Eropa Timur memasuki babak baru yang mengejutkan. Untuk pertama kalinya, dua tokoh utama dunia yang kerap berseberangan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menunjukkan titik temu pandangan yakni keduanya menghendaki agar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky turun dari takhta kepemimpinannya.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam pernyataannya kepada media Rusia, RIA Novosti, pada Senin (12/10/2026), secara terbuka mengutarakan bahwa Ukraina saat ini membutuhkan sosok pemimpin baru. Pemimpin tersebut, kata Peskov, haruslah individu yang memiliki kemauan politik (political will) yang kuat untuk mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Rusia.
"Presiden Ukraina harus mengambil keputusan yang sangat bertanggung jawab dan sangat sulit untuk menghentikan perang ini. Entah Zelensky memikul tanggung jawab ini dan menunjukkan kemauan politik tersebut, atau tidak. Namun sejauh ini, ia gagal melakukannya," tegas Peskov.
Pernyataan dari istana kepresidenan Rusia ini nyatanya beresonansi kuat dengan sikap politik yang belakangan ditunjukkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Sebagai sekutu utama Kyiv, AS di bawah komando Trump kini justru meningkatkan tekanan terhadap Zelensky.
Menurut Peskov, Trump meyakini bahwa sudah saatnya bagi rakyat Ukraina untuk menyelenggarakan pemilihan umum baru dan memilih pemimpin yang berbeda untuk menyelesaikan perang. Desakan dari Trump ini bukan tanpa alasan, mengingat masa jabatan kepresidenan Zelensky secara konstitusional sebenarnya telah berakhir lebih dari dua tahun lalu.
Sebagai informasi tambahan yang menguatkan eskalasi politik ini, masa jabatan lima tahun Zelensky sejatinya telah usai pada Mei 2024 lalu. Namun, konstitusi Ukraina dan pemberlakuan status darurat militer (martial law) akibat invasi Rusia melarang penyelenggaraan pemilihan umum selama masa perang. Hal ini membuat status legitimasi Zelensky kerap dijadikan amunisi politik, baik oleh Moskow maupun oleh sayap konservatif di Washington.
Kritik Trump terhadap Zelensky juga bukan hal baru. Jauh sebelum tensi politik ini mengemuka, Trump berulang kali mengkritik besarnya aliran dana bantuan militer AS ke Ukraina dan sesumbar dapat mengakhiri perang dalam waktu 24 jam. Trump kerap memposisikan perlunya negosiasi damai yang pragmatis sebuah langkah yang selama ini ditolak keras oleh Zelensky jika harus mengorbankan integritas wilayah Ukraina.
Adanya konvergensi atau kesamaan kepentingan antara Putin dan Trump ini menjadi sinyalemen krusial. Jika tekanan dari Washington dan Moskow terus menguat, posisi politik Volodymyr Zelensky di Kyiv akan semakin terdesak, yang berpotensi mengubah lanskap penyelesaian perang Rusia-Ukraina secara radikal dalam waktu dekat.