Kamis, 28 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / AS-Iran Kembali Memanas, Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Perang

AS-Iran Kembali Memanas, Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Perang

Kamis, 28 Mei 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Peta Selat Hormuz.  Foto: Google Maps


DIALEKSIS.COM | Dunia - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meninggi di sekitar Selat Hormuz. Jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia itu kembali menjadi panggung adu klaim, serangan militer, dan tarik-menarik diplomasi yang belum menemukan titik temu.

Militer Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran selatan. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters, serangan itu menargetkan operasi drone Iran yang dinilai mengancam pasukan AS dan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Dalam operasi tersebut, militer AS disebut menembak jatuh empat drone serang Iran dan menyerang stasiun kendali darat di Bandar Abbas yang diduga tengah menyiapkan peluncuran drone kelima.

Washington menyebut tindakan itu sebagai langkah “terukur” dan “murni defensif” untuk mempertahankan gencatan senjata rapuh antara kedua negara. Namun bagi Teheran, serangan itu dibaca sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan penghentian tembak yang telah berlangsung sejak awal April.

Dari pihak Iran, kantor berita Tasnim melaporkan versi berbeda. Sumber militer Iran menyebut Angkatan Laut Garda Revolusi menembakkan peringatan ke arah sebuah kapal tanker minyak AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Kapal itu disebut dipaksa berbalik. Setelah insiden tersebut, menurut versi Iran, militer AS menyerang area terbuka di sekitar Bandar Abbas tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan berarti.

Situasi makin keruh setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa empat kapal lain juga mencoba melintasi selat tersebut pada Kamis pagi, 28 Mei 2026, tetapi dipulangkan setelah mendapat tembakan peringatan. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Di tengah panasnya situasi militer, Presiden AS Donald Trump menepis laporan televisi pemerintah Iran yang menyebut adanya draf kesepakatan tidak resmi untuk memulihkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Laporan itu menyebut Iran dan Oman akan mengelola lalu lintas pelayaran bersama, sementara AS diminta mencabut blokade pelabuhan Iran dan menarik kekuatan militernya dari sekitar kawasan tersebut.

Trump menolak keras gagasan satu negara atau pihak tertentu mengendalikan Selat Hormuz. Ia menyatakan jalur itu merupakan perairan internasional dan harus tetap terbuka bagi pelayaran global. Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump bahkan melontarkan pernyataan keras terhadap Oman bila negara itu dianggap tidak sejalan dengan posisi Washington.

Pernyataan Trump dan serangan terbaru AS menunjukkan jarak negosiasi kedua negara masih lebar. Padahal, dalam beberapa hari terakhir, Gedung Putih sempat memberi sinyal bahwa kesepakatan awal untuk mengakhiri perang bisa segera dicapai.

Iran juga tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Ebrahim Azizi, Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, mengatakan retorika Trump tidak akan memaksa Teheran meninggalkan tuntutannya, termasuk hak memperkaya uranium, otoritas atas Selat Hormuz, serta pencabutan sanksi.

Garda Revolusi Iran kemudian mengklaim telah menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat sebagai balasan atas serangan AS di sekitar Bandar Abbas. Menurut laporan IRIB yang dikutip AFP, serangan balasan itu dilakukan pada Kamis pagi, meski lokasi pasti pangkalan yang disasar tidak dijelaskan secara rinci. Kuwait, sekutu AS di kawasan Teluk, juga melaporkan telah merespons serangan rudal dan drone pada pagi yang sama.

Selat Hormuz selama ini menjadi titik paling sensitif dalam konflik AS-Iran. Sebelum perang, jalur tersebut dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di kawasan itu hampir selalu memicu kecemasan pasar energi global.

Serangan terbaru juga langsung memengaruhi harga minyak. Setelah sempat turun sehari sebelumnya, harga minyak kembali melonjak begitu laporan serangan AS dan balasan Iran mencuat. Pasar membaca eskalasi ini sebagai sinyal bahwa jalur energi utama dunia masih berada dalam tekanan besar.

Perang AS-Iran yang telah berlangsung sekitar tiga bulan disebut bermula dari serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Konflik itu telah menewaskan ribuan orang, mengganggu arus pelayaran Teluk, dan mendorong harga energi global bergerak liar.

Kini, medan konflik tidak hanya berada di langit dan daratan Iran. Selat Hormuz menjelma menjadi kartu tawar paling menentukan. Selama kesepakatan politik belum tercapai, setiap drone, kapal tanker, dan tembakan peringatan di perairan itu akan terus mengguncang diplomasi, keamanan kawasan, dan pasar energi dunia.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI