Senin, 02 November 2026
Beranda / Berita / Dunia / Enam Negara Pelajari Tradisi Ulama Perempuan dan Pesantren di Indonesia

Enam Negara Pelajari Tradisi Ulama Perempuan dan Pesantren di Indonesia

Senin, 02 November 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Menteri Agama Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (2/11/2026) membuka International Short Course 2026: Learning Islam Through Women Ulama, Knowledge, Justice, and Social Transformation in Indonesia. [Foto: Humas Kemenag]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Peran ulama perempuan dan tradisi pesantren dalam perkembangan Islam di Indonesia menjadi perhatian akademisi, peneliti, dosen, dan mahasiswa dari enam negara. Hal ini dikaji melalui International Short Course 2026: Learning Islam Through Women Ulama, Knowledge, Justice, and Social Transformation in Indonesia yang berlangsung pada 2–9 November 2026 di Jakarta dan Cirebon.

Program akademik internasional tersebut dibuka Menteri Agama Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Dalam pidato kuncinya, Nasaruddin mengatakan, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi komunitas akademik internasional untuk memahami perkembangan Islam Indonesia yang tumbuh melalui interaksi antara ajaran agama, budaya lokal, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, dan nilai demokrasi.

"Indonesia merupakan laboratorium hidup bagi perkembangan Islam. Ajaran Islam terus dikaji, dipraktikkan, dan dikembangkan melalui interaksi antara keilmuan agama, budaya lokal, institusi pendidikan, masyarakat sipil, dan nilai-nilai demokrasi," ujar Nasaruddin.

Menurut dia, pesantren memiliki peran penting dalam membangun ekosistem keilmuan Islam, membentuk karakter, melahirkan kepemimpinan komunitas, hingga mendorong transformasi sosial.

Karena itu, kolaborasi perguruan tinggi, pesantren, dan jaringan ulama perempuan dinilai penting untuk menunjukkan bahwa pendidikan tinggi keagamaan tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.

Ketua LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Amelia Fauzia, mengatakan, program ini diikuti 18 peserta terpilih, terdiri dari 14 perempuan dan empat laki-laki dari Aljazair, Maroko, Pakistan, Gambia, Filipina, dan Indonesia.

Selama delapan hari, peserta akan mengikuti kuliah akademik, diskusi interaktif, lokakarya, serta kunjungan lapangan yang melibatkan 13 narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pegiat keadilan gender.

Menurut Amelia, pembelajaran difokuskan pada proses produksi dan penafsiran pengetahuan Islam serta penerapannya dalam kehidupan sosial. Sejumlah isu yang dibahas meliputi keadilan gender, otoritas keagamaan, bina damai, pelestarian lingkungan, dan transformasi sosial.

Program ini juga terhubung dengan proyek riset internasional Religious Gender Justice yang dipimpin Associate Professor Kaja Borchgrevink dari Peace Research Institute Oslo (PRIO), Norwegia.

Selain kegiatan akademik di Jakarta, peserta dijadwalkan mengunjungi Cirebon untuk belajar langsung dari ulama perempuan dan komunitas pesantren. Salah satu agendanya adalah tinggal dan mengikuti aktivitas pendidikan di Pesantren Kebon Jambu.

Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Munhanif, mengatakan, program tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai penguatan peran perempuan di ruang publik keagamaan.

Ia berharap peserta dapat melihat bagaimana pesantren di Indonesia mempertahankan tradisi keilmuan klasik sekaligus mengembangkan komitmen terhadap kesetaraan akses dan keadilan sosial.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi LP2M UIN Jakarta, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Social Trust Fund UIN Jakarta, serta PRIO Norwegia. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI