Beranda / Berita / Dunia / Ekonomi Eropa Terpuruk: Inggris, Prancis dan Jerman Lagi di Masa Sulit

Ekonomi Eropa Terpuruk: Inggris, Prancis dan Jerman Lagi di Masa Sulit

Kamis, 20 Oktober 2022 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Landmark di Jerman. [Dok. net]

Pada September 2022 inflasi tahunan Prancis 'hanya' 5,7% (year-on-year/yoy), turun dari bulan sebelumnya sebesar 5,9% (yoy). Inflasi tersebut masih belum jauh dari level tertinggi sejak Juli 1985, yang dicapai pada Juli lalu sebesar 6,1%.

Adapun, kenaikan harga energi juga melandai dari 22,7% menjadi 17,8%. Begitu juga dengan jasa yang kenaikannya melandai dari 3,9% menjadi 3,2%.

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/mtm) terjadi deflasi sebesar 0,5%, berbalik dari inflasi 0,5% (mtm) pada Agustus 2022. Deflasi itu pun lebih besar dari ekspektasi para ekonom yang memproyeksikan deflasi 0,1%.

Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire memang sempat menegaskan bahwa pengendalian inflasi adalah prioritas utama untuk anggaran 2023. Ini diwujudkan dengan menganggarkan 45 miliar euro tahun depan untuk membatasi kenaikan harga gas dan listrik sebesar 15%.

Namun ada yang luput. Ini soal pengendalian harga bahan bakar pangan, dan sektor lainnya.

Inilah akar yang menyebabkan terjadinya pemogokan dan demonstrasi besar-besaran dengan teriakan "inflasi" di Prancis. Perlu diketahui pula, demo besar-besaran selain pegawai kilang minyak, juga sedang terjadi di Prancis sejak Selasa kemarin, melibatkan pekerja dari transportasi, hingga kesehatan.

Ancaman Resesi Jerman Bersama Italia

Ekonomi Jerman diyakini akan jatuh ke jurang resesi tahun depan. Ekonomi terbesar di Eropa yang baru pulih dari pandemi Covid-19, akan kembali menyusut sebagai dampak invasi Rusia ke Ukraina.

Dalam pernyataannya, Menteri Ekonomi Robert Habeck menyebut ekonomi akan berkontrasi alias minus (-) 0,4% di 2021. Inflasi akan menyentuh 7%.

"Krisis energi yang serius," katanya dikutip AFP. "Ini mengancam menjadi krisis ekonomi dan sosial," tegasnya lagi.

Perlu diketahui Jerman sangat bergantung ke pasokan gas Rusia, hingga 55%. Namun kini tersendat karena mahalnya harga dan "pembatasan" yang dilakukan Kremlin.

Untuk melindungi konsumen dan bisnis, pemerintah telah meluncurkan dana 200 miliar euro. Ini untuk menjaga membatasi biaya energi.

Meski demikian, ekonomi ekonomi Jerman masih akan mencatat pertumbuhan 1,4% pada tahun 2022. Apalagi rebound pasca pandemi rempat kejadian di awal tahun.

Selain Jerman, Dana Moneter Internasional (IMF) juga meyakini Italia pun akan bernasib sama. Italia akan berkontraksi 0,2% di 2023.

"Jerman dan Italia akan tergelincir ke dalam resesi tahun depan, menjadi ekonomi maju pertama yang mengalami kontraksi setelah invasi Rusia ke Ukraina," tulis IMF dalam pembaruan World Economic Outlooknya kemarin.

Di kesempatan yang sama, IMF juga menurunkan perkiraannya di 2023 karena negara-negara masih bergulat dengan dampak dari serangan Rusia ke Ukraina, meningkatnya biaya hidup dan penurunan ekonomi. PDB global 2023 menjadi 2,7%, ini turun 0,2 poin dari ekspektasi Juli.

Ini merupakan profil pertumbuhan terlemah sejak 2001. Sementara perkiraan pertumbuhan dunia untuk tahun ini tetap tidak berubah pada 3,2%.(CNBC Indonesia)

Halaman: 1 2 3
Keyword:


Editor :
Akhyar

riset-JSI
Komentar Anda